Wednesday, December 31, 2014

Desemberku, Sukidesu!!


Sore hari di akhir 2014. Meski sebenarnya tak begitu penting apa itu waktu, namun penting juga mengingat aku tak boleh menghindari semua definisi ini. Karena menghindari definisi adalah menghindari hidup. Dan padahal baru saja aku membuat definisi baru tentang sebuah definisi. Prakk.

Rasanya sedang bahagia, hanya karena pusing ini mendadak hilang. Tadinya kukira hari ini akan menjadi hari yang cukup menentramkan tanpa pusing-pusing. Ternyata tanda tadi siang itu jitu juga. Awalnya aku tak akan ke perpustakaan, karena semua yang kubutuhkan di perpus sudah kudapat seharian kemarin di sana. Rupanya yang sudah kudapat tak begitu sempurna, semacam tubuh yang tak pernah sempurna, meski justru karena tak sempurna itulah segalanya jadi sempurna. Ngek. Dan hasrat ke perpus itu tiba-tiba muncul saja. Jebrat jebret kurang dari 15 menit saja sudah siap aku berangkat. Alam lalu bikin tanda. Hujan tiba-tiba merintik di hari terang. Rasanya gimana gitu soalnya sudah menggebu tapi ada penghalang. Sebal sekali. Mana tipikalku kan kalo sudah menggebu benar-benar jadi gila begitu. Karena itu aku jadi sok positif: harus ditentang semua perintang. Nah, ini karakter banget dah stubborn ini ga ilang-ilang. Ga pernah rela melepaskan, harusnya ikhlas saja kalau sudah hujan begitu: tinggal di kos, bekerja di kos, melakukan rencana awal - dan karakter macam begini sudah jadi kesehari-harian alias kronis, meski kini sudah punya kemauan untuk berubah. Soalnya kalau stubborn ga mau liat tanda-tanda, ntar di akhir bakal kejadian hal-hal yang bikin mood ilang, dan seringnya bikin ga enak hati. Kalau sudah seperti itu, prinsip koevolusi susah banget diterapin. Dan bagaimanapun sebenarnya itu bisa dimasukkan jadi melatih diri agar lancar berkoevolusi ya. Tapi bila tak enak di hati terus-terusan terjadi, lelah sekali rasanya.

Sudah sampai perpus, langit tak jadi murung. Matahari malah tampak benderang. Oh, entahlah aku benar-benar tak mengerti. Meski tak mengerti aku merasa menang, soalnya berpikir rintik hujan tadi hanya cobaan. Meleset banget. Aku katakan meleset karena hal yang seharusnya kucari di perpus malah gagal kudapat gara-gara komputer perpus tak menerima piranti HDD eksternal, hanya flash disk yang bisa melakukan transfer data di sana, sedang unduhan sekitar satu gigaku sudah selesai - jadi aku keluar ruangan "warnet" perpus (ruangan yang sama di pos sebelumnya) dengan pepesan tangan kosong. Rasanya hampa banget. Meleset kedua adalah meleset yang bikin eneg hati. Ada bayangan sosok tak begitu tinggi melintas di depan mata saat aku turun dari lantai dua perpus dalam berjalanku ke parkiran. Seorang perempuan yang terlihat semakin ter-upgrade dengan high-heels yang semakin tinggi. Celana pensil yang terlihat semakin menjerat kakinya juga bikin ngilu hatiku. Dulu tak seketat itu aku rasa. Entahlah beragam upgrade apa lagi yang ia lakukan mengingat mukanya tak sempat terlihat (kan bayangan doang :p). Demi apa juga aku tak tahu. Tapi tahu-tahu bikin gemuruh di hati. Ceritanya ada yang eneg-nya belum kelar terus dibikin eneg lagi. STUBBORN I said it.

Di jalan aku memakna. Pernah aku merasa aku harus meng-upgrade diriku juga. Mulai tergila-gila dengan heels tinggi, baju feminin tapi yang lebih kuartikan dengan "sesuai ukuran tubuh", rutin menggunakan masker, dan semacamnya. Merawat tubuh tentu masih berusaha kujadikan ritual (kukatakan berusaha karena di beberapa titik aku sering kebosanan melakukannya), mengingat itu untuk investasi kesehatan. Namun perubahan fashion adalah yang paling bikin jengah, karena tak ada logis yang jitu untuknya. Jadi hingga beberapa saat lalu aku berpikir, apaan lah aku yang seperti itu. Feel like I lose myself. Dan kalau sudah kehilangan diri sendiri itu rasanya jadi ga penting banget. Ini merupakan hal yang semata-mata terjadi karena aku tak mau meyakinkan diri bahwa aku adalah pemakai heels tinggi di keseharian, pemakai fashion up-to-date, and so on and so on. Tentu bila kuyakinkan aku akan merasa nyaman. Tapi mau meyakinkan saja aku sudah merasa tak nyaman, mengapa harus kuteruskan? Akhirnya tubuhku saat ini adalah hasil dari koevolusiku: jins kedodoran (karena badan yang mengurus), sepatu seadanya, baju lebih sering ditutupi jaket (yang kedodoran juga), dan mata yang mengantong karena suka ngalong. Bah. Lagian ada satu fakta yang kuingat: ada penelitian yang siap menerkam dan mengancam kedirian. Biarlah yang masih berusaha meng-upgrade dirinya secara visual meneruskan apa yang ia lakukan. Tapi meski bilang biarlah begini eneg masih terus hadir di hati. Let it go let it go. Orang punya urusan masing-masing. Let it go let it go.

Jadi begitulah cerita orang stubborn hari ini. Coba aku duduk manis di kos. Mungkin malah tidur. Bah. Benar juga. Tak ada yang tahu. Aku ingin ke perpus juga karena menghindari suasana kos siang yang kurang mendukung buat berfokus. Tapi sampai perpus juga mendapati pengguna komputer lain yang berisik diskusi sama teman sebelahnya. Kadang kalau begini aku ingin mencicip luar angkasa, macam film-nya Nolan yang baru (iya betul, yang judulnya Interstellar itu). Soalnya kehampaan udara membawa hening yang begitu dalam, seakan-akan damai yang paling nyata terkandung padanya. Mendengar diri sendiri pasti jadi lebih mudah jika demikian.

Meski sudah merasionalisasi keenegan macam cerita di atas, tubuhku tak lalu jadi tenteram. Badan tiba-tiba saja jadi pusing - menghangat kiranya. Bisa jadi karena AC perpus sejak kemarin. Lemah ya, kena eneg sekali saja badan langsung keteteran. Sampai kos, pusingnya bertambah karena ingin beli cilok tapi langit sudah gelap sekali. Semakin bertambah lagi karena perut lapar tapi katering belum datang, sedang hati tak berkenan dengan cemilan yang ada. Ah, repot bener. Fokus jadi amburadul. Kucing di kos juga sedang berisik. Aaaargggh. Akhirnya kesambet apa lagi tapi mungkin cuma ingin lari, aku malah mencari film buat ditonton. The Hobbit dua yang ada Ed Sheeran ngisi salah satu back song-nya. Tanya kamar sebelah ia tak punya. Pokoknya ingin Hobbit! Aku ke lantai dua. Bertanya pada karib yang kini juga sekos denganku, DNT. Dia bilang masih ada The Desolation of Smaug di HDD-nya. Aku teriak histeris. Pusing tetiba hilang. Mungkin juga berbarengan dengan DNT yang sedang mengupas mangga. Senang rasanya. Hancur lebur diri yang kabur. Sembari menghabiskan irisan mangga, perasaan menggebu untuk menonton Hobbit sedikit memudar tergantikan dengan menulis. Antara blog atau melanjutkan tulisan yang masih tersendat-sendat. Oh, Desemberku sungguh penuh akan diri yang menggebu-gebu!! Tapi aku suki desu!! (???)

"DESOLATION COMES UPON THE SKYYYYYYYY----YYYYY!!!"
(I See Fire, Ed Sheeran)

*ini pos ditulis dengan gangguan kampret sedemikian rupa dari dua makhluk sedemikian rupa, hhhhh*

Wednesday, December 24, 2014

Sebenernya Emang Cengeng


7.15 pm. In library. "Tasting" new facility. Like internet cafe, with lenovo-all-in-one-monitor-pc-sound-so forth (aye kaga ngerti apa nama barang beginian, tapi cukup bikin pengen).

Ini yang ingin kuceritain. Semacam ada emosi yang belum tuntas sedari tadi pagi, dan itu masih tersisa hingga sekarang hingga diri ini masih sensitif. Terlampau mudah terbawa suasana. Yet I like this feeling so much. Very much.

Barusan membaca tesis tentang wacana mothering dan cloning dalam anime Final Fantasy VII (FF VII) The Advent Children. Tentu aku ga bakal cerita isi tuntas tesis ini. Tapi karena membaca itu aku jadi tahu bagaimana anime ini dikisahkan. Dan lebih itu kurasa dengan membaca tesis seseorang itu kita seperti dikisahkan tentang sebuah kisah. Semacam ada yang bercerita tentang sebuah film kepada kita. Tak jauh beda seperti teman kos sebelah yang sangat pintar menceritakan kembali kisah film yang baru ditontonnya. Menonton film kini memiliki cara baru. Menonton lewat kisah. Mungkin semacam review atau ulasan, tapi membaca tesis lebih dari ulasan. Kisahnya berliuk-liuk, dan lebih komplet daripada hanya membaca ulasan yang cuma satu lembar saja. Tapi sampai sini semoga ga ada yang menganggap apa yang kutulis tesas tesis ini semacam sebagai pencitraan ya. Eh tapi begitupun juga tak apa deng..

Dan ketika narasi tesis beranjak pada kisah pemuda-pemuda kloningan di FF VII yang tak punya ibu biologis (juga ibu sosial) sedang berjuang mati-matian demi mendamba ibu sejatinya, apalah arti ibu sejati itu (dalam narasi itu disebutkan Jenova, semacam sel makhluk luar angkasa jahat yang sebelumnya ingin memusnahkan bumi). Sedang mereka sadar betul ibu mereka tidak sama dengan ibu kebanyakan manusia di bumi, yang secara biologis berbentuk perempuan dsb. dsb., yang secara sosial lemah lembut penuh kasih sayang dan perlindungan, dsb. dsb., pemuda-pemuda itu ternyata menginginkan dengan sangat seorang ibu yang mencintainya unconditionally, and so forth and so forth.

Tega banget yang bikin anime. Serius. Macem udah bikin cerita seru-seru tentang kloningan gitu. Tentang sebuah teknologi yang mantab habis bisa menciptakan manusia tanpa harus perempuan menggunakan tubuhnya untuk menerima sperma, mengandung, melahirkan, eh, akhir-akhirnya dibikin cerita kalo manusia hasil kloningan masih aja butuh sosok ibu yang semacam itu. Seharusnya kalau memang mau bikin masyarakat bebas ibu kan ya dibikin sistemnya yang sempurna, yang terisolasi kek dari wacana ibu yang mengasihi selayaknya wacana dominan yang kini ada di masyarakat di dunia. Apa bikin wacana baru tentang kehidupan yang tanpa mendamba seorang ibu (ya, aku tahu ini pikiran radikal banget, bukan berarti membenarkan, tapi ini hanya semacam protes aja atas kurang bertanggung-jawabnya anime tadi atas apa yang ia ciptakan di awal, hahaha). Tentu yang radikal begini bisa lah dilakukan. Misalnya di Jepang aja perempuan-perempuan yang dengan sengaja memilih menjadi single mother sudah ada sejak 70-an. Dan kini jadi biasa. Di Indonesia sudah mulai. Di Jepang bahkan sudah diakui anaknya sama pemerintah, semacam masyarakat juga sudah menerima kondisi baru itu. Yakin nanti di Indonesia juga bakal ada pemakluman, semacam juga pemakluman pada kondisi rumah yang rusak (maksudnya broken home). Begitulah. Semua wacana radikal itu bisa-bisa aja diterapin gitu, yang pasti ada niat untuk memulai wacana baru. Bahwa ibu itu tak harus perempuan, bahwa ibu itu tak harus lemah lembut misalnya, tentu bisa-bisa aja. Itu intinya.

Dan satu lagi (karena perpus udah mau tutup nih). Gara-gara baca pemuda-pemuda hasil kloningan itu masih mendamba sosok ibu yang mengasihi gitu kan, jadi kerasa kayak mereka kurang kasih sayang. Huhuhu... Apeulah saya jadi cengeng banget hari ini.

Udah!!!

Friday, November 28, 2014

Prestasi di Balik Sebuah Nama


Alfathirrazkahidayat, nama anak seorang kawan. Zaman memang sudah berbeda. Satu per-satu kawan tahu-tahu sudah beranak saja. Sedikit merisaukan namun hahahah apadah, ini bukan saat (dan tempat?) yang tepat menguak c(d)erita macam itu. Namun ini tentang nama. Sungguh Arab, bukan? Alfathirr-azka-hidayat, atau entah bagaimana penggalan dengan spasi yang sebenarnya, aku tak tahu. Nama itu hanya aku comot di status BBM bundanya, komplit dengan display picture dek Razka (anggap aku memanggilnya Razka - aku tak tahu panggilan "official"-nya apa, kini tak begitu suka menekuni obrolan messenger kiranya). Nama macam begini sudah jamak benarlah di sini-sini. Matriksnya tentu sebenarnya beragam mulai dari nama yang berbau Arab, agak kejawaan, agak kejawaan yang kuno (mengacu pada sanksekerta yang nantinya dekat dengan (atau malah) India (kuno?)), dan yang agak berbau-bau barat. Untuk sementara pakai asumsi ini aja ya, susah bila mau mencari data pasnya berapa yang memakai "tema" Arab, Jawa, atau daerah masing-masing (atau kombinasi antar matriks itu). Yang pasti bila melihat invansi Islam ke Indonesia sejak dahulu, ga bakal heran kalau di lingkunganku dipenuhi nama-nama berbau Arab. Entah berapa juta Muhammad ada di negara ini. Hahaha, sampai nulisnya disingkat saja ya. Aku punya satu tetangga namanya Mulyana, tapi ga pernah disingkat M. gitu. Hahaha.. (ga tahu ini kenapa pengen ketawa). Kita juga ga pernah pengen tahu waktu ada suara memanggil M. Blah Blah, M. itu singkatan apa. Di benak kita sudah pasti M. itu Muhammad. Ah, ini seru banget ya kalau dibikin parodinya. M. Iqbal: Marhun Iqbal. Apa pun artinya. (Ps.: Marhun nama ayahku (apa pun artinya), dan Iqbal nama kakakku (apa pun artinya)).

Suatu hari juga, di sebuah pertemuan penting, mengisi daftar hadir bersama satu teman. Kebetulan sama-sama dari Jawa Timur. Dan bukannya ingin menegaskan stereotip, tapi memang begitulah Jatim sudah kadung dilihat sebagai bangsal hijau meski sebenarnya yang cokelat (hijau+merah, atau campur-campur) juga banyak banget. Singkatnya nama kami berdua "islami" hatsyih begitulah. Saat mengisi kolom nama, si penjaga daftar hadir menceletuk "aduh, namanya bau-bau Arab semua, minder saya jadinya.." Serius ini di luar perkiraan. Sudah benar-benar di titik nyaman rasanya begini ya, "digoyang" dikit rasanya aduhai, pengen lari ngarungin diri sendiri (brb cari karung).

Pertemuan yang kumaksud adalah pertemuan seni. Tentunya nama berbau Arab tak populer di kalangan seniman sini (baca: Jogja). Paling nggak yang saat itu kutemuin begitu, meski ini hanya karena circle-nya aja. Mungkin semacam seniman-seniman "islami" membentuk komunitasnya sendiri. Cak Nun kurang seniman apanya ya, ya tapi saat itu ia tak di situ, dan aku ga tahu seniman mana lagi yang namanya Arab. Plus Cak Nun juga dari Jombang (ciyeh yang turunan Jombang, lalu disinggung-singgung). Segini cukuplah buat bilang lingkaran seniman yang saat itu kutemuin tidak berideologi Islam, meski tentu yang bernama Arab tidak pasti selalu Islam, apalagi islami.

Selama ini tak pernah aku merasa menyandang nama Zakiyah itu aneh, atau punya potensi mengancam seseorang (atau lebih tepatnya balik jadi terancam). Itu pengalaman pertamaku. Tentu pernyataan "minder saya jadinya" dari si penjaga daftar hadir bukan semata-mata sebuah ucapan, sebuah ungkapan yang tak sengaja nongol aja dari mulut seseorang. Duh, itu long history banget. Pertama pasti di benaknya sudah ada klasifikasi makna-makna yang menempel dengan misalnya kearaban. Jadi misal Zakiyah itu berbau Arab gitu kan (jangan tanya orangnya, ora blas, wkwk :p). Orang bernama Arab sudah diasumsikan memiliki hubungan dengan Arab itu sendiri, yang paling dekat misalnya beragama Islam. Tentu tak hanya itu saja. Misalnya lagi, mengingat di Jogja tren nama untuk orang seumuranku lebih kental yang bernuansa kejawaan daripada kearaban, dan aku mengasumsikan si penjaga daftar hadir berasal dari Jogja (karena logatnya yang Jogjessss bgt - dan di kemudian hari rasa ini (rasa bahwa orang ini lahir dan besar di Jogja) terbukti), maka ada kualitas lain yang lebih dari beragama Islam saja yang ada di benaknya. Tidak hanya makna "Islam" yang dilekatkan pada Zakiyah, tapi juga misalnya "Islami", "dari keluarga Islami", "pernah masuk pesantren", atau yang lain-lainnya. Tepatnya tentu aku tak tahu, tergantung sejarah orang ini yang bersinggungan dengan pengalaman bersama kearaban, atau tepatnya keislaman kalau menengok "makna" yang paling dekat dengan Arab.

Tapi mengapa aku menjadi terancam, dan ingin lari cari karung? Tentu kini giliran asumsi di benakku. Dengan celetukan seperti itu, benakku juga memiliki klasifikasi-klasifikasi yang lalu kupilih salah satu dan kutempelkan dengan si penjaga daftar hadir, dengan lingkungan yang sedang kumasuki, dan setelahnya ada deduksi ala Sherlock (?) yang muncul di benak, sehingga diri ini merasa digoyang. Dengan pertanyaan seperti itu, tak heran bila aku menilai ruangan seni tersebut anti Islam, atau bila istilah anti terlalu gimana gitu, aku ganti dengan istilah kurang simpatik. Alasannya apa aku tak tahu. Tapi konon Islam membatasi ekspresi seni, atau mungkin lebih tepatnya pengajaran Islam membatasi ekspresi ini. Yang terakhir, bila memang benar karena ini, adalah istilah yang lebih tepat karena lebih mengikut-sertakan manusia dalam tanggung jawab atas sentimen yang terjadi. Karena ramuan ini di benakku, aku jadi sadar posisiku minor di acara itu. Ada sosok (-sosok) yang mempertanyakan kehadiranku. Dan, ya, "goyangan" itu cukup merisaukan.

Bah. Serius bener.

Entahlah. Tapi itu memang serius. Tak pernah aku merasa tidak aman menyandang nama Zakiyah sebelumnya. Dan memiliki pengalaman seperti itu menjadi semacam dapat membayangkan apa yang dirasakan mereka yang punya nama super "ideologis" yang hidupnya berada dalam lingkungan dengan mayoritas ideologi berbeda dengannya, atau malah ideologi yang "bersaing" dengannya misal. Secara Agama. Suku. Apalagi yang riskan, kekayaan? Bahhh.

Tapi terlalu ledai juga mengatakan dapat membayangkan semacam itu. Aku lebih tepatnya menjadi tersadar, selama ini telah berada pada zona yang nyaman, pada lokus yang punya kekuasaan dan kuat begitu. Kesadaran berikutnya adalah suatu kenyataan bahwa zona nyaman itu punya saudara lain, dan bukan zona satu-satunya. Seringnya ternyata zona nyamanku menyiriki zona nyaman orang lain. Kebalikannya tentu juga tak dapat terhindarkan mengingat zonaku lebih besar yang berarti rentan mendapat perlawanan dari yang kecil (yang sangat bisa jadi gara-gara zonaku emang kampret abis: udah besar masih pengen besar lagi). Sampai sini aku tak lagi punya cerita. Kurasa sadar dan mengakui kehadiran yang lain itu sudah merupakan sebuah prestasi. Prestasi kan? Prestasi, bukan?

Sunday, November 23, 2014

(Bukan) GGS: Gara-Gara Mimpi Alfa


Dee menyapa pembacanya dengan sebuah kejutan, dan enigma. Desas-desus bahwa tokoh utama Supernova buku kelima ini adalah Alfa menemui tanda tanyanya ketika kedirian Gio, lelaki yang kemunculannya hanya absen di seri Partikel, sedikit dikuak di beberapa lembar awal. Gio Alvarado nama lengkapnya, seorang yang sedang mencari seorang terkasihnya, Diva Anastasia, tokoh sentral di seri pertama Supernova. Nama belakang itu, Alvarado, membuat pembaca terperangah. Ini di luar perkiraan. Pembaca tak pernah menyangka Gio yang sudah mereka kenal sejak seri pertama adalah Alfa yang mereka tunggu-tunggu, dan lalu dibuat sadar kembali: seharusnya Alfa bukan Alva, apa penulis ini salah ketik?

Enigma ini menggelikan. Namun begitulah faktanya. Ikatan Dee dengan pembacanya terasa begitu kuat dan dengan demikian seakan begitu perlu bagi Dee untuk memberikan sapaan yang khusus bagi mereka. Mungkin semacam: Hey, I love you guys so I trick you! Tak heran bila keping pertama di Gelombang berjudul “Tipu Daya Ruang Waktu”.

Setelah sejak awal dibuat jungkir balik otaknya, pembaca dibawa kepada ingatan format buku kedua dan ketiga di mana keping pertamanya berisi semacam bocoran-bocoran kecil yang membangun pertanyaan besar untuk kisah keseluruhan Supernova. Barulah pembaca sadar Gio itu bukan Alfa yang diidam-idamkan seantero jagat fandom Dewi Lestari.

Akhirnya kisah Alfa yang “sebenarnya” pun dialirkan: seorang kelahiran Batak, bersekolah menengah di Jakarta, dan menyongsong masa kuliahnya di Amerika. Kisah kehidupan Batak yang diceritakan Dee di luar stereotip Batak yang biasa hadir di berbagai media. Ia mengangkat kehidupan umat suatu kepercayaan yang tak diakui sebagai agama di Indonesia, Parmalim. Hal ini sungguh menarik karena Nusantara memiliki banyak sekali kepercayaan di luar enam agama yang diakui yang ceritanya tak jauh berbeda dengan kepercayaan Parmalim: pendiskriminasian pemeluk ajarannya - hingga bahkan aku di sini hanya dapat menuliskan ‘kepercayaan’ untuk menyebutnya, alih-alih agama. Kehidupan Batak yang ada namun seakan tiada di mata kebanyakan orang ini, terlebih kisah kosmologinya, seakan membuka mata pengetahuan, lebih-lebih tentang diri sendiri: tentang Nusantara.

Tradisi lain, Bali misalnya, sangat mungkin memiliki kisah kosmologinya sendiri. Ia tentu menunggu untuk dikisahkan. Kemarin sempat ada seorang kawan menjadi pembicara sebuah diskusi dan ia menceritakan penelitiannya tentang aksara (bukan latin) di sekitaran Makassar. Sebut saja dalam kesempatan itu ia menyinggung kosmologi milik masyarakat Bugis dan Makassar, yang juga tersimbolkan dalam aksara masing-masing. Senang mendengarnya, semacam mendapat dongeng dari rantau, dengan aksen dan cara tutur yang nyaman di telinga (terlepas dari kisahnya yang memang outstanding). Ini adalah bahasan yang menyegarkan. Konon seri Bilangan Fu milik Ayu Utami menyinggung hal serupa dan bertumpu pada kebudayaan Jawa (tengah?). Besoklah kita cari bukunya.

Namun tentu kisah Alfa lebih dari itu. Membaca Gelombang berarti mengikuti petualangan seseorang untuk kembali pada mimpi tidurnya. Alfa adalah seorang pengidap insomnia yang parah – bukan karena ia tak dapat tidur karena penyakit tertentu, tapi hanya karena ia harus menghindari tidur. Bagi dia tidur dengan bermimpi adalah sebuah petaka karena mimpi yang datang dalam tidurnya selalu saja sama: mimpi yang berujung pada habisnya nafas dan nyawa yang terasa tinggal sepenggal. Untuk menghindari kesakitan itu Alfa memutuskan menjadi insomnia dengan siklus tidur tanpa mimpi.

Dengan demikian ia memiliki waktu lebih banyak dari kebanyakan orang yang tidur delapan jam per harinya. Ditambah dengan tekad orang perantauan dan kerja yang super keras, ia pun sukses dalam hal material – akademis dan pekerjaan hingga menjadi jutawan saat menjadi pialang saham di Wall Street.

Justru di sini ada kebosanan terasa. Kehidupan pialang saham telah banyak dibahas di berbagai media, utamanya lewat Hollywood. Akhir tahun 2013 film The Wolf of Wall Street yang dibintangi Leonardo DiCaprio memberi gambaran seperti apa kerja yang dilakukan Alfa. Kebosanan bukan saja tentang cerita menjadi pialang saham, namun agaknya kehidupan kontemporer Amerika juga terasa hambar, karena bukannya kisah semacam itu sudah sangat marak di kehidupan sehari-hari? Semacam Amerika lagi, Amerika lagi.

Kembali pada Mimpi

Untungnya segera saja kisah kantor Alfa bergeser pada perjalanan kembali pada mimpi yang telah lama ia hindari. Petualangan untuk kembali tidur ini membawanya hingga Tibet dan lebih dari itu, seperti halnya petualangan-petualangan tiga seri sebelumnya: membawa pada kedirian mereka. Ini mengajak pembaca memikirkan kembali hal-hal elementer dalam kehidupan: siapa aku dan mengapa aku ada.

Kisah Supernova memang selalu dalam satu visi untuk menampar manusia-manusia modern. Manusia yang lupa. Pada Gelombang pertanyaan tersebut dihadirkan secara lembut dan tersirat. Ini memang keahlian Ibu Suri, sebutan sayang penggemar Dee untuknya. Ia handal dalam menyajikan jungkir balik rasio sarat spiritualisme. Kehandalan berikutnya tentu kekuatan dan ketabahannya sebagai penulis dalam menjalankan riset pra penulisan, meski harus diakui Supernova Partikel lebih terasa genap dan kaya dalam hal ini – kiranya sebanding dengan lama waktu masing-masing penulisan.

Tapi tak elak lagi, Gelombang merupakan perayaan bagi mereka yang percaya bunga tidur punya makna tertentu. Sebaliknya, ia membawa kegelisahan bagi manusia kontemporer si super rasional.

Adakah ini Sebuah Mimpi yang Menjadi-jadi?

15 November 2014 masih seperti kemarin saja. Dee bertandang ke Jogja, aku berkesempatan meminta tanda tangannya, untuk kesemua koleksi buku karangannya yang kupunya. Banyak yang terperangah, termasuk Mba Dee sendiri. Seri Supernova awal yang kubawa terlampau klasik rupanya. Sedang bagiku, ini semacam momen yang sedikit membuat malu, karena fakta bahwa aku seorang penggemar layak dipertanyakan, sebab mengapa bisa baru kali ini punya kesempatan bertemu dan hunting tanda tangan Dee? Mereka yang punya koleksi buku lama alias penggemar lama pasti buku-bukunya sudah pada tertanda-tangani. Aku ini penggemar macam apa sih... Mungkin tipikal fansgirl yang itu ya: diam-diam hasrat ngefansnya terpupuk jua.

Aduh, apalah, aku ngga ngerti lagi. PENTING UDAH FOTO BARENG MBAK DEE!!! MAKASYYIIIIH, ALFA!! GARA-GARA MIMPIMU, MIMPIKU SEMAKIN MENJADI-JADI!! (??)
CIYEH TANDATANGANNNYA PAS HALAMAN KELL MONYONG MATI (TAPI NTAR DI GELOMBANG URIP MANING)!!!
Eh, bagi yang mau lelah-lelah baca hasil pembacaan empat seri sebelumnya, sila melompat ke (disclaimer: melelahkan!) http://pstparea.blogspot.com/2014/05/mabok-bersama-supernova.html
 
~uwis
 

Wednesday, November 05, 2014

TWO WHOM IT MAY CONCEWN


To whom it may concern.


Seperti, sudah lama sekali,
tidak membuatmu menjadi subjek,
di beberapa goresan tintaku.

Mungkin hanya serpih rindu,
Yang terbang berkelebat di atas kuning kertas ini (?),
Hingga menguak memori atas menulis dirimu.

Aku mengingat begitu banyak dirimu,
Di atas kuning di dua masa sebelum ini.
Juga di atas putih,
Dan yang berkombinasi biru.

Bentuknya bermacam-macam, kan.
Di bendelan ini ada yang sedikit visual.
Kala itu aku sangat ingini dirimu, namun juga tak ingin terikat dengan menggebunya sang ingin.
Tebaran huruf berbentuk puisi juga ada,
Yang gamblang bernada curhatan harian malah mendominasi.

Kamu yang bertebar dalam anganku,
dan termediasi dalam buih kata dan goresan..
Ah, sudah lama sekali rasanya.

13 Maret 2013,
di depan kantin SPS.

Sunday, October 12, 2014

Jangan Bangunkan Aku saat Oktober Usai (Don't Wake Me Up when October Ends)


Ada tangan yang tak kuasa menulis. Ada standar yang selalu berputar di benak. Laku menulis menjadi tindakan terbatas. Aku seakan hidup dalam jaringan tanpa faedah. Naudzubillah.

Sebut saja kurang dari seminggu saja Alfa sudah mbrojol ke bumi. Mak! Aku akan ketemu sama Bodhi lagi! Sama Etra! Sama (mungkin) Diva! Dengan kondisi di mana Bodhi dan Etra sudah sadar akan kedirian mereka! Alfa!! Ahhhh!!!! Bodhi! Mameeennn!!!!

Karena ini akan menjadi tulisan yang auk ah gelo', dan karena daripada tidak menghasilkan suatu tulisan, mari pokoknya tetap menulis: metode wawancara! Disclaimer: wawancara ini ditulis tanpa membaca spoiler Gelombang, tanpa membaca press release (padahal emang belum dirilis), berita, atau semacamnya. Semuanya berdasarkan otak kosong melompong karena memang otak saya sedang ga karuan. Dan tentu saja pertanyaan ini dari dan dijawab oleh saya sendiri.

1. Berharap Gelombang nanti berapa halaman?
Seribulah! Jelas! Apa enaknya baca novel nanggung cuma 400 halaman!

2. Emang pernah baca novel 1000-an halaman?
 Ga pernah. Tapi demi seri Supernova, apalah yang enggak. DEMI TULISANNYA MBA DEE APA SIH YANG ENGGAK!! DAN HARUSNYA EMANG SEGITUAN KALO NYERITAIN SUPERNOVA. APA NGGA KEPIKIRAN SI FIRAS SEKARANG DI MANA?? APA NGGA PENGEN TAHU SI ZARAH AKHIRNYA JADI ALIEN APA GA!!! (?)

3. Kira-kira Alfa cewe apa cowo?
Meski tak membaca spoiler, aku tahu dia laki-laki.

4. Agama Alfa?
Kalo Zarah kecil kan diajarin ngaji ya, Islam meski dia ngga ngerti kenapa dia ngaji, dan gedenya lebih ke yang agama tu apa dah. Tapi kulturnya jelas dia dibesarin di lingkup Islam atau yang resist ke Islam (lewat Firas misal). Ini aku udah nebak lah waktu baca cuap-cuap Mba Dee di episode 2.1 Akar (dengan Bodhi mamen sebagai tokoh utamanya). Namanya kan sudah agak-agak "islami" gitu. Bodhi dari nama dan kisahnya dekat dengan Budha. Elektra entah kenapa saat itu aku sudah menebak ia akan Kristen. Dan Alfa.... hmm, meski banyak orang menebak "kurang satu, nih!" (agama di Indonesia), yaitu Hindu, aku tetap menebak Alfa itu nantinya tak beragama alias atheis. Lha namanya aja sudah Alfa. Hahaha. Sangat spekulatif.

5. Ceritanya kemungkinan berlatar apa? Pengembaraan seperti Bodhi dan Zarah atau lebih ke Elektra yang meski diam di tempat namun mengembara jua dalam artian kedalaman kedirian?
Biar pas lebih ke Elektra dah (sepasang-sepasang :p). Kan ini Gelombang. Entah kenapa aku masih tertarik dengan dualisme cahaya, yah ini akibat membaca komik Niels Bohr dua tahun lalu. Dualisme itu adalah sebagai partikel dan gelombang. Dan dua itu tidak sama. Dan walau demikian, dua mereka bukan berarti berkebalikan sifatnya. Hanya tak sama saja. Cahaya sebagai partikel, itu semacam ia tak terlihat tapi tiba-tiba saja bisa menumbuk partikel lain, semacam wujudnya tak kasat mata, tapi terasa dalam hati. Cahaya sebagai gelombang lebih banyak terlihat wujudnya karena kita memiliki mata. Sebut saja pelangi, bolpen hijau, gelas merah, dkk. Zarah seperti selalu menghilang, tapi selalu memberi kesan mendalam pada tempat yang ia singgahi. Selalu bikin orang susah move-on. Alfa aku rasa ia harus jadi orang yang mudah ditemui sehingga besok kalau Gelombang udah terbit aku mau nyari alamat aslinya dan akan kuziarahi. Hahaha modus banget bahas dualisme cahaya ujung-ujungnya nyari alamat Alfa.

Jadi aku rasa Alfa akan berutinitas di suatu tempat layaknya Etra. Dia akan jadi pemrogram yang berurusan dengan piranti lunak komputer dan oleh karena itu ia selalu berurusan dengan gelombang (ya internet wi-fi, ya listrik/apa ya listrik gelombang (?), ya pokoknya bau-bau gelombang (?)). Dan tak hanya itu, bila ia bikin software pasti ada versi Alpha-nya, lalu beta, baru biasanya siap rilis (?). Serius ini ngarang banget (ya dari tadi emang ngarang banget).

6. Trus nemuin kedalaman kediriannya di mana?
Dalam Gelombang.

7. Ga seru dong karena Alfa bakal jadi sangat urban gitu?
Diva di buku I megapolitan banget, tapi mantab kan? Kisah Etra juga bikin perut terkocok-kocok. Mba Dee bakal nemu formulanya sendiri dalam membuat kisah. Ini aku yakin pertanyaan ke-7 muncul karena jawabanku yang programmer itu. I know how boring geek is. BAHAHAH NO OFFENSE.

Tapi kurasa bila petualangan lagi itu akan memberi kesan repetisi, dan biasanya tidak baik. Tapi bila bukan petualangan, susah menariknya ya? Justru di situ letak kehebatan Mbak Dee. Ia pasti bisa mengatasi ketidaktahuan saya sebagai pembaca. KITA LIHAT SADJA NANTI.

8. Kabar tentang Diva?
Diva akan diselamatkan di Intelegensi Embun Pagi. Kurasa pilihan kata "diselamatkan" terlalu berlebihan. Bodhi, Etra, Zarah, Alfa akan bertemu Diva di seri penutup, dan melakukan misi utama mereka. Mereka akan punya kostum masing-masing. Lambang petir untuk Etra, akar untuk Bodhi, partikel untuk Zarah, gelombang untuk Alfa. Lambang Diva adalah karikatur Mbak Dee. Berlima mereka menjadi Power Rangers, kali ini dengan lelaki berjumlah dua. Lawannya adalah yang tak kasat mata: ketidaksadaran.

9. Busyet dah?
Ember!

10. Pertanyaan terakhir: bagaimana kabar penelitian Anda?
!@#$%^&**#%(@!)(*!&2**!$#!@*()&^%$#!*@^%!!!!!!!!!!!!!!!


~selesai~
#rapentingrapopo

Monday, September 15, 2014

Pos 101


Selamat datang di Pos 101. Ini bukan pos 55, atau pun pos 102. Ini hanyalah pos 101. Apaan dah.

Dulu pernah ketika baru sampai di Yogyakarta (lagi) mau menempuh S2, semacam bawa barang banyak dari Malang, termasuk di antaranya membawa si Sepeda Hijau "Pogo", aku berpikir akan sangat indah bila mengarungi samudera Yogyakarta bersamanya. Tapi aku sadar aku tidak semuluk-muluk itu, karena bagiku bersepeda hanya akan memberikan kepuasan ketika yang kulihat di sekitar adalah pemandangan natural yang super alami, atau sebenarnya terserahlah apaan. Mungkin ini hanya cara buat diriku untuk menggambarkan langit yang kusuka. Aku tak tahu bagaimana melukiskannya, tapi bagiku yang natural itu selalu ada aksen angkasa menghiasi. Bilapun itu gedung tinggi-tinggi, selama aku berada di ketinggian tersebut, dan dapat melihat langit yang luas, aku memaknainya natural dan alami. Bila langit dipadukan dengan hijau pepohonan dan kemiringan jurang, sebut saja itu hal paling sempurna dan yang paling bikin air liur menetes. Pasalnya apalagi yang lebih membahagiakan daripada melihat angkasa di atas gunung?

Awalnya Si Pogo tentu difungsikan sebagai pengantarku ke sana ke mari utamanya ketika kuliah begitu. Hanya sebulan ia bertahan sebagai teman bermain ke perpus dan kampus. Red lalu menyusul dikirimkan ibuku ke Yogyakarta. Keberadaan Pogo akhirnya bergeser sebagai pemuas hobi: menikmati angkasa dan semilir Yogyakarta. Tentu seringnya hanya di angan-angan, karena terasa sangat main bersama teman-teman dan nongkrong di kamar lebih mengasyikkan. Gampangnya aku sebenarnya malas saja. Cita-cita bersepeda yang memberi kepuasan menjadi tanda tanya besar. Tapi sekali dua kali aku merasai nikmat itu. Memang belum dapat rutin menghancurkan partikel kemalasan, tapi sekalinya sudah dapat, rasa bahagia bersepeda menikmati angkasa membuncah memenuhi ubun-ubun.. (LEBAI WOEI!!!)

Sebenarnya angkasa apaan sih yang kumaksud? Habis gini lo, siapa sih yang ga berdebar-debar pas ngeliat merahnya senja, atau sempurnanya fajar? Jadi rencana sejak awal itu adalah mengejar fajar dan senja dengan si Pogo. Kenapa ga dengan si Red? Apalah ya enaknya menikmati alam dengan motor? Yang ada ntar di-tin-tin orang dari belakang soalnya motoran lambat banget.

Sebenarnya bersepeda sore jenak kulakukan ketika akhir-akhir S1 dulu, pas ngerjain skripsi juga (sekarang ceritanya lagi ngerjain tesis, ciye tesis). Sama juga misinya buat mengejar senja. Jadi ini semacam misi yang diperdalam lagi (apadaaahh). Rute sepeda senjaku dulu dan sekarang mirip. Dulu aku keluar jakal terus ke kentungan, menyusuri ring-road sampai ke Jalan Magelang, lurus ke selatan sampe Plaza Borobudur, belok kiri sampe bangjo, belok kiri sampe jembatan baru trus beli makan di Ngudi Rejeki sebelah teknik, baru pulang. Sekarang rute itu diperpanjang dari Plaza Borobudur belok kiri terus aja hingga kompleks UGM, lalu sampai Mirota aku lurus ke utara hingga Jakal lagi, kali ini langsung belok pulang ke Pogung tanpa beli makan. Sampai kos aku minum dan berbaring mendengarkan lagu kesukaan yang belum terputar, karena rute segitu ga sampai satu album kesayangan dapat penuh terputar. It takes only about 30 minutes.. Dari Kentungan ke Jalan Magelang itu yang waoh abis, soalnya aku semacam mengejar senja betulan karena arahku ke barat meski bukan untuk mencari kitab suci. Meski begitu, aku seringnya melewatkan saat-saat lebih amajing di sepanjang Jalan Magelang, ketika aku bersepeda ke arah selatan dan maghrib sedang menjelang. Tahu apa arti langit ketika maghrib menjelang? Merah yang menyala. Ya, sebelum aku sampai Plaza Borobudur, langit barat beratraksi dengan indahnya.... Dan ketika aku sedang memunggunginya menuju kompleks UGM, merahnya malah menjadi semakin jalang. Entah harus bersedih atau gimana ya, karena sekali-kali harus menengok ke belakang biar tak ketinggalan adegan super waoooohhhh itu. Tapi aku rasa tak usah bersedih lah, karena ini berarti penampakanku yang sedang bersepeda tengah dibayang-bayangi si mega merah. Nah, itu romantis sekali!!!

Maka ketika sampai aku di kosan, Maghrib sudah beberapa menit berlalu, istirahat sebentar dan mari sholat bila tak terlanjur kebablasan tidur.

Jadi ini sebenarnya ritual yang sejak S1 dulu sudah kulakukan. Tapi sebenarnya ada keinginan terpendam ketika aku baru sampai lagi di Yogyakarta dengan Pogoku. Si Fajar itu: gimana caranya agar aku dapat menikmati fajar. Akhirnya terumuskan saat itu juga, entah cita-cita atau cuma pepesan kosong: habis subuh bersepeda mencari fajar. Bila senja aku bersepeda ke barat, haruskah aku bersepeda ke timur untuk menikmati fajar?

Akan sangat merepotkan membayang harus menyeberang ring-road buat kembali ke kentungan. Tapi betewe, kenapa harus ring-road sih? Mudah saja jawabnya. Karena di situ aku dapat dengan gampang menikmati angkasa. Aku tak perlu begitu khawatir dengan mobil, dan yang harus kuperhatikan hanyalah motor yang kebut-kebutan, dan mungkin beberapa gundukan aspal sisa tambalan perbaikan jalan, mengingat Pogo belum dilengkapi sistem shock breaker yang canggih (?). Akhirnya waktu itu pun aku beride. Aku teringat dulu pernah KKN di daerah Godean, dan beberapa kali beramai-ramai dengan sohib-sohib itu melewati sebagian porsi ring-road barat. Di antara sebagian porsi tersebut, terdapat beberapa meternya yang berbentuk melayang seperti jembatan layang. Namun hanya sebagian kecil meter saja. Aku yang suka ketinggian diam-diam memendam keinginan untuk berhenti barang semenit dua menit empat menit hingga setengah jam juga oke di jembatan yang tak begitu layang tersebut, untuk menikmati pemandangan yang ada - angkasa yang ada, seperti halnya keinginan berhenti ketika melewati jembatan layang jembatan layang lainnya, entah itu di Janti, Lempuyangan, depan Panti Nirmala di Malang, ataupun yang di Ciputat. Pernah saat itu aku nyatakan keinginanku pada salah satu kawan KKN. Dia hanya tersenyum simpul - senyum yang berarti: I'm not ready for kiddo's wish. Brrrrrrrrrr. Mengingat kenangan ini, fajarku pun terumuskan: bersepeda ke ring-road "melayang" tersebut. Kemungkinan sepeda dapat berhenti di atas jembatan layang tentunya lebih besar ketimbang sepeda motor. POGO, AYO KITA CARI FAJAR KITA DI BARAT!!!!

Dan cita-cita itu baru terealisasikan setelah dua tahun berlalu sejak dicetuskannya ide tersebut di 2012. Betapa kamfreto. Tapi entah mengapa aku selalu suka Jeki yang begini... :) FEEL BLESSED GITU BISA MERAIH HAL YANG SEJAK DULU DIINGINKAN DAN YANG SEJAK DULU DIRENCANAKAN DAN YANG SEJAK DULU GAGAL GAGAL MULU MAU DILAKSANAKAN SOALNYA GA BISA BISA BANGUN PAGI (capslock jebol). Awalnya aku merutinkan sepedaan senja dulu, senyum-senyum liat si mentari mau tenggelem pas di Jalan Magelang, sok-sok bahagia diterpa sinarnya pas di bangjo monjali. Habis itu Jumat malam kemarin aku beranikan diri berprinsip bangun subuh-subuh. Gagal tentunya, dan menyumpah-nyumpahi diri sendiri saat siang harinya, sembari bertanya-tanya kenapa aku ketika sesaat dari bangun tidur berbeda sekali dengan aku ketika terjaga sepanjang hari. Seperti memiliki dua kepribadian. Waktu mata baru terbuka bilang: kalo jam segini takut masih gelap ntar liat hantu di tempat-tempat yang kiri-kanannya masih sawah (?), pas siang lalu bilang: WOEI NYESEL AKU GA JADI MENGEJAR (DIKEJAR?) FAJAR! KKENAPA TADI GA MAU BANGUN!!!

Akhirnya Minggu kemarin tahu-tahu aku mau bangun aja. Segera bersiap setelah Subuh. Hape sudah penuh baterainya, lagu sudah pula sedia untuk turut serta mengiringi perjalanan. Makan roti dua cuwil dan lalu minum barang seteguk dua teguk demi mendamaikan asam lambung. Aku berangkat dengan senyum mengembang. Dan rupanya langit selepas subuh itu tak begitu gelap. Lihat betapa aku sudah lupa akan kenyataan ini - betapa aku sudah lama tak bangun subuh, tak keluar sehabis subuh. Kehidupan mahasiswa sungguh melenakan. BAAAAAAAAHHH!!!

Keluar jakal aku ke kentungan, lalu belok kiri menuju Jalan Magelang tapi tidak untuk menyusurinya ke selatan, tapi aku lanjutkan ke barat, tetap di ring-road dengan mentari pagi sudah menyinari punggung. Agaknya memang terlambat, dan langit tampak agak mendung, tapi tak apalah. Jembatan itu menungguku. Kukayuh sepeda hingga sudah aku di penghujung ring-road utara, berbelok curam dan arah bersepedaku menjadi ke selatan - berarti aku sedang menyusuri ring-road barat. Kukayuh sepedaku tak begitu melelahkan karena rupanya daerah selatan lebih rendah dari utara, sebut saja bonus meski secara kasat mata ia tak tampak landai. Sepeda dan kayuhanku dapat membuktikannya. Jika tak percaya mungkin butuh dibuktikan sendiri (challenge accepted? :P). Ketika One Republic masih saja berdendang buatku, aku menyaksikan aspal ring-road yang mulai menerjal: tujuanku sudah di depan mata. Akhirnya energi berlebih aku keluarkan untuk mengayuh Pogo, mengingat jurang yang harus kutempuh. Tak sampai lima menit aku sudah di atasnya. Matahari masih tertutup awan, tapi kelebatannya sudah membuat semburat awan berwarna-warni sejak tadi. Jelas fajar utamanya (?) sudah lewat. Atraksi warnanya juga sudah kunikmati ketika menyusuri ring-road barat tadi. Tapi aku melihat timur di sisi kiriku, yang meski fajar paling awalnya sudah lewat, masih tampak sisa-sisanya menghiasi. Pemandangan renik yang tak begitu renik, tempat KKN-ku, dan...... damn aku baru ingat, di bawah jembatan layang ini ada........ rel kereta api. Aku lupa ini sebabnya ring-road barat dibikin melayang beberapa meter saja. Baru aku sadari ketika sampainya Pogo dan aku di sini. Aku tengok ke bawah lagi, dan mendapati dua rel itu lurus berdampingan, terlihat seakan bertemu di habisnya horizon di kejauhan, tapi bila diperhatikan lagi, mereka hanya sejajar selalu beriringan, selalu demikian tanpa pernah bisa bersatu (WOEI GA USAH GALAU LAGI WOEII!!!)

Lalu satu kenyataan yang benar-benar penting muncul: menengok ke angkasa utara agak ke sebelah timur dikit, aku dapati bentuk kerucut menyembul samar-samar di balik awan. Bila tak memperhatikan dengan detail, aku tak akan bisa tahu keberadaannya. PUNCAK MERAPI BOOOOKKK!!!! *nangis girang*. Badannya tak dapat kulihat, hanya puncak kerucut itu yang tampak. EMANG AGAK MENDUNG SIH, TAPI BERARTI DARI SINI BILA LANGIT SANGAT JERNIH, BISA DILIHAT MERAPI (DAN MUNGKIN MERBABU) YANG GAGAH GUMIGAHHHH!!! AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAKKKKKKKK!!!!!!! Maka aku sekali lagi bercita-cita ke sini lagi pas langit jernih...... semacam CHALLENGE ACCEPTED! (entah kapan itu terlaksana). Penampakan itu seakan memang ditujukan buat kulihat, karena tak lebih dari dua menit setelahnya, ketika setelah beberapa saat pandangku berkeliaran melihat hal lain, mataku kembali menuju titik tersebut dan kudapati puncak merapi itu sudah musnah ditelan awan. Meski begitu hatiku masih buncah berbahagia, semacam: ei, ada yang ngasih kode, nih.. (?/PEDE DIKODE GUNUNG)

Setelah puas, kosan menjadi tujuan kedua. Tak begitu lelah, aku lanjutkan memutar One Republic (ini lagu kesukaan +Syahrina jugak lho!), mengayuh Pogo hingga ketemu bangjo, belok kiri lurussss teruus menuju timur (yang sayangnya aku tak dapat melihat langit dengan leluasa karena bangunan-bangunan rumah, dll.) dan merasai lambungku membuncah dahsyat, dan sesaat aku merasa tenggorokanku mulai bereaksi aneh agak mau batuk, muntah, apalah ga jelas, tapi akhirnya tahu-tahu saja aku sudah berada di kilometer nol dalam keadaan baik-baik saja alias lapar itu sudah lewat. Di sini aku menyadari betapa bangunan kantor pos itu indah, apalagi dengan gebyar matahari yang tahu-tahu nyembul sudah agak tinggi di porsi langit timur yang tak tertutup awan.

Perjalananku berlanjut ke timur ketemu taman pintar dan belok kiri ketika bertemu bangjo setelahnya, terus menyusuri Jalan Mataram hingga habis, dan aku merasa kelelahan sangat ketika harus melalui tanjakan menuju Kota Baru. Lapar memang sudah tak kurasa, tapi tubuhku sudah mulai lunglai. Hahaha, nekat ini namanya. Aku merasa jalanan itu yang paling berat sealama One Republic berdendang pagi ini. Gile ye. Tapi tetap lanjut hingga Padmanaba, belok kiri ke bangjo Gramedia, lurus ke gerbang kampus aka. bunderan UGM, belok kiri Mirota Mampus dan belok kanan menuju jakal. Saat di Mirota Mampus aku dengar lagu sudah berubah. Total lagu terputar sejak berangkat hingga akhirnya aku beli gudeg di seberang gang Ishiro adalah sealbum Native One Republic plus tiga lagu lainnya: John Legend All of Me, Say Something-nya A Great Big World feat. Christina Aguilera, dan The Fault In Our Stars-nya Ed Sheeran (WAAAAA!!!). Semacam satu setengah jam begitulah.

Fajar yang terlambat terkejar
Dua rel yang tak pernah bertemu (ciyaan deh)
Bangunan nol kilometer dan mentari yang yahut
Bubur gudeg enem-ribuan dengan rasa mantabjaya!
Rute dari gugel (ciyeh 21.8 km :p)

Tiba di kosan aku teringat bakso arema depan dokter YAP. Berniat mengeksekusi nanti ba'da Dzuhur, tapi akhirnya aku memutuskan bikin pelecing kangkung, mengingat ada ayam goreng Al-Maidah masih tergeletak nganggur di kamar. Mungkin aku akan ke sana setelah pos 101 berikut ini.

*Ending kacau ini dipersembahkan oleh tesis madesu!
*Eniwe, ini lututku kumat, OSTEOARTHRITIS, PRETTT!!!

Saturday, July 26, 2014

Bila Aku Duduk Tenang Begini


Bila aku duduk tenang begini, memori liarku mulai berjalan-jalan dengan sendirinya. Mengenang banyak hal. Hal-hal yang melintas tentulah sangat random – maka dari itu kusebut liar. Kadang aku menuju sekolahku dulu ketika sedang menarik perhatian seorang kakak kelas pujaan hati. Kadang aku tiba-tiba berada di obrolan kemarin. Kadang aku di pantai sedang bersenda gurau dengan kawan karib. Kadang aku di gunung sedang menahan dingin yang menusuk tulang. Kadang aku di kamar sedang menangis tersedu sedan. Berjuta duduk tenang berarti pula berjuta mengenang, berjuta kenangan. Namun bila dengan posisi ini, di hari ini, aku jadi mengenang yang itu.

Aku sedang duduk dalam bangunan yang hanya tersisa dua manusia di dalamnya: aku, dan satu lagi temanku yang sedang asyik menghabiskan jatah film di kamarnya. Yang lain sedang menikmati Minggu pagi di alun-alun kota, mencoba mengalahkan kicau burung dan hiruk pikuk kendaraan pagi. Tentu hari Minggu adalah perayaan kata bagi mereka. Di hari apa lagi mereka bisa sedini ini berceracau? Di hari apa lagi, sedang enam hari yang lain mereka telah diperas untuk mau berbahasa yang itu-itu juga, untuk berpikir itu-itu juga? Yang mereka lakukan saat ini sebenarnya beraroma rutinitas juga. Ceracau mereka saat ini pasti tidaklah berbeda jauh dengan ceracau mereka Minggu lalu dan kemungkinan besar akan sama nadanya dengan ceracau mereka di Minggu yang akan datang, dan Minggu-Minggu berikutnya, dan berikutnya. Namun biarlah, yang begini ini jauh lebih menyenangkan karena paling tidak aku bisa melihat para robot dapat tersenyum dan tertawa lepas. Hanya di hari ini, hari Minggu.

Aku berada di depan televisi sekarang – duduk di depan televisi mati. Dalam kos yang penghuninya berjumlah enam belas orang ini, lengangnya zona televisi adalah hal yang sangat langka, apalagi di pagi yang masih dini seperti sekarang. Biasanya ada saja yang menyalakannya – ditonton kemudian ditinggal lalu-lalang, atau ditonton sampai akhir hari menyapa. TV harus diatur pada volume yang keras, karena bila sudah berkumpul, beberapa orang lebih senang bercerita dan pada akhirnya ada pihak yang merasa harus memperbesar volume suara TV, atas dasar tak mau ketinggalan cerita program yang sedang dilihatnya. Menurut prinsip ekonomi yang masih sedikit kuanut, kesempatan seperti ini harus kugunakan sebaik-baiknya. Aku tak mau rugi tentunya. Sudah cukup aku mendengar keras suara TV yang hanya dapat merusak kebersamaan seluruh anggota kosku. Sudah, kucukupkanlah argumenku, biar kini aku berbincang saja dengan TV yang tumben-tumbennya diam ini.

Aku sendiri telah melahap sarapanku yang terdiri dari sayur jamur yang terkombinasi apik dengan hijau sawi, dan tempe goreng, tak lupa nasi putih tentunya. Protein hewani kunilai terlalu berat untuk sarapanku – berat di ongkos. Kertas bungkusnya masih terbuka di depanku, bersih tanpa sisa. Aku membelinya di warung parasmanan sebelah perempatan jalan depan. Dudukku melipat lutut, tak lurus menghadap televisi sehingga aku harus menoleh sedikit ke kiri untuk dapat menangkap bayangan kurusku. Mataku beradu dengan bayangan dalam kaca televisi. Sensasi nyaman yang diberikan oleh perut yang terisi penuh segera saja membawaku pada pikiran-pikiran santai. Hari ini memanglah hari bersantai, hari yang menyenangkan. Aku tak perlu menyalakan televisi ini, karena kali ini aku hanya akan menikmati kediamannya, sebelum teman-temanku datang. Toh juga, aku sudah pernah menjadi penganut setianya. Bila kuingat-ingat lagi, lebih dari 12 tahun aku pernah menganut sekte “Sehari Minggu Penuh Dibodohi TV”. Semua selalu kuhubungkan dengan seminggu (enam hari) penuh berkonsentrasi di sekolah yang berarti TV adalah hak penuh bagiku di hari Minggu. Tidak ada yang boleh mengganggu ritual menonton kartun kesayanganku – kecuali sarapan. Namun ini tidak berlaku ketika bapakku di rumah.

Karena berbagai alasan, sejak umurku 5 tahun bapak dan ibuku harus hidup terpisah. Ibuku di rumah, dan bapakku harus bekerja di kota yang berbeda. Awalnya bapak hanya pulang satu bulan sekali, namun ketika aku duduk di kelas 3 SD, rutinitas pulangnya menjadi dua kali lebih sering yaitu dua minggu sekali. Bapak pasti sampai di rumah di hari Jumat dan pergi lagi di hari Minggu. Hanya di hari Minggu pagi inilah kita sekeluarga dapat berkumpul sepenuhnya seluruh waktu karena kami anak-anaknya masih harus sekolah di hari Jumat dan Sabtu. Sejak saat itu aku mulai mengenal hari Minggu yang tanpa kartun. Bapak sangat tidak senang melihat anak-anaknya bermalas-malasan di depan TV, melihat sesuatu yang menurutnya tidak penting. Menurut bapak TV itu membuat bodoh. Argumen seminggu berkonsentrasi di sekolahku pun habis tak bersisa di depan bapak. Kami harus mematikan TV di minggu pagi. Tak terkecuali ibu dan bapak sendiri, titik.

Bapak selalu berkutat di kebun. Di suatu Minggu pagi saat pulang, bapak mengerahkan seluruh anggota keluarga untuk membersihkan kebun salak yang baru saja dibeli. Luasnya sekitar dua kali luas lapangan bulu tangkis. Letaknya tepat di depan rumah kami. Selalu ada imbalan yang bapak beri setelah kami lelah bekerja, jadi kami dengan girang melakukan semua tugas yang diberikan bapak. Waktu itu aku masih duduk di kelas 4 SD. Tugasku menyapu tanah kebun yang kotornya minta ampun. Aku dibantu oleh salah satu kakakku. Yang lain melakukan pekerjaan yang lebih serius: membenahi pagar, memotong dahan-dahan, dan lain-lainnya. Ibu pun turut serta. Bapak dengan gagahnya mengomando kami semua untuk bekerja.

Di suatu Minggu yang lain, aku telah menjadi teman setia bapak dalam berkebun. Tugas utamaku masih menyapu. Tugas sampinganku mencari bunga salak jantan untuk diserbukkan ke bunga betina yang sudah mekar. Bila aku dapat banyak bunga jantan, aku akan diberi banyak bonus. Bonus adalah sesuatu yang kuidam-idamkan ketika bapak pulang. Arti bapak bagiku mulai berubah sejak saat itu: bapak berarti bonus dan itu berarti aku dapat menabung lebih. Aku mulai senang ketika bapak pulang walau itu berarti kartunku hilang.

Namun pernah juga aku dibikin sangat sedih, hingga rasanya kepala ingin meledak. Siang itu adalah Minggu siang ketika bapak sudah bersiap meninggalkan rumah lagi. Seperti biasa, kami berkumpul untuk makan bersama. Ibu, bapak, aku dan ketiga kakakku, juga satu sepupuku membentuk lingkaran kecil. Setelah bapak selesai makan, ia berpamitan. Momen seperti ini biasanya berarti uang saku, momen yang kutunggu-tunggu. Bapak memanggil kakak pertamaku. Ternyata bukan uang yang diberinya, namun oleh-oleh dari tugas bapak ke luar kota. Kakakku itu mendapat baju. Masku yang merupakan anak kedua mendapat celana pendek. Kakak ketigaku mendapat kaos bermain. Sepupuku pun mendapat celana. Aku menunggu namaku disebut. Belum juga aku dipanggil untuk diberi oleh-oleh. Ketika bapak mengucap salam meninggalkan rumah pun belum ada kudengar namaku. Aku bingung dalam diam. Mukaku pasti sudah merah padam waktu itu. Kutengok ibuku, berharap jatahku berada di tangannya. Tak ada reaksi. Pupus sudah. Harap terlalu tinggi. Aku pergi ke kamar, meledakkan tangisku dalam diam. Tak seorang pun tahu. Tahu pun semuanya diam, pura-pura tidak tahu, karena aku hanyalah seonggok daging berumur 12 tahun yang dipanggil “Dek” oleh mereka. Tak penting mempermasalahkan tangisku.

Kupikir dendamku akan menjadi kesumat karena peristiwa itu. Ternyata tidak. Di masa SMP, aku masih menjadi partner kesayangan bapak untuk menyapu kebun, menjadi satu-satunya partner bahkan. Tentulah aku yang paling bisa membantu karena kakak-kakakku sudah mulai keluar rumah. Dua kakakku sudah kuliah di kota lain, sedang satu lagi kakakku yang masih SMA sedang sangat sibuk dengan kegiatannya, sepupuku sudah diboyong bapak ke kota tempat bapak bekerja agar bapak ada temannya. Minggu tanpa kartunku berakhir dengan bonus tunggal, untukku seorang.

*

Minggu bapakku semakin sepi kala aku SMA. Aku satu-satunya anak yang masih tersisa menemaninya kala pulang. Di masa ini aku sudah berani curi-curi kesempatan untuk tidak menjadi partner berkebun bapak. Aku mulai mbeling dan kadang berani kembali menjadi budak kartun kala bapak sedang di kebun. Alibiku sangat pintar, atas nama sangat lelah telah berlatih Paskibra, ekstra kurikuler yang kuikuti di SMA, di hari sebelumnya. Kadang bapak menyerah dengan alibiku waktu itu, namun seringnya aku harus dengan dongkol hati menemani bapak ke kebun. Diriku waktu itu sedang dalam masa pembangkangan, membangkang semua yang dikatakan bapak. Ibuku yang cenderung demokratis bukan merupakan pihak yang kutentang – malah sebaliknya, aku sering memanipulasinya untuk membelaku di depan bapak. Bila kubayangkan pasti saat itu bapakku selalu mengelus dada ketika menghadapi putri terakhirnya mulai tidak menuruti kata-katanya.

Ketika aku kelas dua, ibuku dengan bijak mendamaikanku dengan bapak. Kurasa bapak yang menginginkan perdamaian ini – pastilah bukan aku karena aku adalah pihak yang tak waras. Jalan yang dipilih ibuku sangat-sangat tak kentara, sangat halus. Ibu menyuruhku mengirim makanan menyusul bapak di kebun. Kebun yang kumaksud bukan lagi kebun depan rumah. Sudah ada satu lagi kebun salak sekitar 300 meter jauhnya dari rumah. Kebun baru ini berada di areal kuburan, hanya dibatasi oleh jalan selebar lima langkah dari kumpulan batu nisan. Aku naik sepeda mengantar makanan untuk bapak. Awalnya kuantar saja lalu kutinggal pergi. Tega sekali, bukan? Ya, pada awalnya memang demikian, namun berikutnya kebiasaan ini berubah. Aku mulai mau ikut bapak jalan kaki ke kebun dan membawa bekal dari rumah. Awalnya hanya satu jam saja aku bisa menemani bapak, setelahnya aku merengek minta pulang. Pol-polnya sampai satu setengah jam. Namun di perjumpaan-perjumpaan berikutnya aku bisa tuntas melaksanakan tugas. Aku bersama bapak lagi. Menjadi patner berkebun terbaik bapak lagi.

Di suatu hari Minggu pagi yang lain, kala aku duduk di kelas tiga SMA, bapak mulai berbicara serius denganku. Kami sedang berada di kebun dekat kuburan, tanpa bekal karena bapak hanya ingin menengok kebun ini sebentar saja. Bapak memang selalu serius bila bicara, namun kami sangat jarang mengobrol tentang diriku. Bapak biasa mencurahkan hati padaku tentang kondisi anak-anaknya yang lain – kondisi kakak-kakakku. Ia biasa menginspirasiku dengan bercerita tentang yang lain. Bapak tak pernah membahas hal-hal yang remeh temeh semisal aktivitasku di sekolah. Satu jawaban sudah cukup bagi bapak. Bila bagus ia diam, bila mulai mengkhawatirkan ia akan berpendapat. Bapak pun membuka pembicaraan tentang jenjang sekolahku. Aku hampir lulus SMA. Aku berada di gerbang lagi. Bapak menyarankan beberapa ide. Namun kali itu harus kutolak semua opsi bapak. Aku ingin jalanku sendiri. Bapak tentu tak setuju dengan pilihanku. Kami pulang dari kebun tanpa kata terucap. Dua dari kami sedang ingin berperang dingin.

Ibu tetap menjadi pencairnya. Kali itu ibu seperti meminta hak penuh untuk “memegang”-ku karena setelah perang dingin yang tak begitu membekukan itu, ibuku berperan penuh dalam penentuan pilihan jurusan hingga berhasilnya aku masuk ke salah satu universitas terbaik dalam negeri. Bapak hanya tersenyum dengan hasil kinerja ibu. Entah senyum puas atau senyum prihatin, karena walaupun universitasnya bagus, jurusan yang kuambil bukanlah area yang disukai bapak – bahkan merupakan jalur yang sangat diwanti-wanti bapak untuk tidak diambil.

*

Hari Mingguku di masa kuliah seringnya sudah tanpa bapak, dan tanpa kartun. Tanpa bapak karena aku waktu itu sudah kuliah di kota lain sehingga tak bisa lagi mendapati kepulangan bapak. Tanpa kartun karena aku sudah bukan penganut sekte “Sehari Minggu Penuh Dibodohi TV”. Aku punya hal baru yang membodohiku. Minggu tak lagi menyatukanku dengan bapakku. Bapak dan ibu sama-sama jauh, sejauh diriku dengan saudara-saudaraku yang lain. Hubungan kami hanya via sms atau telepon, berkumpul bila Hari Raya, atau bila ada acara yang mengharuskan kami berkumpul. Namun bila libur semester aku menyempatkan pulang barang beberapa hari, kutepatkan dengan hari kepulangan bapak, hingga aku dapat mengulang ritual hari Minggu seperti yang dulu.

Kebun dekat kuburan sudah bukan lagi kebun salak seperti pada awalnya. Bapak membongkar semua pohon salak, dan menggantinya dengan, percaya atau tidak: durian. Obsesi bapak terhadap durian memang sangat tinggi. Bahasan durian di mata bapak tidak hanya bahasan buah enak, namun juga tentang filosofi tanam-menanam durian. Bila ditanya mengapa menanam durian, bapak selalu menjawab untuk persiapan jenjang magisterku kelak. Sungguh betapa alibi.

Pada suatu libur semester, aku memutuskan untuk menghabiskan dua bulan penuh liburanku di rumah. Hari aktif berarti berleha-leha di rumah jadi budak TV, dan akhir minggu bila bapak pulang berarti menjadi partner berkebunnya. Saat itu sekitar 3 kali aku mendapati kepulangan bapak: 3 kali hari Minggu.

Kepulangan pertama, pembicaraan kebun kami lebih serius dan intens daripada pembicaraan berbulan-bulan yang lalu – tentu bukan mengenai persoalanku. Bapak bercerita dan minta pendapat, tentang masalah yang menurutnya mulai menggerogoti ketenangannya. Aku hanya dapat menimpali sebisaku karena tahu apa lah diri ini di kala umur masih berkepala satu. Saat itu aku lebih menjadi semacam pendengar setia yang usil daripada partner berkebun, karena yang kulakukan hanyalah ada untuk bapak: mendengar dan memberikan celetukan-celetukan – berharap semoga bapak dapat tersenyum atasnya, melupakan sejenak masalah tersebut. Aku mulai berat melepas pamitan bapak di hari Minggu siang.

Di hari Minggu terakhir atas liburanku di rumah, ibu dan bapakku berargumen panas. Ada aku dan kakak pertamaku di sana. Kami hadir sebagai penengah. Mereka tengah membicarakan rencana pernikahan kakak ketigaku. Wajah kami tegang semua. Ibu mengeluarkan air mata emosi dan bergegas ke dapur. Bapak pun terdiam seribu bahasa, memendam apa aku pun tak tahu. Aku menyusul ibuku, merayunya agar mau menerima ide bapak, atas nama kebahagiaan bapak. Aku membujuk ibuku dengan bukti tekanan yang beberapa bulan terakhir menyerang bapak. Melunaklah hati ibu dan putusan pun akhirnya dibuat. Bulan depannya kakak ketigaku akan menikah.

*

Wajah bapak sedikit kaku dan terlihat tidak santai sama sekali di hari Minggu ini, ketika menantu barunya mencoba membaur dalam lingkaran kecil keluarga inti kami. Kakakku sudah menikah kemarin dan kami sekeluarga melihat senyum puas bapak mengembang kala kata “syah” diucapkan di ruang tamu. Bapakku bahagia sekali. Namun itu sudah lewat. Kini adalah hari Minggu, dan bapakku harus pergi lagi. Aku harus sekali lagi melihat punggungnya pergi mengecil lalu hilang di kejauhan. Kami tak akan berjumpa lagi untuk beberapa waktu. Aku harus kembali kuliah. Dan hari Minggu lain yang menyatukan kami masihlah merupakan sebuah misteri.

*

Namun aku tak menyangka misteri itu adalah hari Minggu ini, 5 minggu setelah hari Minggu terakhir kami bertemu. Kami berkumpul, namun tidak berdiskusi di kebun atau sedang asyik mengobrol di ruang makan. Aku, bapak, dan ibu berada di ruangan asing. Ada dua tempat tidur di sana. Bapakku terbaring di salah satunya yang paling dekat dengan pintu keluar. Alat bantu pernafasan, alat bantu makan, dan infus sudah lengkap menghiasi penampilan bapak. Dari balik bajunya keluar kabel-kabel yang disambungkan dengan monitor berisi informasi tekanan darah, jumlah oksigen dalam paru-paru, dan juga diagram pulsa jantung. Bapakku terkena stroke. Dua hari lalu bapak jatuh di kamar mandi setelah menghabiskan takjilnya. Aku tak bisa lagi berbincang dengan bapak. Aku mencoba menyapa namun tak kudengar ada balasan. Hanya mata bapak yang mencoba berbicara. Bapak menatap mataku lekat-lekat, mata putri bungsunya. Aku tersenyum dan kembali menyapa, mencoba tetap tegar mengucap kata, karna diam berarti mengiris-iris hati kami berdua, atau malah bertiga, karena ibu ada di sebelahku.

Yang kutahu itulah hari Minggu terakhirku dengan bapak. Itulah pandangan mata terakhir bapak untukku. Pandangan mata yang menembus jiwaku. Bapak meninggal di sekitaran Maghrib keesokan harinya, setelah seharian dinyatakan koma. Tak ada lagi diskusi hari Minggu ala bapak-anak di kebun durian. Tak ada lagi punggung yang semakin kulihat semakin kecil menghilang. Tak ada lagi senyum khas yang merespon celetukan-celetukanku.

Sejak saat itu hari Mingguku mulai menjadi hari yang standar. Tak banyak hal spesial yang terjadi. Tak ada rutinitas unik yang berbeda dari rutinitas orang kebanyakan. Dan kali ini aku memilih bermalas-malasan saja membaca apa yang ada, selain itu tentu aku sudah mengenang, mengenang bapakku.

Kulihat kembali bayanganku di kaca televisi yang masih mati. Tak terasa mataku sudah basah sedari tadi. Kuseka sisa-sisanya dan kuteguk air yang ada di sebelahku. Aku beranjak membereskan sampah sarapanku dan membuangnya. Duduk tenang memanglah senang, namun bila terkenang sangat mungkin hati akan jadi bimbang.

Pare, awal Mei 2012.
Ditampilkan di sini untuk mengenang kematian bapak, dua hari sebelum Iedul Fitri enam tahun yang lalu. Mohon Al-Fatihahnya ya.. :)

Saturday, May 31, 2014

They Gave Me Words Three Years ago


What do you think about me?


What I think about me: stubborn yet compromisable, open to all possibilities - thus I'm simple but complicated, complicated but simple. And one more thing: I don't read mind.

This was almost three year ago project, when I proposed Indonesia Mengajar (and was rejected). I'm so glad that I found Swivel, because this project was stuck after I finished its flash format in a year ago's Ramadhan. Actually it was just me too lazy to learn and execute the Action Script work on Flash to develop the video player format. I needed to make timeline on my motions, and the play/pause button as well, yet it was so hard to once again read some tutorial which include code and code. Moreover it was so not delicious. I realized I learn another form of code lately. So simply I just run away from the final touch.

Universe answer. Google led me to Swivel, the (so far) best swf converter into common video formats. Thus I can "air" this project in Youtube (fyi, Youtube doesn't care swf). I was so glad that I can't tell.. It was like the dream coming true, or whatever.. I'm just really grateful that this project done, I made it passionately, although the result is completely just so so.

This very first idea was from Apple +Syahrina. I wondered why Indonesia Mengajar didn't take me as Pengajar Muda; the reason they refused my essay (now I know); why they didn't like my background (now I guess I know), since I'd failed twice simply at first round (administration). I remind you that I'm a narcist subject (just like I did in my previous posts). So I thought that I, with all of those qualities I had
(huekcuih), should deserve to be Pengajar Muda. Apple (seemed) agreed (really?), and she floored the idea of making kind of testimonial things (perhaps she meant for portfolio, but I took it as something like this, wkwk). She targeted video, something to represent me more than I usually did, something that in her opinion "will show them the real me". I had no idea about promoting my own self, so I agree 110% (blahblah). I could only do flash. I contacted best friends, old friends, new friends, blah blah blah, those who knew me (no lover included, nor was ex-lover). So it was indeed kind of my self-ego towards Indonesia Mengajar. But absolutely I failed to finish it on time, and Indonesia Mengajar never got this video, fortunately.

The reason I still worked on it was because I thought it'd be good if I finish it for the testimony contributors, for my friends out there, to remind them the words they defined for me, to recall the moment when they picked the right metaphor of me, to drift their feeling back into the night when they pictured me. For me, what they did is definitely a treasure. And this is for them. Thank you very much for the words.. :')


Friends' Testimony

p.s.:watch HD for the best result :*

Friday, May 30, 2014

Mahameru itu Berada di atas Semeru (6 - finale)


Arcopodo - Ranu Kumbolo, 27 Desember 2011


Senja mulai menjelang ketika kami sampai kembali di Ranu Kumbolo. Perjalanan turun cukup menyenangkan, dengan sedikit berlari dan tempo yang tak tergesa. Arcopodo seketika menjadi senyap oleh kehadiran manusia saat kami meninggalkannya. Seluruh pendaki yang sejak kemarin menempatinya sudah turun, sementara belum ada satu pun rombongan calon penyerang Mahameru berikutnya yang sampai di titik tersebut. Keadaanku tidak begitu prima, keadaan seluruh tim juga kurasa. Asupan makan kami jauh dari kata sempurna, karena kami memilih membaringkan badan daripada membuat makan. Beruntung ada roti yang cukup bisa mengganjal. Kiranya kisah dini hari tadi sungguh menyita stamina. Namun kembali aku bersyukur sudah dapat melewatinya. Aku jadi teringat rombongan alumni Geologi yang kemarin kami temui di gerbang menuju Arcopodo. Bisa jadi kami memiliki kisah yang serupa.

Arcopodo - Kali Mati kami tempuh selama kira-kira setengah jam, dan sempat kami lihat Mahameru yang tersingkap dari serbuan awan putih di atas sana. Aku mengirimkan senyum padanya, seperti senyum-senyum yang kulemparkan dari rumah untuknya di hari-hari sebelum pendakian ini (dan kelak setelahnya). Baru 30 menit berjalan, persediaan air yang masih cukup, dan juga kiranya menghindari spekulasi pikir atas kemungkinan hujan, kami segera beranjak dari Kali Mati. Mendung tipis bergelayut hingga kami mencapai Cemoro Kandang. Terjalnya daerah tersebut memaksa kami beberapa kali istirahat, saling kejar-mengejar dengan beberapa rombongan yang juga turun. Dalam sebuah berhenti, seorang mas-mas dari rombongan lain menghampiriku dan memberikan slayernya padaku. Nantinya setelah di rumah aku baru sadar slayer itu masih steril belum sempat dipakai, meski kurasa tidak baru. Aku yang terlampau lelah tak sempat menjadi heran, walau sempat kudengar kata salut darinya karena aku seorang perempuan dan berhasil mencapai Mahameru. Setelah kupikir-pikir lagi mungkin ia adalah salah satu yang sempat melihat versi hampir beku diriku di peristiwa menyerang Mahameru tadi. Aku ucap terima kasih dan langsung kumasukkan dalam kantong ranselku. Setelah berjalan kembali dan berpisah jarak dengan rombongan mas-mas tersebut, teman-teman berpesan untuk hati-hati, mereka takut slayer itu sudah diberi mantera tertentu. Aku afirmatif sepenuhnya, berharap mendapat mantera expelliarmus meski aku tak punya tongkat sihir.

Sesampainya di ujung Cemoro Kandang dan kembali melihat megahnya Oro-Oro Ombo Penawan Hati, kami kembali beristirahat sebelum menceburkan diri ditelan keindahan padang tersebut. Matahari kini tampak bersinar miring beserta awan kapas yang mengiringinya. Aku melihat dan teringat satu tanda yang sangat penting dalam pendakian Semeru ini, sebuah benda yang menjadi penanda bahwa kita berada pada jalur pendakian yang benar: pita plastik beraksen hitam-kuning, mirip sekali dengan motif kantong kresek hitam-putih yang biasa ditemui di pasar (yang dari  kejauhan kurasa bahannya juga serupa kantong kresek tersebut). Aku menyebutnya "police line". Tanda ini ada hingga batas vegetasi sebelum jalur pasir menuju Mahameru. Guide selanjutnya yang mencegah pendaki tersasar hingga seremnya bisa masuk ke blank 182 75 adalah tugu-tugu kecil setinggi pinggangku, yang keadaannya sudah miring-miring - kurasa akibat aktivitas vulkanik Semeru. "Police line" biasanya diikat di ranting pohon atau di badan pohon. Guide utamanya tentu papan-papan spotlight penunjuk arah. Walau demikian, kehadiran si hitam-kuning menjadi isyarat sebuah aman, mengingat papan-papan penunjuk arah hanya ada di titik-titik atau belokan-belokan krusial.

Di Oro-Oro Ombo kami tak berlama-lama menceburkan diri, dan memilih jalan cukup datar (meski panjang) yang mengakseni bukit hijau di sebelah kanan - jalur yang kemarin tidak kami pilih. Kini kiranya jalur kemarin membutuhkan daya super kelak di ujungnya, mengingat bagaimana kami kemarin sedikit "terjun" saat memasukinya. Total hampir 45 menit kami habiskan sejak beristirahat di akhir Cemoro Kandang hingga kembali melihat si Kumbolo di Bukit Cinta. Waktu yang cukup lama untuk jalur yang hanya "secuil". Ini berarti kami menikmati dengan sangat kesyahduan hari menjelang sore di megahnya Oro-Oro Ombo Penawan Hati. I really want to be back here someday.

Ketika hari sudah lewat setengah lima sore, kembali tubuh kami mengindera siulan mesra angin Kumbolo. Hari tampak cerah dan riuh. Mentari sore membuat si Ranu menjadi gemebyar. Kumbolo ramai oleh para pendaki. Semua bilik dalam bangunan tempat kami "bermukim" dua hari lalu telah penuh. Tim terlihat sudah begitu tersengat lelah karena kusadari kami tak segera bergegas mengambil keputusan perihal tempat berkemah. Aku yang merasa mulai menuju titik penghabisan, mau tak mau mendambakan sebuah tempat berbaring. Badanku mulai menunjukkan keremuk-redaman. Makan yang kurang memadai kusinyalir menjadi sebab. Logisnya kawan-kawanku juga sudah sangat kelelahan, dan kelaparan. Satu ide untuk turun hingga base camp tentunya sudah dicoret masak-masak. Kami ingin menikmati Kumbolo walau hanya semalam lagi.

Akhirnya diputuskan mendirikan tenda di kawasan lain, di sisi lain Kumbolo. Letaknya hampir berseberangan dengan camping area, dan berada sekitar di bawah pos 4 (atau 5?), di mana kami mengambil gambar bersama beberapa hari ketika kali pertama kami sampai di ranu ini. Titik yang juga menghadap langsung si Kumbolo ini ku/kami raih dengan segenap rupa, dengan segala energi yang tersisa, mengingat letaknya yang "dekat di mata jauh di kaki". Dari sini pula kami dapat melihat camping area di seberang. Langit yang mulai terlihat memerah, menjadi hiburan mata hati. Sebersit sabit menyimpulkan senyum paling manisnya di sebelah barat. Kumbolo terasa begitu hangat dan syahdu. Sekitar pukul setengah enam tenda akhirnya berdiri beberapa meter dari permukaan air danau. Setelah kemah siap, aku seketika roboh di dalamnya, tak kuasa menikmati sisa-sisa keajaiban senja Kumbolo. Kiranya tubuhku tak lagi sanggup menahan belaian lembut dingin angin danau. Kali ini para lelaki berkontribusi penuh mengurus dapur. Beberapa saat berikutnya aku dibangunkan untuk makan: sebuah kemewahan sarimi yang tersisa. Galdi menginformasikan gemerlap malam langit Kumbolo, lengkap dengan bintang dan sabitnya. Aku menengok ke luar sekilas, menyunggingkan senyum serupa pada si sabit, dan bergegas kembali pada kantong tidur. Kami semua sepakat segera tak menyadarkan diri setelah dua sholat didirikan.


Φ

Malang, 28 Desember 2011


Kereta Kimreng telah berangkat ketika Galdi dan Ucup, dan si Biru sampai di rumah Mbakku. Perjalanan pulang yang kiranya tak mudah, karena si Biru kembali berulah. Setelah tiga jam lebih menapaki jalur turun Ranu Kumbolo - Ranu Pani, kami beristirahat sebentar, melapor ke pos, mengambil gambar, dan kemudian sekitar pukul setengah satu siang segera memacu dua motor untuk kembali ke Malang karena Kimreng mengejar Malabar setengah empat. Kimreng hari ini sudah bolos kerja, dan esok ia harus kembali menunjukkan muka di depan bosnya. Kimreng dan aku dengan si Biru, Galdi dan Ucup dengan motor Galdi. Meski formasi awalnya si Biru mengambil start duluan, Galdi dan Ucup akhirnya menyalip kami. Hari yang cukup benderang seakan membuat mood ter-boost.

Mendung tipis mulai menggantung ketika dua motor sudah terpisah jauh. Tak diduga-duga, si Biru kembali membuat masalah. Businya Kimreng sinyalir mati ketika kami baru saja melewati jembatan di belokan penuh berlubang. Jalanan Ranu Pani - Desa Ngadas memang begitu memprihatinkan. Dan mogoknya Si Biru membuat diriku seakan benar-benar sedang diserang negara api. Aduh, mati. Mood yang sempat ter-boost kini tinggal kenangan.

Jalan begitu sepi, meski tak kupungkiri bukit-bukit di sekitar cukup membuatku tenteram. Kimreng berlari mendorong si Biru di jalan datar, aku membantunya di jalan menanjak, dan jalan turun menggelindingkan kami bertiga. Terlihat begitu tergopoh-gopohnya kakak angkatanku satu itu: tiket pulangnya setengah empat, kendaraannya mati sekarat, dan jarak kawan di depan seakan menyayat. Keringat kembali membanjiri tubuh. Kadang mendung tipis berganti jadi matahari yang menyengat. Sebelum nasib minta diratapi, kami akhirnya melihat Galdi dan Ucup. Firasat mereka kalau Biru kenapa-kenapa lalu terjawab.

Masih dengan cara mendorong dan "menggelinding", akhirnya kami sampai di  Desa Ngadas. Sekitar dua puluh menit aku mencari bantuan, sekiranya ada montir di desa yang punya persediaan busi Shogun. Nihil. Keputusan diambil: Kimreng dan aku memakai motor Galdi, dua sisanya mengambil posisi kami sebelumnya hingga bertemu bengkel. Skor minus buatku karena si Biru kembali sukses ngerjain seluruh tim. Aku malu luar binasa.

Kembali melewati pintu masuk air terjun primadona Coban Pelangi, gapura Taman Nasional Bromo - Tengger - Semeru, perkebunan Apel Kecamatan Poncokusumo, pos perizinan Perhutani, pasar Tumpang, akhirnya aku dan Kimreng sampailah di rumah kakakku, sekitar sejam sebelum Malabar berangkat. Kimreng bergegas menyalakan HP-nya, berkirim kabar ke ibunya di Yogya, lalu bersih diri, memakai seragam ber-epauletnya, makan Pop Mie (yang untungnya tersedia di dapur), kembali mengatur isi carrier dan setelahnya segera kami berlanjut ke stasiun.


Aku tadi juga sudah sempat menelpon kakak-ibuku. Dikabarkan oleh kakakku bahwa ibuku kalut menangisiku di 26 Desember malam, karena Malang diguyur hujan sangat deras semalaman, tak berhenti-berhenti hingga pagi. Mungkin ini yang disebut ikatan ibu-anak, karena di dini hari itu aku merasai maut yang teramat dekat, dini hari ketika menyerang puncak. Sejak malam itu ibuku sangat khawatir hingga esoknya semakin menjadi karena tak beroleh kabar dariku, sedang ponselku pun dihubungi percuma adanya sebab aku masih di areal tanpa sinyal. Ketika tadi aku berkabar, mataku juga sempat meleleh karena mengingat kejadian di pepasiran menuju Mahameru.


Φ

Sekembalinya aku ke rumah kakakku, Galdi dan UCup belum terlihat batang hidungnya. Aku yang sendirian di rumah ini merasa sangat krik-krik-krik, karena tiba-tiba menjadi sendiri. Si diri melankolis mengambil alih komando mengingat kebersamaan dalam petualangan yang besar ini
seakan direnggut dengan amat paksa. Beruntung sebelum kendali penuh ia ambil, kudengar suara si Biru dari luar. Aku sedikit terselimur.

Dan tentu, aku rasa lega luar biasa, sekaligus memohon maaf sepenuhnya. Dua kawanku penuh santai berkata tak apa karena saat di Poncokusumo mereka bisa menemukan bengkel, dan jalanan relatif selalu turun tanpa menanjak setelah Desa Ngadas. Masing-masing lalu mengabari keluarganya.

Setelah bersih diri dan beberapa sholat dijalankan, ketiga anggota tim tersisa segera mengatur strategi pulang. Aku aman karena ini kotaku, tinggal ngeeeng ke selatan dan sudah begitu saja. Ucup menolak ide untuk bareng Galdi ke Yogya dengan motor, karena menurutnya tidur di bus akan sangat menyenangkan. Tapi bus Malang-Yogya sudah tak menyisakan kursi buatnya, jadi akhirnya ia putuskan naik bus dari Surabaya. Galdi yang tak mungkin berkendara lintas propinsi dengan tubuh yang melayang, menerima tawaranku untuk menginap di rumah. Setelah bulat diputuskan, kami segera memacu motor menuju titik penghabisan misi: Bakso Bakar Pak Man dekat SMP 3. Di maghrib hari, kami penuhi lambung kami di sana dengan kuliner super khas kotaku itu. Setelahnya, Ucup berpisah jalan di terminal. Aku dan Galdi menuju ke selatan, dan bisa kurasa hatiku mulai terseret-seret ke sindrom
after nggunung yang menyerang manusia kontemporer: sindrom mematikan (dan anehnya juga menghidupkan) yang membuat diri seperti telah mengalami mimpi yang sangat indah, namun tiba-tiba ia terbangun dari mimpi tersebut. Sindrom yang tercipta karena kebersamaan kokoh dalam sebuah petualangan singkat yang serta-merta terenggut karena harus kembali pada kesibukan masing-masing anggota tim. Kesenjangan rasa yang timbul ketika bersama dan ketika akhirnya sendiri yang begitu mendadaknya mau tak mau membuat diri jadi sekarat, namun tentu yang menghidupkan adalah kenangan itu sendiri, yang tersimpan di benak, dan terpatri di hati.

Aku mau tak mau harus bersiap menghadapinya: kenyataan yang mematikan, dan kenangan yang menghidupkan.




[fin]

Get Adobe Flash player
Foto dan kamera: Galdi Chul