Tuesday, December 25, 2012

"Setahun"


Kemarin, ketika berada dalam kemacetan sebuah trayek mobil Solo-Yogya atas nama pulang dari kondangan sahabat tercinta, kami berhasil merumuskan  beberapa akhitvitas untuk tahun baru. Memang tak ada yang spesial dari tahun baru, kecuali karena ketidakspesialannya tersebutlah aku kemudian membincangkannya, bahkan menulis post ini. Bagiku pola tahun hanyalah sebuah konstruksi - digunakan untuk mempermudah perhitungan. Setelahnya detik masih berlanjut, bumi terus berputar mengelilingi matahari dan juga berotasi di tempatnya. Karena revolusinya terhadap matahari, karena tiga ratus enam puluh lima seper-empat harinya tersebut, posisi matahari di bagian-bagian bumi tertentu memberi dampak tertentu. Seasons are changing and waves are crashing and stars are falling all for us (The Red Jumpsuit Apparatus - Guardian Angel). Kecuali alasan ilmiah ini, bagiku tahun baru tidak ada spesial-spesialnya. Atau sebenarnya ada? Ya, mungkin ada juga sih..

Yang lucu kan bagaimana orang-orang bisa begitu bahagia ketika tahun baru. Ada banyak kembang api, pesta, dan sebagainya. Seakan rutinitas setahun dilepas, dan bersiap untuk menghadapi tantangan tahun depan yang tak terduga. Hahaha. Ya itu lho, lucu kan? Kelihatan tidak sisi lucunya? Sebuah sistem telah menyergap mereka dalam kungkungan rutinitas, dan negara memberi satu tanggal merah untuk rehat sejenak, setelah itu yuk, cus lagi.. Sebenarnya yang lucu ini siapa? Yang mbikin kita jadi cyborg atau kita yang sudah cyborg?

Nah, dari situ aku kemudian nyeletuk sesuatu dalam mobil. "2013 ya.. sudah tidak 2012 lagi..". Lalu kami berbicang dan merumuskan betapa lucunya kata "setahun", karena beda menit saja sudah beda angka jadi 2013. Lalu karenanya kita melantur tentang aktivitas "setahun" yang mungkin dilakukan. Diantaranya:
1. Tidur setahun - yang biasa kulakukan
2. Membaca setahun - aw, sepertinya keren
3. Menulis setahun - iw, ini lebih keren!
4. Di kamar mandi setahun - istilah yang sudah biasa muncul sebagai konotatif, namun bagus bila direalisasikan
5. Jongkok setahun - tawa pun berderai, lalu muncul yang lebih lagi:
6. Ngupil setahun - (pokerface)
7. Naik gunung setahun - zzz, di musim seperti ini? NO!
8. Makan setahun - well, ini juga istilah konotatif, tapi seru juga bila didenotasikan ya?
9. Mantengin TV setahun - udah biasa beud
10. Berpikir setahun - jadi inget Descartes, "aku berpikir setahun maka aku ada", hakakak
11. Masak setahun
12. Menggambar setahun
13. On line setahun
14. Nyetir setahun
15. Berjalan setahun
16. ............................. - apa lagi ya??

Ya, pasti banyak lagi. Yang paling gak penting adalah bayanganku yang tiba-tiba muncul: ML setahun, soalnya tiba-tiba kepikiran seorang temanku yang jago begituan, hahaha. Bisa jadi hal-hal yang udah kusebutkan tadi memang dilakukan untuk mendapatkan predikat "setahun", terlebih bagi mereka yang selama setahun ini dikungkung dalam sistem yang itu-itu mulu. Ya sudahlah, biarkan saja mereka itu tetap dalam candu ekstasi kehidupan, atau dalam perspektif lain: biarkan sajalah kita (dalam hal ini aku dan yang serupa denganku), tetap terbuai dalam candu keilmuan. Tak ada bedanya, karna hidup adalah candu. Dan lebih dari itu, di benakku terlintas satu lagi aktivitas yang bagus untuk predikat "setahun": `setahun memikirkan aktivitas yang bagus untuk dapat predikat "setahun"`. Hahahaha!

*ditulis dalam kegejean yang sangat di sebuah pagi di rumah yang hangat dengan kuota internet yang keparat*

Saturday, December 08, 2012

Pseudo-selesai


Di suatu siang, atau pagi, atau entahlah, aku juga lupa settingnya, seorang bernama kamu mulai mencampakkanku. Kamu, atau aku yang mencampakkan? Tak begitu penting, karena.. karena.. pada akhirnya kita berpisah juga. Hati kita setuju untuk keduanya saling mencampakkan. Lucu ya, padahal sering dia merasa tiba-tiba menjadi sangat gusar, menjadi sangat gelisah tanpa sebab musabab. Itulah kita dan hati kita. Mereka..... sungguh anomali.....

Seorang kamu, aku ingat betul, berwajah yah, lumayan lah, walau kadang kuperhatikan ada nada aneh di seringaimu, dan sedikit tone kebrengsekan di sana, sedang dengan nada itu berdiri, berbicara dengan yang lain, yang lalu membuat diriku seakan selesai untuk sedemikian kalinya. Apa yang lalu terjadi? Aku lalu berjalan, ya, berjalan saja, menemuimu, dan mendapati dirimu yang sedang berbicara dengan yang lain, yang lalu membuat diriku kembali merasa selesai yang tak selesai-selesai. Kadang aku bertanya, mengapa sebuah kisah selesai menjelma menjadi suatu proses yang tak kunjung berakhir, dan dengannya bukan lagi menjadi sebuah akhir, malah terus mereproduksi diri, terus berlanjut menjadi awal sebuah cerita. Anomali..

Namun apa artinya selesai? Apakah seperti tulisan ini dengan akhir paragrafnya, yang lalu esok disambung kembali dengan cerita lain yang sebenarnya ada dalam sebuah kelinearan utuh sebuah kisah? Kembali lagi itu namanya bukan selesai, karena selalu berlanjut. Jadi apakah selesai itu selalu hanyalah sebuah semu yang mengudara yang memberi jeda bagi jengah sebuah getar? Aku menulis ini seakan bermakna bahwa selesai hanyalah benar berarti selesai bagi mereka yang esensialis, yang sebenarnya semu jua, karena bayang-bayangnya tak kan pernah lepas dari kedirian mereka. Bayang-bayang yang mereka coba selesaikan itu, akan terus menghantui mereka. Meghantui di kala mereka berdiri, di kala mereka menanak nasi, di kala mereka bersepeda, di kala mereka mengaji. Akan selalu menjadi hantu, karena bayang-bayang itu adalah diri mereka. Selesai itu semu, karena tak kan pernah selesai-selesai. Terlihat selesai pun ia tetap ada untuk masa depan sebagai hantu bernama `diri`. Diri yang, kau tahu, sungguh anomali..

Lihatlah, dirimu kali ini berdiri, tinggi dengan bayangan yang besar, seakan ingin mencaplok segalanya. HAP!!! Kau tangkap dengan mulutmu, dan dengan rakus kau gasak semuanya. Ya, SEMUANYA! Lalu kau telan, bulat-bulat, tanpa dikunyah, semuanya. Ya, SEMUANYA! Di situlah letak kebrengsekanmu, tuan.. Di mulutmu itu, yang terlalu lebar dan terlalu manis, hingga semuanya pun mau saja dilahapmu! "HAP!! Lumat kalian dalam perangkap!!", begitu katamu.

Aku juga adalah salah satu korban penelanan massalmu itu. Ah, kau pasti ingat kapan kau pernah menelanku mentah-mentah. Absurd kalau kau tak ingat, karena akulah yang paling sering mau ditelan olehmu. Karena bila tidak demikian, maka akulah yang absurd. Hatiku kan ingin selalu terikat dengan hatimu, jadinya pun aku tunduk saja bila kau sudah mengambil ancang-ancang untuk menelanku. Karena hanya dengan begitu aku dapat begitu dekat dengan hatimu. Karena hanya dengan berada dalam tubuhmu, aku dapat menjadi denyutmu. Aku berada dalam lambungmu, lalu dicerna menjadi sari-sari energi untuk jantungmu, untuk nadimu yang selalu berdenyut, untuk otakmu yang selalu gelisah, dan untuk keutuhan seorang dirimu. Karena dengan begitu aku dapat merasa dirimu. Sungguh dekat dengan dirimu.

Namun sering juga aku menjadi enggan untuk kau caplok lalu kau telan. Aku kan tak ingin berada di lambungmu bersama sampah-sampah itu. Kau selalu saja tak pernah selektif dalam memilih mana yang ingin kau konsumsi. Hobimu hanya main caplok. Jika sudah begini, seringnya aku jadi bingung sendiri, karena denyutmu semakin berjarak dengan denyutku. Berjarak jauh sekali, hingga, pada akhirnya aku menyerah, ketika mulut lebar dan manismu itu kembali berada di hadapanku, tersenyum dan merajuk diriku agar kembali mau ditelan. Aduhai, betapa dirimu juga terlihat begitu berantakan tanpa asupan bernama diriku. Pada akhirnya, aku kembali menjadi denyutmu.

Ah, pangeranku, bisakah kau tidak menelan sampah-sampah itu? Sampah yang selalu memproduksi kesemuan sebuah selesai, dan kesemuan sebuah pencampakkan. Sampah-sampah itu membuatku muak, yang lalu membuatku merasa muak juga dengan tubuhmu, dengan aromamu, dan dengan nada aneh di seringaimu itu..

"I'm the hero of the story don't need to be saved!"
(Regina Spektor)

Wednesday, November 21, 2012

Tiba-tiba Pak Dirman

*dalam gema Facebook yang getol bilang `add X as Close Friend`*
*atas dasar apah aku harus `add X as Close Friend`*
*ngganggu wae! buak lho!*

Pembuka yang sungguh menyakitkan. Namun apa yang tak menyakitkan ketika sudah beberapa saat aku alpha menulis? Seakan ingin mengeluarkan segala resistensi dan akhirnya pun aku melakukannya: tak jenak aku bila menulis harus berarti dirinya. Pemaknaan ulang harus kulakukan. Namun bukan memaknai ulang yang kulakukan. Hanya resistensi. Sebuah perlawanan yang menyudutkan diriku, menjadi jalang, dan melenggang berprinsip baru: `aku emoh nulis`. Segala histori mengerucut pada keengganan menorehkan kata.

Selama beberapa waktu tumpul kata, badanku protes. Tidur berbagi ranjang dengan koran episode dua minggu dan tebaran buku-buku pengantar mimpi, benar-benar membuat diriku tak lantas mengalami indahnya bunga-bunga tidur. Susu super 250mL pun tak berdaya. Badan tetap menghangat dan virus dengan semangat mereproduksi diri. Lemah darah putih tak pula menjadi kuat walau asupan penyempurna sudah kulengkapi. Namun kata tetap tiada. Jadi pun, tubuhku berontak. Alpha kata berujung pada mati jiwa. Mati jiwa berdampak pada kalapnya segala satuan sel: dingin; diriku beku tanpa kata.

Jadi pun kutinjau ulang segalanya. Inginnya demikian. Namun, seperti yang telah kukatakan dalam media yang lain: `lalu kata, biarlah mati menjadi kata`, aku tak jadi meninjau apa pun. Percuma. Karna suatu aturan hanya akan menciptakan pemberontak-pemberontak yang baru. Daripada demikian, aku mulai melupakan aturan. Kemudian hinggaplah aku pada proses yang sejak dulu sudah kulakukan: kedirian. Kembali ke diri. Bebas untuk kembali ke diri. Semakin dekat untuk menjadi sejatinya manusia. Bukan menjadi yang terpecah-belah dan tak mengenal inti. Ah, apa lah, sudah kukatakan kan biarlah ia mati menjadi kata. Maka biarkan saja mati..

Langkahku kemudian tertuju pada Majalah Tempo edisi hari pahlawan. Hanya kebetulan semata, namun kurasa layak lah kubeli. Walau alasan membeli sebenarnya adalah karena kehadiran ambivalensi dalam diri. (Hampir) benci-benci tapi (sangat) rindu. Duh, betapa nasib kuliah dengan dosen yang hobi menghegemoni.. dikit-dikit ambivalen, dikit-dikit ambivalen, ambivalen... kok dikit-dikit... Edisi Hari Pahlawan itu aku baca. Jenderal Soedirman. Tak banyak aku kenal dia, namun aku ingin kenal. Ada sebuah poster, bonusnya. Aku sungguh senang dapat bonus, karena aku memelihara kebocahan dalam diriku. Karna bagiku, tetap memeliharanya berarti mendekatkanku menjadi manusia; nilai-nilai kejujuran dan kemanusiaan tetap ada ketika menjadi bocah - dan apa lagi yang lebih membahagiakan daripada ketika kita menjalani hidup ini dengan penuh kejujuran? Bonus adalah sebuah hal yang Zaki bocah sangat suka. Gift, bonus, prize, present, dan semacamnya, akan memberiku semangat berkobar, semacam senang aku menjadi spesial. Walau hanya poster, dan seluruh pembeli episod memilikinya, aku tetap senang. It's indeed special.. :)

Bonus poster itu tidak (hanya) berisi gambar (tampan nan gagah) Pak Dirman. Awalnya kukira begitu, hingga membuatku membaca artikel pertamanya terlebih dahulu, dan beberapa artikel setelahnya. Pak Dirman muda belia, sosok jebolan PETA, dipilih oleh orang di sekitarnya untuk menjadi pemimpin tentara Indonesia (TKR) pada 1945. Terbukti pemuda memang berandil besar saat itu. Seakan mereka lah pemegang kunci. Berani membandingkan dengan kondisi tentara saat ini di mana senioritas (yang wajarnya ditandai dengan umur) adalah segala-galanya? 29 tahun seorang Soedirman sudah menjadi pemimpin saat itu. Tak ada senioritas. Mungkin karena wacana pemimpin dan tentara saat itu belum begitu kompleks - jadi keputusan 'jernih' bisa diambil.

Maka ialah yang kemudian bergerilya dengan ditandu karna sakitnya ketika agresi militer Belanda II menyerang. 19 Desember saat itu, di mana ia memutuskan melarikan diri dari Yogyakarta, memimpin para tentara dari atas tandu sedang Soekarno+Hatta sudah disekap oleh Belanda - keputusan bergerilya yang sudah bulat. Dan seorang Pak Dirman berjuang dengan satu paru-parunya karena penyakit TBC membuat ia harus merelakan paru-parunya yang lain didisfungsikan.  Ya ampun, sungguh pun itu heroik sekali! Lalu kubuka bonus itu. Cerita tentangnya beradu strategi dengan pemimpin pasukan Belanda. Ada pula cerita singkatnya tentang gerilya yang ia lakukan. Dari tempat satu ke tempat lainnya. Dari gunung satu ke gunung lainnya. Dari kabupaten satu ke kabupaten lainnya. Dari Jogja, Kediri, Pacitan. Sungguh! Orang macam apa ini yang dapat memimpin perang gerilya dalam fisik yang sungguh tak dapat dikatakan sempurna? Orang macam apa ini yang dengan satu paru-parunya dapat mengecoh Belanda sampai 7 bulan? Telak aku takluk. Membaca aksi heroik singkatnya pada bonus poster dan beberapa artikel awal, aku pun berkeputusan: Aku mengidolakan Jenderal ini.

Dan satu lagi. Mengetahui dia dimakamkan di Jogja, telak keputusan selanjutnya kuambil: nyekar ke TMP. Taman Makam Pahlawan Semaki. Berbekal jawaban atas sebuah sms ke seseorang, aku bertekad bulat mengunjungi makam Pak Dirman. Namun long weekend kemarin agaknya hanya untuk paper. Jalan-jalan hati-ku ditunda dulu. Maka pada hari Senin, tidak bisa tidak, walau akan terlihat aneh kalo siang-siang nyekar. Namun berdasarkan pikiran `atas dasar apa keanehan itu dibilang keanehan`, maka setelah makan mie ayam super enak di sekitaran Padmanaba, aku meluncur ke Semaki. Ngeeng..

Hampir kesasar sedikit, akhirnya aku sampai di tempat yang dimaksud. Masuk ke areal kantor, aku daftar sebagai pengunjung. Aku sumpah tak tahu SOP masuk ke kuburan ini, sehingga sedikit bertanya-tanya juga. Namun tulisan `registrasi` yang menyambut di ruang tamu, membantuku meraba-raba apa yang seharusnya kulakukan. Mas penjaga memintaku menulis identitas singkat. Aku lalu bingung ketika akan mengisi kolom `hubungan` (dengan yang dikunjungi). Telak aku jujur menjawab ke masnya: `Aku apanya Pak Dirman, Mas? Bukan siapa-siapanya..` sedang mukaku sudah memerah karena dalam hati aku sudah menjawab: aku pengagumnya. Hahaha. Akhirnya kutuliskan `kerabat` setelah direkomendasikan menuliskan jawaban tersebut. Ahihihi, dalam sehari aja udah jadi kerabat Pak Dirmaaann.. :">

Memasuki areal makam... oke, ini makam.. sepi.. hanya ada kicau-kicau burung.. banyak sekali burung.. Makam Pak Dirman ada di blok A. Blok pertama yang menyambutku adalah blok B. Di tengah-tengah makam, bila memilih tidak lurus ke blok B, namun ke arah kiri, akan dapat dijumpai sebuah pelataran kosong berubin batu hitam - ukurannya sedikit lebih luas dari satu kali lapangan badminton, mungkin digunakan untuk upacara-upacara. Makam-makamnya tersusun rapih, banyak jumlahnya. Aku membayangkan harus mencari satu per-satu nama `Soedirman`, bayanganku sumpah mirip ketika aku baca adegan Harry Potter nyari kuburan bapaknya si James. Duh, nek siji-siji yo angel se cah! Panas eneh! Namun waktu aku berbelok ke kiri, menuju akhir pelataran kosong tadi dan menemui sebuah bangunan kotak berisi relief, untuk kemudian berbelok ke kanan ke arah blok A, dan untuk menuju ke sana aku pun melalui sebuah pendopo kecil berisi beberapa makam terlebih dahulu, aku pun tersadar ketika di situ aku melihat tulisan `alas kaki harap dilepas`.. Ya ampun geblek, Pak Dirman kan orang besar! Gak mungkin beliau dimakamkan di areal yang penuh sesak itu! Tak bakal susah mencari makam orang sekeren Pak Dirman! Dan jelaslah. Kulepas sendalku, dan mencari mana makam Pak Dirman di antara empat makam yang ada di bawah atap pendopo tersebut.

Makam pertama yang menyambut adalah makam Soepeno, tertulis Mentri Pembangunan dan Pemuda  - yang lalu barusan kulihat lagi di Tempo ternyata beliau mentri pas Kabinetnya Pak Hatta. Di sebelah kirinya, ada makam Pak Oerip Soemohardjo - ah, ini tentara didikan Belanda; yang di awalnya aku sedikit sinis, namun setelah kubaca habis artikel yang ada kembali tak jadi sinis. Lalu baru kutemukan nama Soedirman. 29 Januari 1950 dia meninggal. Aduh, sungguh pun mati muda ini namanya. Seorang haibat ini, mengapa juga harus meninggalkan banyak anak yang masih kecil-kecil? aduh, duuuhh...

Aku mengucap salam, lalu duduk, di pinggiran lantai, di dekat kubur Pak Dirman. Dekat, namun tak sejajar dengan nisan. Aku memilih posisi aman: di dekat namanya tertoreh. Aku sendirian, dan.. takut.. Gila aja.. berapa makam ini yang mengepungku? Yang mistis-mistis memang selalu menakutkan bagiku. Lalu kucoba menguatkan diri. Apa yang biasanya orang lakukan ketika nyekar? Kembang, ah, tak kepikiran aku sebelumnya. Menyentuh nisan? Aku sumpah terlalu takut. Jadi pun aku melakukan yang seperti biasa ibu dan aku lakukan di makam bapakku: berdoa. Lirih suaraku mulai muncul, sekalian memperkuat diri. Al-Faatihah, Al-Ikhlas, dkk. (untuk catatan, dkk. ditulis karna isi dkk. tsb. dibaca seenaknya, tidak turut prosedur). Dalam bacaan memperkuat diriku, aku memperhatikan makam Pak Dirman. Sudah benarkah kepala di utara dan kaki di selatan? Sekalian mendengar kicau burung-burung, aku baru tersadar, lho, aku kan di selatan, berarti di sebelah kanan kaki Pak Dirman, tapi kenapa nama di nisannya ada di sebelahku, di selatan? Lalu kutengok makam-makam yang berjibun yang di luar pendopo. Sudah benar, bentuknya merepresentasikan bahwa kepalanya di utara. Selesai doaku, kutengok sebelah utara makam yang di bawah pendopo - ternyata memang namanya ditorehkan di kaki. Idih, apaan sih..

Makam Pak Dirman yang namanya berada di sebelah selatan (juga ke-3 makam lainnya) - tapi kenapah ada simbol matanya ya? :|

Namun belum selesai. Aku melanjutkan dudukku. Apa yang kulakukan? Kali itu aku memutuskan membaca. Membaca beberapa artikel yang belum kuselesaikan dalam majalah Tempo. Aku tak perlu repot-repot mewartakan ke Pak Dirman tujuanku berkunjung ke situ, karna.... aku gak punya tujuan. Suasana sudah mulai cair, tidak semenakutkan seperti di awal. Kicau burung sungguh gemebyar, aku juga (sudah dapat) mendengarkan suara mobil-mobil lalu lalang di luar sana, sepoi-sepoi angin juga membawa suara mas-mas di kantor TMP sedang bercanda, atau ngapa-ngapain. Sunyi dari hiruk pikuk manusia, alami, dan segar angin, dipayungi atap pendopo yang menghalau panas.. kondisi yang begitu ideal untuk membaca dan... berbaring tiduran siang. Hampir saja aku melakukannya, namun akhirnya kuurungkan niat berbaringku. Walau sebenarnya tak ada salahnya tiduran di situ, tapi aku ngeri sama bayangan yang kuciptakan sendiri.

Beberapa artikel terbaca. Aku sempat senyum-senyum bangga sembari menatap nisan Pak Dirman ketika cerita heroik atau pemaparan betapa kerennya beliau kubaca. Sambil menggumam-gumam sendiri tentunya. Memuji beliau. Tiba pada artikel bertajuk `ROMANSA SEORANG PEROKOK BERAT`, aku memutuskan ini artikel terakhir yang kubaca. Atau bila masih ingin akan kulanjutkan beberapa lagi, mengingat artikel yang tersisa masih luar biasa banyaknya. Artikel judul tersebut berisi tentang bagaimana kisah seorang Soedirman bisa mendapatkan Siti Alfiah, istrinya, dan romansa-romansa semacamnya, semisal ternyata Pak Dirman orangnya dendy abis, dan hobi memilihkan baju yang 'bagus' buat istrinya. Sebuah perhatian yang jarang-jarang lho, pria mau ngurusin penampilan pasangannya.. :) Lalu juga diceritakan bagaimana istrinya pernah cemburu karna Soedirman banyak fans-nya. Terus kubaca artikel satu halaman itu, hingga bunyi akhir kalimatnya kudapat: 
"Satu bulan kemudian, tepatnya 22 Agustus 1997, Alfiah meninggal dan dimakamkan di samping pusara Soedirman". 
Serta merta aku menengok ke belakang, dan mendapati satu makam tersisa di belakangku. Ternyata dari tadi aku tidak sendirian... Bergegas aku memasukkan majalah ke dalam ransel hijauku, sebentar menyapa Bu Alfiah, dan pelan-pelat pamit pada Pak Dirman dan istri sambil mengucap salam. Tak perlu ditemani, Pak Dirman sudah punya banyak teman, batinku..

Makam istri Pak Dirman - di sebelah pusara Pak Dirman, yang lalu membuatku merasa tak 'sendirian' lagi di Taman Makam Pahlawan Kusumanegaran itu. Namun mengapa juga ada lambang matanya ya? :|

Saturday, October 13, 2012

Pulang


Kebutaan. Sudah beberapa bulan mata ini buta oleh senja - matahari senja. Matahari senja yang remang berbayang yang membuat gamang. Gamang akan sebuah arti kehilangan. Pijar emas, jingga, atau (bila beruntung) nyala merah-nya yang beradu dengan serbuk violet yang menerpa segenap wujud - membuat segalanya pun berbinar. Berbinar romantis yang mengalir ke dalam hati yang lalu menjadi berdesir. Dan senja pun memenuhi alam bawah sadarku. Luput aku pada ingatan akan yang lebih besar. Luput aku pada sejarah diri yang mencinta yang lebih indah: angkasa. Karna senja pada dasarnya hanyalah sebuah renik darinya. Renik indah yang membutakan. Membutakan hati dan pikiran. Butaku pun bukan tanpa alasan. Kilat hadirnya telak membuat semua makhluk tunduk bergairah untuk memilikinya. Ia terlalu indah, dan terlalu menyakitkan untuk dipuja: singkat hadirnya meremukkan segala harap. Tak kan bisa bila berkeinginan menangkapnya. Tak kan bisa bila berkeinginan memilikinya. Tak kan bisa bila berkeinginan menelannya. Tak kan bisa, karna ia hanya datang sebentar, memenuhi relung hati, dan meninggalkan bekas yang bertahan lama. Tertoreh di sana. Dan bertahan lama.

Namun ia sebenarnya adalah wajah lain angkasa. Aku seharusnya sadar akan ini. Aku seharusnya sadar bahwa angkasa lah yang kupuja. Bahkan sejak dari dulu. Aku tak hanya memuja emas, jingga, merah, violet, atau angin yang berbisik yang mengirinya. Aku juga memuja hitam. Aku memuja biru. Biru berawan, biru terang, biru yang memutih, biru yang memudar, biru yang menghitam. Bahkan abu-abu pun kupuja. Yang lengkap dengan petir mematikan pun kupuja. Yang kedap udara penuh sampah pun kupuja. Aku harusnya sadar, indah senja terlalu sempurna. Sempurna yang semu, dan menjemukan. Karna ketika sadarku menyeruak, rupa-rupanya senja itu, semakin lama semakin renta. Renta hingga ia ditelan oleh malam. Ialah senyata-nyatanya kesemuan.

Dan angkasa itu! Yang selalu ada di sana! Yang selalu kutuju ketika aku terbang melayang ketika harap membayang. Tinggi dan tinggi.. Seperti penuh aku akan gas helium.. Seperti terus aku melambung tinggi.. Menuju angkasa yang juga tak kunjung sampai.. Kulintasi lapis-lapis atmosfer, kukepakkan sayap yang tak pernah lelap mengikuti hiruk pikuk burung yang terbang. Tinggi dan tinggi.. Aku melayang, menjauh dari bumi. Dari diriku. Dan aku pun hilang. Ditelan senja. Senja yang mengangkasa. Senja yang rapuhnya merapuhkan. Hingga saat rentanya memuncak, yang tak kasat mata menahanku, lalu menarikku sekejam-kejamnya. Aku yang melesat jauh ke angkasa serta merta segera melesat kembali ke bawah, dengan kecepatan yang lebih hebat, lebih kuat, karna ia dengan beringas menarikku ke bawah, ia yang tak kenal ampun dan yang tak punya ampun. Ia sang gravitasi bernama realitas yang sungguh tak terendus segala indra. Aku pun terdampar. Berdarah-darah. Namun tak mati. Aku pun terhempas. Remuk redam. Namun tak mati. Dipaksanya aku hidup dengan segala luka dengan darah membanjir. Realitas yang deritanya lebih dari mematikan: karna aku dibuatnya tak mati-mati.

Namun angkasa itu yang kupuja! Yang selalu kutuju! Seakan aku harus pergi ke sana! Angkasa, dan bukan senja!! Walau berkali-kali bentuk senjanya membawaku membumbung tinggi. Walau berkali-kali gravitasi itu mengandaskanku. Walau berkali-kali aku dibuatnya melayang lalu terhempas - melayang dan terhempas - melayang dan dihempaskan - melayang dan kembali ada. Walau sedemikian kali hati ini alpa mengarti, alpa berlogika, alpa menganalisa. Tetap angkasa itu yang akan selalu kutuju. Hingga.. Hingga angkasa pun turut terarik oleh gravitasi, bersama diriku terjun bebas, jatuh ke bumi. Aku, dan angkasa yang kupuja, bersama realitas bersatu padu, pulang - membentuk apa yang kusebut kita. Sebuah rumah di mana aku menjadi diriku sesungguhnya, dan kamu menjadi dirimu sesungguhnya. Sebuah rumah tempatku dan tempatmu menjadi diri seutuhnya. Kita. Aku. Bumi. Kamu. Angkasa. Dan realitas.

terbang
Gravity, release me,
And don't ever hold me down,
Now my feet won't touch the ground..
(Coldplay)

Tuesday, October 02, 2012

Hilang


Seperti ada, namun tiada. Seperti hidup namun mengapung. Berjalan. Berlari. Berjingkrak. Tak ada tanda kehidupan. Tampak di depan mata, namun tak terdeteksi keberadaannya. Mata serta merta kehilangan otoritasnya. Melihat dan hanya melihat. Makna hilang melayang tak sempat tertangkap yang menangkap. Buih kata sangat lirih untuk didengar, sedang bunyinya sungguh pun lantang menggelegar. Namun tak ada tanda kehidupan yang kemudian dapat ditangkap. Tak ada tanda kehidupan yang kemudian mau menangkap.

Melayang. Bersama mereka. Berlari dalam kecepatan yang tak kenal kontemplasi. Menjadi zombie yang tak dapat menangkap makna. Merapal mantra yang terlampau tak berdaya. Mulut berbuih, mata tak punya fokus, hidung melenguh, dan diri merapuh. Pikir melacur, hati membatu. Pikir hancur, hati lebur.

Semuanya hilang.
Semuanya hilang dalam keberadaanku.

Aku merasa hilang.
Aku merasa hilang dalam keberadaanku.

Bertanya klise pun kulakukan:
apa yang kulakukan di sini?
mengapa aku di sini?

"Lord, I don't know which way I am going
Which way the river gonna flow.." [Coldplay]

Saturday, September 08, 2012

Negeri Dongeng


Di dalam negeri dongeng, isi seluruh kamarku mulai hidup. Aku yang baru bangun tidur takjub. Diri yang masih terbaring tiba-tiba menjadi penuh tanya - sekaligus merasakan euforia. Boneka kodok milik temanku berbincang dengan bantal guling kecil berwarna biru muda di sebelahnya. Almari terlihat terkantuk-kantuk, sedang apa yang ada di dalamnya terdengar begitu berisik. Dari rak ke tiga terutama. Penduduknya adalah makanan dan logistik lain. Kemasan 250ml susu UHT mendominasi. Mungkin itulah suara-suara yang tak kunjung diam. Bisingnya layaknya sekumpulan bebek kecil yang mulai berkoloni. Aku tak paham bahasanya. Namun mereka sungguh cerewet. Diandaikan orang jaman dahulu, sebut saja seperti mereka yang memiliki kebiasaan mencari kutu, lalu bergosip ria. Benda lain seperti makanan ringan, kopi dan coklat panas, mengamini almari dan ikut terkantuk-kantuk sedemikian rupa. Rupanya ocehan koloni UHT sudah menjadi nada-nada pengantar tidur untuk mereka.

Riuh canda membahana dari mereka yang ada di dekat kepalaku. Almari pakaian. Suaranya terkesan lebih dewasa daripada yang ada di rak ketiga almari sebelumnya. Mereka seperti sedang mendiskusikan sesuatu. Menariknya, diskusi ini seperti diskusi anak kecil. Seperti orang dewasa yang ditarik keluar dari kepenatan dunia sehari-harinya, berkumpul dalam suasana informal dan berbincang mengenai masa lalu. Satu sama lain saling bersahutan membodoh-bodohkan, lalu tertawa habis-habisan. Keluar dari penat rutinitas. Itulah mereka, sekumpulan pakaian yang beberapa di antaranya belum (tidak) tersetrika. Bunga Edelweis yang tergantung di mulutnya turut tersenyum mendengar ledakan kebahagiaan dari dalam almari. Ia yang selalu menebarkan wangi khas benang sarinya, terlihat begitu anggun dalam senyum yang memperhati. Tas hijau baruku yang kunilai sangat kebesaran memilih berbincang lalu dengan almari, juga dengan boneka gantungan kunci oleh-oleh Apple yang kusayang.

Tas kecil di samping tempat tidurku, bersama penduduk bawah tempat tidur: 3 kardus berisi buku (yang belum juga kubaca), sleeping bag, mattras, artefak koran, seakan semalam melembur nonton sepak bola (walaupun di sini tak ada TV), mereka pun pulas tertidur. Tak ada yang bersuara dalam tidurnya. Bergerak pun tidak. Di kondisi seperti ini, mereka benar-benar merupakan benda mati.

Masyarakat atas meja memiliki aktivitasnya sendiri. Kumpulan bangau lipat yang terkumpul dalam etalase bening mika yang sebulan lalu kubuat, berlatih nada. Seakan ingin bernyanyi. Namun suara dan bahasanya aku tak mengerti. Bunyinya lirih, tapi merdu. Mungkin ratusan jumlah mereka, mengingat setiap hari aku berusaha membuat minimal 5 bangau. Teman-teman semeja mereka terlihat seperti menikmati latihan nada itu. Laptop hitam putihku memejamkan mata, turut menggumam dengan suara yang dilirihkan. Ada juga sebotol sirup merah, mouse, selembar soal yang mengandung kata 'Frankfurt', beberapa makanan ringan (yang tak juga kumakan), dan beberapa alat tulis. Semuanya memperhatikan latihan vokal oleh paduan suara bangau lipat. Warna-warni dari mereka memberikan warna-warni suara yang menenramkan. Sungguh betapa indah terdengar walau hanya berlatih. Apakah mungkin mereka akan menggelar sebuah acara? Seperti acara talk show yang dilanjutkan dengan konser riuh Sheila On 7 yang semalam kuhadiri? Namun satu yang janggal. Tisu paseo memilih untuk tidak menatap pada etalase bening. Perhatiannya tertuju padaku, seakan ingin memulai sebuah kata.

"Ya?", kataku. Namun mulut tak juga berucap. Tisu tersenyum, dan aku menangkap apa yang dia katakan. Bahasa non-lokal, yang membuatku turut tersenyum. "Terima kasih", kali ini mulutku membuka.

Dalam berbaring miringku, aku lalu memejam mata. Dan merasakannya: kasur bersprei warna-warni hangat daun. Ia memelukku lewat selimut belel yang sudah melindungiku semalaman. Semua yang ada di atasnya bersatu padu merangkulku. Hangat, dan seakan berkata, "tak apa, Jeki, kami akan selalu ada untukmu. Tak perlu kau menjadi seorang lain di depan kami. Zona persegi panjang ini adalah yang menerimamu, menerima segala gelisahmu. Kami akan setia di sini, menunggumu kembali dari hari yang memaksamu memakai topeng bahagia itu, lalu dengan senang hati mendekap dirimu yang apa adanya. Tak usah kau berusaha sekuat tenaga untuk tidak. Karna kami di sini tahu betapa beratnya itu". Basah dari mata mengalir. Perlahan kuraih pandanganku. Suara mereka telah pergi. Kembali menjadi yang mati. Walau kuyakin tak ada satu pun yang tak hidup. Dan dengan senyumku yang belum juga redup, aku menarik kembali selimut garis-garisku, kudekap hangat yang erat, seakan ingin membalas rangkulan serupa yang telah mereka sediakan, bahkan sebelum hati ini menjadi begitu lusuh.

Di sebuah negeri dongeng. Aku membayang tempat tidurku adalah penolongku. Perantara Tuhan yang memberi kenyamanan. Bahkan memberi dirimu, yang datang melipur laraku, walau sekali lagi hanya dalam kawasan semu, yang kali ini bernama mimpi. Tidur pun menjadi rutinitas yang kembali kutunggu, karna dengannya aku memiliki peluang untuk dilindungi olehmu.

Sunday, September 02, 2012

SELALU DEMIKIAN


Selalu demikian.

Namun aku selalu tahu.
Aku selalu tahu nada bohong dan nada jujur.
Dan aku selalu menerimanya.
Yang bohong dan yang jujur.

Selalu demikian.

Walau itu menamparku dengan segala kekuatannya.
Menamparku hingga diriku berdarah-darah.
Dan membawaku pada titik terlemah.

Selalu demikian.

Dan aku selalu tahu.
Karna apa yang dirasa hati tak pernah begitu salah.
Karna betapa pun ingin kuingkari, dia tak pernah salah.

Memang selalu demikian.
Selalu melemparku pada tong sampah berlabel keputusasaan.
Dan mencuatkan segala amarah yang tertahan.
Yang menenggelamkanku dalam kegelapan.
Kegelapan yang tanpa tedeng aling-aling: fakta.

Kadang aku sangat membenci realitas.

Selalu demikian.
Memang selalu demikian.

Then, why do you so care?
w h y  d o  y o u  s o  c a r e  ? ?
w  h  y    d  o    y  o  u   s  o    c  a  r  e    ?  ?  ?

Wednesday, August 29, 2012

Perahu Kertas


Novel yang sudah cukup lama kumiliki. 3 tahun lamanya. My first impression was... well, so so. But I meant to change it. So about a week ago, I started rereading it. I started to dig all the messages that I didn't get 3 years ago. Walaupun sebenarnya background yang mendasari adalah karna novel ini akhirnya difilmkan. Mendengar berita tentang pemfilmannya beberapa bulan lalu, sontak diri sedikit (banyak) shock. What's?!? Apaan novel beginian difilmkan? Lalu update-update di Twitter pun menggema, yang tak begitu dengan takjub kuikuti, tidak - sampai account penulis, penerbit, dan filmnya sendiri memasang avatar (foto profil di Twitter) yang sama. Pertanyaannya menjadi lain sejak saat itu. Apa yang salah dengan diriku sehingga mainstream kebanyakan orang yang menyukai Perahu Kertas tak dapat menyentuku? Maka keputusan membaca kembali - sekaligus persiapan sebelum nonton (daripada dihina habis-habisan karna katanya ngefans banget sama Dee, namun tak mengerti betul cerita Perhu Kertas) - kuambil. Tak hanya karya Dee yang ini bahkan. Aku juga bertekad membaca kembali semua seri Supernova (sudah untuk KPBJ). Tak berhubungan dengan film Perahu Kertas mungkin. Namun ini berkaitan erat dengan diriku saat ini, di mana buku lebih banyak mendominasi keinginanku. Aku ingin memaknai kembali semua hal (dalam buku) dengan pola pikirku saat ini (yang mulai mencoba bergelut dan menjadi kekasih buku).

Perahu Kertas pun telah kubabat habis dalam waktu yang dalam kamusku "super cepat" - 14 jam untuk novel 400an halaman dengan font, yang lagi dalam kamusku: menyebalkan. Biografi singkat Rumi pun harus kutunda kuselesaikan, padahal buku berdimensi 'kecil' itu, dengan jumlah halaman yang juga "kecil", seharusnya bisa diselesaikan dalam waktu semalam saja (bila dihitung secara linier). Supernova Partikel, cerita si 'kecil' Zarah pun (entah mengapa Zarah selalu kuanggap kecil, bukan karna sinonim dari partikel, mungkin karna sisi kehilangan ayahnya), berhasil kuselesaikan dalam waktu 4 hari (dengan ejekan frontal dari seseorang tentunya). 14 jam ini hampir menyaingi lamanya pembacaan atas 'Akar'-ku. 12 jam kuhabiskan kala itu. 6 sore hingga menuju 6 pagi bersama Bodhi yang kucinta. Ah, senang sekali aku dapat membaca secepat ini lagi (mengingat Eat, Pray, Love yang kuselesaikan dalam watu setahun - masyaAllah!).

Lalu alhamdulillah, aku dapat menangkap makna - walau belum mendialektika. Makna yang tak kudapat ketika pertama kali aku membacanya. Bila pertama membaca aku sinisnya minta ampun, kali ini aku, dengan hati terbuka (dan benak terbuka tentunya) mulai membacanya. Apa itu maksud 'hati terbuka'? Confession: ketika novel ini baru terbit (2009), aku sedang dalam penantian panjang akan seri terbaru Supernova. Aku sedang sakau dalam candu tertahanku akan Bodhi, yang hanya sedikit saja disentil-sentil di Supernova 'Petir' yang rilisnya sudah bertahun-tahuuun yang lalu (2004 - dan baru kubaca 2007an). Kupikir aku akan mendapatkannya dalam Perahu Kertas. Paling tidak nafas 'penuh pikir'nya. Agaknya harap terlalu tingi ini harus terhempaskan (pastinya). Salah berharap gitu deh. Namun tak hanya itu. Rupanya aku belum mengenal Mbak Dee (lagaknya sekarang udah). Aku hanya menginterpretasikan Dee dengan Supernovanya. Padahal karyanya yang lain masih banyak yang saat itu (saat pertama kali membaca PK) belum kusentuh. Sebut saja Filosofi Kopi (2006), Rectoverso (2008), dan karya di luar literaturnya: lirik lagu yang ia cipta (dan nyanyi)kan. Aku sebagai pembaca sungguh sangat egois. Menghakimi dengan sepihak, tanpa mau memberikan sedikit 'ruang kosong' untuk 'kemungkinan lain'. Pada akhirnya, pembacaan di akhir tahun 2009 itu pun tak memberi 'makna' selain, ah well.. 'kisah picisan' saja.

Kesinisan ini akhirnya mau tak mau harus kuhempaskan. Aku berkata 'mau tak mau' karna aku saat ini mulai memasukkan 'buku' ke dalam daftar 'kata inspiratif'ku. Karnanya aku mulai berprinsip 'ruang kosong', agar dapat menadah segala makna. Kemampuan ini secara otomatis menggiringku untuk memiliki kesadaran akan betapa menyedihkannya diriku (dahulu); lalu mulai "membalas dendam": harus membaca ulang semua!, harus memakna yang baru dengan kesimpulan yang baru. Sebenarnya ini sudah menjadi kebiasaanku. Secara periodik aku akan mengulang membaca; karna kemampuan memakna diriku secara periodik juga berubah - seiring dengan pengetahuanku yang bertambah dan pasti ada serpih makna yang hilang ketika membaca: karna faktor ngantuk di tengah membaca, dll., sehingga tak semua makna yang penulis coba sampaikan dapat kuraih. Dengan demikian membaca ulang akan berdampak pada pengumpulan serpih-serpih yang dalam pembacaan sebelumnya luput tertangkap. Katakalah rekor membaca ulangku tertahan pada "The Alchemist"nya Coelho. 5 kali, dengan makna dan semangat baru yang selalu dapat kutangkap.

Bolehlah dibilang bila saat ini aku sudah mulai bijak dan menerima, bahwa Mbak Dee tak hanya berarti Supernova, apalagi hanya berarti 'Bodhi' (pengakuan lain: aku dulu terlalu maksa bahwa Bodhi adalah tokoh terfavorit Dee - hanya karna aku sangat mengidolakannya). Sebagai yang menamakan dirinya 'pengagum' Dewi Lestari, aku mulai membaca Filosofi Kopi, membaca kembali Madre (2011), dan menyadari bahwa karya besar Supernova hadir karna serpih-serpih karya kecil, dan karya lainnya dalam kehidupan menulis Dee (kukatakan serpih karna Madre dan Filosofi Kopi merupakan kumpulan tulisan berisi puisi dan cerita yang terlalu panjang bila disebut sebagai cerpen dan terlalu pendek sebagai novel). Pemaknaan atas "small is beautiful"ku juga berlaku di sini, tentu. Karna, tak mungkin seorang Dee saat ini, hadir tanpa histori. Tak mungkin Dee yang kita tahu saat ini, hadir tanpa Perahu Kertas "hadir" sebagai karyanya.

Perahu Kertas

Ok, main point: makna. Novel yang mengikutsertakan mainan anak segala generasi tersebut ternyata sarat makna! Dan Tuhan, terima kasih saya telah membacanya kembali! Seperti yang dibilang Dewi dalam kisah penulisannya berjudul "Melajulah Perahu Kertasku...", Kugy dan Keenan, tokoh utama dalam novel ini, "berdiri di dua kutub berlawanan dan pada akhirnya harus bertemu di tengah segala kemustahilan". Titik beratnya berada pada kemustahilan tersebut. Dee menjabarkan kemustahilannya dalam beberapa kisah yang menggemaskan. Bagi kita orang yang berpikiran praktis, memang sungguh mustahil bila akhirnya Keenan dan Kugy dapat bersatu, kecuali tentu, Dee yang memegang kunci. Dia membukakan jalan bagi keduanya untuk bersama (dalam cinta dan cita). Sekali lagi hati menjadi kata kunci utama. Menjadi nafas dalam karya satu ini.

Uniknya, dua tokoh utama yang telah sadar akan kata hati mereka masing-masing, tak serta-merta menurutinya. Hati mereka seolah berlogika lain (paradoks: hati kok berlogika?). Sementara mereka sangat ingin bersatu, dan sudah saling tahu demikian adanya, sementara mereka tiada bisa bersatu dan memutuskan untuk memberi bagi yang lain - bagi dua malaikat terdekat dalam hidup mereka. Hati pun dipilih takdir. Dua malaikat melepas mereka: bila tak sepenuhnya, apa gunanya?

Seperti yang sudah-sudah mengenai cerita cinta - cerita cinta, aku pun merasa ada kemiripan kisah cinta dengan Kugy dan Keenan. Ah, semua orang pasti juga sering menyama-nyamakan kisahnya dengan kisah yang ia baca, atau yang ia tonton di film. Indikasinya pasti karena memang demikianlah kisah cinta: salah harap, penuh harap, terhempaskan. Namun mulai ke bagian tengah novel ini, kita mulai tak bisa menyama-nyamakan lagi. Dee berhasil membuang sensasi 'sama' tersebut. Karena begitu banyak kisah 'salah harap, penuh harap, dan terhempaskan' yang ia tuangkan dalam Perahu Kertas. Walhasil jika di awal kita berteriak "ah, Keenan ini aku banget!!", "ah, cerita mereka berdua ini cerita kami banget, sih!!!", maka kita akan bersiap kecewa ketika cerita mulai menunjukkan kisah cinta berikutnya. And we will realize, "Ok, this story is definitely NOT mine. At all.". Dee berhasil menekankan kepada pembaca bahwa "ini adalah kisah Kugy dan Keenan." (titik).

Derita cinta tentu saja membahana dalam novel ini. Kugy memilih lari, dan paling tidak aku lebih suka dengan kerakternya yang teguh menyimpan rasa untuk satu-satunya partner 'agen Neptunus'nya (walau akhirnya menyerah dengan memilih Remi). Sisi manusiawi seseorang sangat ditekankan oleh Dee di sini, di mana Kugy pun tak mungkin sebegitu kuatnya menahan harap yang kian buram, dan lebih memilih realitas yang tentu akan sangat menghiburnya. Keenan, well, mungkin karna alasan "laki-laki"nya, kurang bisa teguh untuk mempertahankan 'rasa'nya pada Kugy. Ia pun mudah untuk tidak bilang "tidak" pada perempuan yang menurutnya dapat mengambil hatinya - walau tak sepenuhnya. Keenan adalah sosok yang digambarkan terlampau bingung atas orientasi rasanya. Mungkin ini didasarkan pada alasan karena pria lebih logis daripada perempuan. Dee tak serta-merta menuliskan karakter yang sama atas Kugy dan Keenan. Perbedaan karakter ini, singkatnya karna didasarkan pada 'pria dan wanita'. Bukan sexist lho.. Pokoknya aku jadi ingat puisi Gie: "kita begitu berbeda dalam semua, kecuali dalam cinta." Beruntung, Kugy juga memiliki pacar, layaknya Keenan, ketika mereka akhirnya bertemu kembali. Paling tidak Kugy tak perlu sekali lagi mengalami hancur yang membulat rapat.

Namun itulah perjalanan cinta. Seperti pendapat yang sering terdengar ketika curhat: "Ih, kalau saja sudah sama orang lain, dia malah datang. Kemarin-kemarin ke manaaaaa???". Dan realitasnya kadang memaksa manusia untuk memilih yang tak sesuai dengan hatinya, dan lama-lama menjadi sosok pragmatis yang praktis. Bedebah ya? Hahaha. Yang bahagia tetap yang bersumber dari hati. Bila tidak bahagia, ya berarti bukan dari hati. So much easy in theory.

Lalu yang tidak kusadari ketika pertama kali aku membaca novel ini: Kehadiran Dee. Tepat kata bila aku memilih istilah "bodoh" untuk diriku yang itu. Jelas-jelas Dee itu hadir. Dia muncul seperti semua Dee yang ada di Supernova, yang ada di Filosofi Kopi, yang ada di Madre, yang ada di semua karyanya. Itu Dee! (dan ingin rasanya aku menampar diriku yang dulu). Narasinya begitu jelas menggambarkan dirinya. Dee tak pernah tak ada. Ia menjelma menggiring roh-roh muda naif cinta dalam kisah Perahu Kertasnya. Ketika Noni tak tahu tulisan siapa yang selalu dikutip Kugy dalam buku-buku dongengnya, Dee memberi tahu bahwa itu kutipan W. B. Yeats. Ketika Kugy berkata tentang dirinya yang akan meledak seperti petasan karna kegirangan, Dee memberi sinyal pada Luhde untuk merasa dan berkata serupa pada Keenan. Dee juga hadir, sangat jelas, pada kata-kata yang ditulis Kugy untuk Keenan di ucapan kado buku dongengnya. Itu Dee hadir dengan gamblang dan halusnya, namun diriku dulu lebih memilih mengesampingkannya - memilih menikmati ketidaknyamanan genre yang berbeda dengan Supernova. Ah, kelakuan kan..

Dan oke, jelas Dee selalu ingin menantang 'mainstream'; karna idealnya memang harus demikian. Kugy dengan segala karakternya menggambarkan statement tersebut. Keenan dengan segala kemandiriannya berani keluar dari rumah. Dan kisah cinta cita mereka berdua yang sungguh ideal. Cinta mereka disatukan. Mimpi mereka diwujudkan. Dee memaksa tokohnya untuk teguh dalam mendirikan mimpi. Untuk terus mengejar. Seperti kisah-kisah milik Coelho, Perahu Kertas juga berpesan tentang betapa pentingnya meraih mimpi.

Yang terpenting yang dulu dengan tololnya tak kutangkap: "menulis". Tidak hanya "cita-cita biasa" yang Kugy perjuangkan, tetapi cita-cita spesial! Sungguh spesial! Itu tentang mengabar makna!! Tentang bagaimana menulis dongeng begitu penting baginya. Nafas yang selalu meneranginya, selalu membuatnya bergairah dan selalu membuatnya meledak-ledak. Kugy membawa pesan bahwa menulis sangat penting baginya, dan sedikitnya itu menyentakkan lamunku selama ini. Aku memang tak begitu ngefans dengan tokoh ini (mungkin karna Maudy Ayunda, pemerannya yang secara nyata berbeda karakter dengan Kugy - bikin ilfil sumpah), namun aku akan berkiblat yang sama dengannya jika yang ia perjuangkan adalah sesuatu yang berbau menulis. Aku satu aliran dengannya dalam hal itu - bahkan, aku memujanya karenanya.

Bagian lain yang menyenangkan adalah spekulasi-spekulasi Kugy yang dituliskan Dee. Pasti ini yang kata temanku dibilang "beban ala `Freudian`". Apa pun itu, rasanya menyesakkan membaca beban-beban yang digambarkan Dee di sana. Menyesakkan, namun menyenangkan. Baca sendiri sajalah, biar mengerti. :P

Dan untuk film.. Ah, lebih baik tak usah lah novel-novel itu difilmkan. Menikmati film yang diadopsi dari sebuah novel itu susah dilakukan. Yang pertama karna pasti kita akan mencari-cari perbedaan antara novel dan film. Lalu kedua, setelah tahu perbedaannya, seringkali kita merasa kecewa oleh gambaran sutradara. Ketiga, setelah kecewa akhirnya berkomentar negatif. Benar-benar tak ada enjoyment-nya sama sekali. Kita juga menilainya sudah salah sih. Pertama, film itu kan cuma diadopsi, jadi hanya based on the novel aja, so don't ever hope that much - hanya benang merahnya yang sama. Don't ever hope for the detail story. No, don't. Yang kedua, kreatifitas bikin novel dan film itu beda, jadi standard penilaian yang kita pake harus berbeda pula, standard menikmati ceritanya pun harus berbeda. Ketiga, kita segera memulai penilaian sesaat setelah film dimulai. Kemudian selalu menilainya ketika adegan demi adegan berganti. Ya pastilah kita tak akan sanggup memberi komentar positif - kita saja dari awal sudah memutuskan untuk tidak menikmati. Diam dulu. Kosongkan pikiran. Dan nikmati ke(tidak)nikmatan yang tersaji. Pembandingannya ditunda dulu sampai film usai. Maka aku yakin, yang merasa diuntungkan adalah yang otaknya masih kosong: mereka yang belum baca novelnya. Ya, ya, ya..

Sudah lah, segini aja, tak mau aku jika harus membahas yang bikin kecewa-kecewa.. --> korban
Hahaha!!

Anyway, if you still enjoy reading, here I give you the next reading list. It's about the novel that was brought into a movie also - in terms of critiquing. Nice article from my beloved friend. It was published in Koran Tempo in "Ide" section in March this year. Enjoy! :)

Saturday, August 25, 2012

A Wreck Day


Aku sudah berada di Jogja lagi. Bukan tiba-tiba, namun karna sudah dijadwalkan. Tujuan berada di rumah juga tidak berarti pengerukan cinta (dari keluarga) untuk dijadikan sangu beberapa bulan ke depan (berapa ya?). Pulang karna memang untuk menghabiskan sisa Ramadhan dan kemudian ber-Iedul Fitri. Sisa akhir Ramadhanku, alhamdulillah not too bad, altough the life after Ramadhan was a bit a wreck.

One keyword: a wreck. Dan kebetulan kemarin lusa was also totally a wreck. Bila hari setelah Ramadhan aku merasa gersang di mana tak lagi kusentuh mushaf, di mana tak lagi kulakukan rentetan ritual panjang yang biasa kulakukan setelah Isya, atau sebelum Subuh (I feel that I've lost my Ramadhan and although I said I would keep the spirit of Ramadhan in my daily life, it wasn't that easy - aku pun jadi sedikit linglung karna dosis yang tiba-tiba kuhentikan), maka kemarin lusa adalah hari di mana aku merasa dikerjain habis-habisan. Habis-habisan dikerjain. Sama Tuhan.

Istilah kurang ajar, memang. Anggap saja ini adalah istilah salah yang telah kupakai dari sejak lama, sehingga bekas-bekasnya susah untuk dihilangkan. Seperti sakit di tangan yang tak kunjung hilang karna telah kita gunakan untuk mengayunkan tubuh yang berat. Istilah ini sudah hadir sejak lama, di mana seharian emosiku akan terpacu dengan rencana-rencana yang sudah disusun dengan sangat baik namun gagal dilaksanakan karna alasan yang tak dapat dihindari.

Akan lebih mudah bila aku segera bercerita. 23 Agustus, aku kembali ke Jogjakarta. Keberangkatan ini sudah kurencanakan jauh-jauh hari sebelumnya. Katakanlah dua minggu sebelumnya. Sungguh awal, karna pagi di tanggal 24 harinya aku harus menghadiri acara akad nikah dua sahabatku yang akhirnya menjadi pasangan (yey! :D). Rencana sudah kususun serapih mungkin dengan menimbang faktor-faktor sehingga kemungkinan kegagalannya kecil. Aku dengan bangga menyebut diriku sebagai a thoughtful planner. Terkesan perfeksionis memang, namun tujuannya satu: I should be landed on Jogjakarta in a good condition.

Tiket bus sudah dibeli jauh-jauh hari, setiap hari kucek kebenaran tanggal keberangkatannya. Rencananya aku akan naik dari garasi bus, yang artinya aku harus berangkat lebih awal. Mengapa tak naik dari terminal seperti yang seharusnya penumpang lakukan? Karna aku sedang berstrategi. Aku butuh akses di Jogjakarta. Di benakku, aku harus menghidupkan kegiatan bersepeda, walau nantinya aku akan membawa Si Red (motor). Namun untuk mengisi kekosongan sebelum Si Red dikirimkan, aku memutuskan untuk segera membawa Pogo, nama sepeda ijoku. Karna aku pernah melihat bagasi bus malam Handoyo Malang-Yogyakarta besar, aku berspekulasi Pogo bisa masuk bagasi dan terangkut ke Jogja. Rencana B: bila tak bisa ya tak usah, akan dibawa pulang kembali oleh sepupuku.

Aku berangkat jam setengah 3 sore dari rumah. Dibantu seorang sepupu, akhirnya kami sampai di garasi jam 4. Kutemui yang bertanggung jawab, dan nyatanya sepedaku cukup masuk bagasi. Great!. Yang jadi masalah ternyata itu bukan busku. Aku mendapat tiket di bus no.2. Bapak yang bertanggung jawab bilang tak apa, nanti di terminal barangnya dipindah. Good. Aku pun bertemu kondektur bus 2, dan juga sopirnya yang bermuka masam. They didn't like my plan bringing Pogo in their baggage, but their boss said it was ok, so they must say ok - yet it was against their will. Apa pun itu, seberapa masam pun muka kalian, aku harus bekerja sama dengan kalian. Demi Pogoku. Kataku dalam hati. Lalu aku pun turut bersama Pogo pergi ke terminal dengan bus 5 - arah Semarang.

Sesampainya di terminal, kondektur bus 2 pun memindahkan Pogo ke bagasi busnya - aku memindahkan barang yang lain (one box full of books, one heavy backpack for hiking, and one big bag for cloth - pindahan jilid dua ini ceritanya). Maghrib menggema dan aku melaksanakan 3 + 4 rakaat seorang musafir (halah). Setelahnya, aku naik bus dan menempati tempat dudukku, dua terbelakang: no.37. Rasa damai mengguyur, karna akhirnya dapat duduk kembali. Checking tiket dilakukan. Lalu tiba-tiba ada kombinasi bapak anak menghampiriku. Bapaknya berkata "Mbak no. 37?". Jelas aku menjawab "Ya". "Saya juga, ini tiketnya", sembari menyodorkan tiket si bapak berkata. "Oh, mbaknya 37 juga ya?", secara inoccent anak perempuannya ikut menginterogasi. Merasa zona nyamanku (dan Pogo) mulai terserang, aku pun mencari bantuan. It must be mine. Pogo will never leave this bus, I said it to myself. Kulihat ada mbak yang mengabsen tiket. Segera kudatangi.

"Mbak, tabrakan nih tiketnya sama punya bapak ini", aku memulai usahaku mempertahankan kursi. "Oh, iya, mbaknya pindah ke bus 6", dengan santainya mbak tiket menjawab. Whats? Segampang itu dia bilang? Helllooooooooo!!! I got bunch of things! Usahaku sampe bus ini ndak mudaaahhh dan semudah itu kau bilang aku harus pindah bus??. Namun yang keluar dari mulutku: "Lho, mbak, aku udah dapet tiket ini seminggu yang lalu, kok bisa segampang itu dipindah?". Dia menjawab, "Udah, mbaknya sekarang ke loket aja". What the heck. Aku pun ke loket, 50 meter jauhnya dari bus. Berjalan. Dalam luapan emosi.

Kejadian di loket pun tak berdampak apa-apa. Tiketku diambil, ditutup dengan type-ex, nomor bus diganti dengan bus 6 nomor kursi 17. Gila. Protesku tak didengar. Dan salah satu mas crew ticketing `ngadem-ngademin` dengan mengatakan "Iya mbak, yang sabar ya, bapak tadi perjalanannya lebih jauh daripada Mbak, jadi tuker sama punya Mbak. Barang-barang Mbak dipindah ke bus 6 saja". Speechless, atau lebih tepatnya powerless, aku pun menurutinya. Bertemu dengan kondektur bermuka masam, dan mengatakan hal yang terjadi. "Ya, Mbaknya cari crew bus 6 buat mindahin sepedanya". What the heck. Aku gak tahu yang mana! Maka aku pun mencari-cari-cari-cari crew bus 6. Di tengah pencarianku, aku melihat plang Solo-Jogja di bus 6 yang muram. Bukan. Bukan. Ini bus salah. Aku harusnya naik bus arah Jogja-Magelang. Maka kembali aku ke loket. Ditindasnya sekali lagi tiketku dengan type-ex, sekarang jadi Bus 7 no. 7. Shit. JELEK!! Seenaknya gitu ya ngganti-ngganti. Aku udah pesen seminggu yang lalu WOEI!!.

Berjalan kembali ke bus 2. Kali ini sopir dan kondekturnya berkolaborasi menyerangku dengan muka masamnya (asem bener). Sopir dengan nada mengintimidasi berkata, "Mbak, ayo cepet, sepedanya ndang dipindah". "MasyaAllah Pak, saya lagi nyari crew bus 7 Pak", kalo aku bisa buka bagasi bus 7, udah kupindah sendiri kalik, Pak!, jawab emosiku secara lahir dan bathin. Bila diteruskan, yakin aku akan meledak di situ. Mataku sudah berkerut-kerut. Breath. Inhale. Exhale. Damn. Dan sang kondektur pun sudah mengeluarkan Pogoku di samping bus, lengkap dengan muka penuh kerutnya. Lalu malaikatku datang: Crew bus 7 dan mas ticketing yang tadi "ngadem-ngademin" di loket. Dibantunya aku memindahkan barang bawaan ke bagasi 7. Pogo termasuk salah satunya.

The next unintended plan appeared. Bus 7 ternyata merupakan additional bus. Busnya lama dan terlihat semuram bus 6, walaupun catnya terkesan modern. Bus lama ini berarti juga bagasi yang lebih kecil. Dibutuhkan 30 menit ekstra untuk memasukkan Pogo ke dalam bagasi. Itu pun dengan ekstra tenaga setelah dengan beberapa paksaan, dan beberapa emosi yang kami bertiga keluarkan. Salah satu pemaksaannya berupa 2 pedal yang dicopot, dan stang yang dikendorkan. I felt so glad that Pogo was in a safe place, eventually, after all sufferings that it had.

Aku mencoba berdamai dengan diriku. Crew bus 7 yang baik, yang menggantikan muramnya crew bus 2. Tak apa bila aku tertunda berangkat, karna jadwal bus tambahan yang sejam lebih lambat berangkat daripada bus normal. Harganya pun berbeda. Uangku dikembalikan 18 ribu. Ini jalan buatmu, Jek. Terimalah. Kataku dalam hati.

Namun keterlambatan jadwal berangkat ini meresahkanku. Paginya (yang artinya sehari sebelum hari ini), aku harus menghadiri akad nikah dua sahabatku. Tak bisa tidak. Aku khawatir aku akan terlambat sampai di Jogja dan gagal menghadiri acara tersebut. Kekhawatiran yang serta merta dijawab dengan fakta-fakta yang semakin menggelisahkan. Additional bus means additional crew. Must have been something wrong. Apa itu? Pertama, sopir bus 7 yang mengemudi di awal ternyata tak hapal jalur Malang-Jogja. Fatal. Kami hampir tersesat di kawasan Japanan. Untungnya ada sopir ke-dua yang mengetahui ketersesatan tersebut sehingga kami harus putar balik ke arah yang benar. Sejak itu, hatiku dirundung mendung - khawatir tersesat lagi. Aku mensinyalir supir ini diada-adakan. Trayek yang dia hafal adalah jalur Sumatra. Dan Jawa is a mess for him. Mengapa. Mengapa bus Handoyo mulai membuatku kecewa padahal aku sungguh membutuhkannya, dan biasanya kupuja karna lebih baik (lebih ekonomis) daripada armada yang lain? Mengapa?

Kucoba untuk tidur. Bangun ketika bus berhenti di Rumah Makan. Setengah dua. What the.. Itu sangat-sangat terlambat. Biasanya setengah dua kami sudah melaju menuju Sragen. Tak apa lah. Segera aku turun dan melakukan ritual makan dini hari selama, well believe it or not, sepuluh menit saja, sudah termasuk do number 1. Kegelisahan berikutnya mengalir. Crew bus 7 tak kunjung naik. Aku harus menunggu 50 menit berikutnya untuk keberangkatan bus. Beberapa penumpang lain sungguh pun sudah mulai murka. Setengah 3 kami berangkat kembali. Sedang di bus normal, aku memperkirakan mereka sudah mengarah ke Klaten. Ah, well, it's better than if I should be in bus 2.

Kali ini sopir satunya yang menyetir. Aku suka gayanya. Kebut-kebutan. Sippo. Everything's gonna be ok. Terlalu berharap rupanya. Tak sebegitu mudahnya. Klaten yang penuh lampu merah memaksa bus untuk sering berhenti, dan di 4.40, bus pun melenggang di Jogja. Prambanan. Aku sudah bersiap untuk menyambut belokan Babarsari karna Bus seharusnya akan belok kanan menuju Jalan Kaliurang untuk selanjutnya meneruskan perjalanan ke Magelang. Semerta-merta harapku kandas ke titik paling rendah. Bus melaju lurus, bukannya berbelok. Oh, Tuhan. Dengan penuh tanya (dan sebenarnya emosi yang sudah terakumulasi), aku mendatangi Kondektur dan sopir yang hanya tiga langkah jaraknya dari tempat dudukku. "Mas, ini bus ndak lewat Kentungan to? Harusnya kan lewat?", kataku dengan emosi tertahan. "Ke terminal dulu, Mbak..", timpal Pak Sopir. "Oh, mutar-mutar dulu ya?", kesalku sembari kembali ke tempat duduk.

Beberapa orang turun Janti dan perempatan arah Wonosari, lalu di terminal Giwangan.... tak ada seorang penumpang pun yang turun! Wow! Hanya, Pak Sopir yang turun. Yang Wow! Itu rupanya mengapa ia bersikeras pergi ke Giwangan. Wow! dia bermisi! Gila. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 5.30. Langit pagi Jogja sudah begitu gemilang. Merapi dapat kulihat dengan gamblang ketika kami kembali melewati fly over Janti. Hangat mulai terasa, karna walau sebegitu siangnya, pada akhirnya bus 7 ini berada pada arah yang benar. Pertigaan Babarsari belok kiri menuju Jalan Kaliurang yang kudamba bahkan sejak seminggu lalu ketika aku membeli tiket. Oh, betapa perjalanan ini. Sekitar jam 6 aku turun. Pogo dan barang-barang yang lain pun terlihat bahagia karna akhirnya mereka menghirup udara segar. Bunch of thanks I delivered to Mas Kondektur. Semenit kemudian, taksi putih seakan menungguku. Kuakhiri deritaku dengan memintanya mengantar diri dan Pogoku ke kos baruku. Pogung Baru Blok B yang juga bernomor 7. Sungguh betapa 7 benar-benar membahana.

Sebenarnya apa yang terjadi? Aku pun tak begitu yakin. Namun pasti ada yang salah sehingga Tuhan pun mengerjaiku. Atau istilah yang lebih tepat sebenarnya `sehingga aku pun tak dapat menerima unintended plan dengan kelapangan dada sepenuhnya - dan stress di jalan karenanya`. Untuk merunutnya aku harus kembali ke tanggal 23 siang, ketika aku sedang bersiap berangkat. Namun tak ada yang salah. Aku sudah siap, barang-barangku sudah siap, aku sedang makan ayam sambal pelecing ibu yang terenak sedunia. Everything was ok.

Mari kulihat sejam sebelumnya: 1.30 siang.

Aku sedang mandi dan bernyanyi Chrismas Light milik Coldplay. Fine. Nothing was wrong.

Sejam sebelumnya: 12.30 siang.
Aku terkapar tidur dengan balutan bad cover dan kaos kaki yang menutup kaki. Mengapa bisa aku tertidur sedemikian lelap?

3 jam sebelumnya: setengah sepuluh.

Aku menyelesaikan packing terakhirku. Tas besar berisi baju tambahan untuk dipakai di Jogjakarta. Di sebelahnya sudah terlihat ransel besar yang berhias matras, seemed like I was ready for hiking, but I didn't intend to hike any montain. Juga kardus yang sudah dipack rapih yang di dalamnya novel-novel Paulo Coelho mendominasi. Namun ini terlalu enteng untuk menyebabkanku terlelap sedemikian rupa. Mataku sangat berat. Hatiku gelisah.

7 pagi.

Aku menemukan diriku sedang menyetrika. Dalam duka. Oh, ini rupanya.

Sekitar 6 pagi 

Tulisku di Twitter:

`Just sent a very heart-breaking text message. Beautiful, but.. well, hurting..`

Ah, sudah kutahu jawabnya. Rupanya itu alasan mengapa emosiku tak tertahan ketika menghadapi segala hal di luar rencana. Itu alasannya mengapa a wreck day came and said hello to me. Padahal aku biasanya berhasil dalam retorika. Kali itu segala retorika melemah. Seakan semua kekuatanku telah lenyap. Bahkan ketika di Rumah Makan, semua pihak hampir menolak retorikaku. Parah. Dan kudapat alasannya. Aku sudah menghabiskan energiku di jam 7 pagi. Menyetrika dalam duka. Lalu tak seorang pun menganggapku "ada" di waktu selanjutnya. Karna aku terlampau lemah, hingga sinyal hidupku pun tak dapat mereka tangkap. I was a zombie, for sure. Walau sudah kucoba tidur, namun semangat non-lokalku tak serta-merta membaik.

Namun, berita bagusnya, dalam rentetan peristiwa kemarin, aku menemukan kejengahan akan diriku. Berikut beberapa twitter yang kutulis:

  • Not awesome - tak seharusnya aku kehilangan diriku seperti ini.. AYO, BANGUN!!!! JANGAN HIRAUKAN!
  • Jeki kembali ke Twitter - mau jadi orang asik lagi, jengah tiap hari sok melankolis
  • Bukan. Ini bukan lari namanya. Hanya ingin kembali jadi orang asik. Itu mengasikkan loh!!!! Been there! And I miss myself! Jeki, I miss you!
  • Awesome - I start to be talkative! Again!! LET'S DANCE WITH ME!!!!! JEK, I FOUND YOU!!!

Dalam permainan Awesome/Not awesome (yang sering kulakukan ketika sedang menghadapi 'gila'nya sebuah hari), aku tersadar akan betapa tidak nyamannya diriku atas diriku sendiri. Dan aku ingin kembali, menjadi Jeki yang penuh bahagia, dan penuh afeksi. Ke siapa pun. Kepada diri yang berbahagia dan menerima dirinya sendiri. Bila aku pernah berkata "I need to be serious", aku akan menjadi serius. Namun kesalahanku sebelumnya adalah aku menjadi serius dan menghilangkan diriku yang asik. Aku lupa bila aku suka pada diriku yang easy going dan friendly abis.  That's it. And I'm gonna find myself again. Aku akan tetap menjadi seorang yang easy going walau keseriusan harus terus mengguyur hari-hariku. Happy means Jeki although Jeki needs a locus to stay focus. Good luck, Jeki..! :')

Ransel dan aku
Dengan ransel berisi SB, buku, dan SEPATU! Ketika aku belum tahu bahwa hari akan menjadi begitu liar. Begitu emosional.

Poligon Ijo
Pagi hari ketika sudah sampai kosan - Pogo menjadi begitu kotor dan terlihat sangat tersiksa. Joknya robek sedikit. Oh, kasihan sekali Pogoku, ini.. :'|

Wednesday, August 15, 2012

Bunuh Saja Aku


"maafkanlah cinta
atas kabut jiwa
yang menutupi pandangan kalbu" - Dewa19

Bersyukur memang selayaknya dilakukan di setiap hembusan nafas kita. Yang lebih penting adalah menjadi satu dengan jiwa. Tak perlu hanya berucap, namun termasuk dalam tindakan. Ideologi yang menurun menjadi metode dan menjadi nafas bagi tindakan. Bersyukur adalah bermakna bahagia. Tuhan memberi agar kita bahagia. Adakah itu sebenarnya arti Tuhan menciptakan kita? Agar kita selalu bersyukur? Agar kita selalu bahagia?

Tuhan itu suka bila hambaNya berbahagia, tak dapat dipungkiri. Dia pun menerima banyak do'a, dan mengabulkan. Kita sebagai makhluk, adalah pihak peminta. Bila diberi bahagianya minta ampun, bila belum suramnya minta ampun. Ini manusia adalah makhluk banyak maunya. Fitrah sih. Tapi akhirnya tidak menuju pada esensi bersyukur itu sendiri.

Karakter memberi milik Tuhan itulah yang harus kita contoh. Ini seperti membawa kita pada kebahagiaan yang sesungguhnya. You know, Tuhan memberi, why we don't? Dan menurutku, itulah bersyukur sejati. See this: bila bersyukur berarti bahagia, maka kita harus berlaku yang membahagiakan. Apakah iya selalu menjadi peminta itu bahagia? Apakah iya pengemis-pengemis itu berbahagia? Apakah iya anggota-anggota DPR yang terus-terusan minta kenaikan tunjangan itu bahagia? Apa iya kita yang terus-terusan minta ke Tuhan itu bahagia? Bersyukur sejati adalah memberi. Dengan mencontoh sifat Tuhan Yang Maha Memberi. Termasuk di dalamnya adalah memberi pertolongan. Dalam proses memberi pertolongan kan yang sebenarnya paling berbahagia bukanlah yang ditolong, melainkan yang menolong. Yang demikian itu, yaitu dengan meniru sifat Tuhan, kita sedikit demi sedikit belajar menjadi lebih baik, menjadi kita yang sebenarnya: menyatu denganNya. Kesadaran atas "aku" ini yang mengantarkan kita kepada kebahagiaan sejati. Sekali kita sadar adas ke"aku"an kita, semua ilmu pun dapat masuk, menyergap segala benak untuk tersentak terhenyak dan menjadi berpikir. Ketika kita sudah memiliki banyak ilmu, maka semakin bahagialah kita, kita memiliki cakrawala yang lebih luas, dan mendapat banyak hal yang membuat hati kecil kita tersenyum. Ilmu itu kunci kebahagiaan, karna dengannya kita jadi tahu sesuatu - dan bukankan ketidaktahuan itu menyengsarakan? Dan syarat utama untuk menemukan "aku" adalah dengan sadar atas keberadaan "aku" itu sendiri. Sadari "aku"-mu, raihlah segala ilmu, bahagialah, dan bersyukurlah.

Aku tak tahu aku memosting apa kali ini. Aku hanya ingin menulis, karna aku tak ingin larut dalam kelamnya keruntuhan. Kelamnya titik balik.

"..dan aku kan hilang,
ku kan jadi hujan.." (Frau)

Saturday, August 11, 2012

Muram


Merasakan akhir.

Merasa bahwa aku dan kamu adalah final. Tak lagi ada cerah harapan. Merasa bahwa sedih menjulang membayang muram di balik tubuh berdiri kita. Membayang yang membawa kata 'tiada' kita. Menghempaskan impian penyatuan aku dan kamu: kita.

Bisa jadi aku duduk di sebelahmu, jantungku merasa jantungmu, hatiku merasa hatimu, sedihku dirasa sedihmu, bimbangku dirasa bimbangmu. Namun hancurku, yang bisa jadi dirasa oleh hancurmu, tak kunjung mendapat pegangan. Kita segera saja terjun bebas, dari lantai tertinggi sedunia, dan tak ada satu pun benda yang dapat kita pegang untuk menyelamatkan diri berdua - atau salah satu dari kita. Ada pun, pegangan itu tak pernah begitu kuat, atau kita yang tak pernah kuat: terpegang oleh tangan, namun ternyata permukaannya diselimuti duri tajam yang merobek-robek, yang menyayat-nyayat - hingga aku dan kamu memilih melepasnya. Terjun bebas, menjadi tiada.

Walau betapa aku dan kamu ingin menyelamatkan 'kita', namun bila aku tak berbuat yang menyelamatkanmu, dan kamu tak berbuat yang menyelamatkanku, maka berakhirlah. Dan membayangkan semua ini saja sudah berarti hati yang sungguh bermuram durja. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan bila ini menjadi kenyataan.

-Only if we had something to hold on-
"Lord, give us something to hold on.."