Tuesday, December 24, 2013

Independent is Over


Desember yang basah, yang berlalu secepat kilat. Dia tak semenyenangkan November. Tapi Desember tetap meriah dengan segala gerak dan gerak. Bulan ini aku bergerak sedemikian cepat. Kantung mata menggantung petanda istirahatku tak cukup. Nafasku tersengal-sengal menyedot energi melebihi yang dibutuhkan ketika mendaki gunung. Emosiku meluap-luap melampaui kegetiran perihnya pengkhianatan. Desember ini, aku bergulat dengan setan. Dan karenanya, setan dalam diriku turut bahagia. Karena ia bahagia, seluruh jiwaku juga ikut bahagia. Meski, tak dapat kuelak, jalan setan tetaplah jalan setan. Ia menantang segala kegigihan.

Gerakku di luar imajiku. Apa benar ini oleh-oleh sehabis operasi? Aku berani melawan. Aku berani menantang. Aku berani terus menatap mata mereka yang merendahkan, walau belum sampai berani menantang duel. Aku seakan berbeda. Manusia penuh harmoni itu sudah mulai bertransformasi. Kini diriku hadir dengan keberanian yang lain. Aku, lebih tepatnya diriku, menyalurkan emosi-emosi dalam laku. Bahkan aku melesat mengendarai motorku tanpa penuh waspada seperti biasanya ketika di suatu siang aku kembali mendapat hinaan. Mataku berair, kepalaku mendidih, dan sadarku hilang. Lakuku mengambil alih kontrol setir motorku. Aku tak mendapat kecelakaan karena tubuhku sudah mengenal baik seluk-beluk jalan serta jam macetnya. Aku cukup beruntung saat itu aku memutuskan pulang ke kos, bukan pergi ke tempat baru. Bila yang terakhir itu terjadi, dan aku harus menempuh jalanan asing, kurasa aku tak akan dapat menulis ini semua.

Dari serentetan kejadian di bulan Desember ini, aku kerucutkan dalam satu pemaknaan: aku telah menjadi sosok over independent, walau jatah makan masih diberi ibu dari rumah. Aku yakin aku dapat hidup sendiri. Tapi walau seyakin-yakinnya aku tentang hal itu, aku tak mau hidup sendiri. Kerja tim selama November-Desember ini menyadarkanku akan hal itu. Hidup sendiri memang menyenangkan. Di kamar membaca, menulis, bersenda-gurau dengan kawan satu kos, menulis lagi, memasak, membaca lagi, kembali memasak, beristirahat sejenak. Ke perpus, sendiri, menyapa teman, berbincang sebentar, membaca, membaca lagi, menulis yang penting, mencari literatur, dan membaca lagi. Sungguh menyenangkan. Hidup sendiri adalah surga. Tapi levelku hanya segini. Tidak lebih.

Maka ketika aku bergerak, pergi keluar dari kesendirian yang menyenangkan itu, aku dapati kerajaan setan yang membawaku pada tingkatan diri yang lebih tinggi. Tahu alasannya kenapa? Karena dengan pertengkaran, dengan emosi yang meluap, dengan segala negosiasi yang telah kulakukan, diriku menjadi lebih lengkap. Aku seakan jadi mengerti energi kolektif yang sering dibicarakan Coelho di buku-bukunya. Desember November ini, aku menyerapnya. Dan rasanya jauh melebihi rasa ketika aku sendiri menghasilkan sebuah tulisan di pojokan kamarku yang hangat. Kebetulan aku sendiri bekerja dengan mereka yang masih enggan melepaskan diri kesepian mereka. Maka ketika melihat kontribusi yang mereka berikan untuk tim, lalu aku bandingkan dengan apa yang telah kuperbuat, aku tersenyum puas menikmati perbedaan tersebut.

Tapi walau seakan aku bekerja bersama-sama, nyatanya aku berbuat lebih daripada yang lain. Darahku meluap tak ingin berlaku yang tidak maksimal.  Kukerahkan semua semangatku. Alasannya hanya satu: karena aku telah berikrar. Dan sekali aku telah mengucap janji, satu pemenuhan terhadapnya adalah sebuah kemutlakan. Aku heran mengapa teman-teman tak begitu bergairah memenuhi janjinya masing-masing. Padahal aku sangat ingin keseluruhan tim berbuat maksimal untuk proses-proses yang terjadi.

Karenanya aku yakin aku bisa sendiri. Aku dan satu dua temanku. Lalu aku menyimpulkan diriku sekarang over independent. Aku bekerja sangat keras karena aku pekerja keras. Aku bekerja dengan bersemangat, karena aku menyenangi kegiatan November-Desember, bahkan aku sempat berpikir itulah passion-ku yang lain, sebelum aku teringat aku harus fokus pada hal yang sedang kurintis. Aku mengurus ini-itu hampir selalu sendirian, dan jarang gagal. Diriku kali ini.. ah, entahlah.. 

Aku ingin bilang ini meresahkan karena begitu terlampau mandiri, tapi di satu sisi meresahkan itu adalah pemaknaan dominan. Aku ingin bilang ini tak meresahkan, namun kadang aku juga resah karena ada beberapa pihak yang menginginkanku untuk berpikir a la pemaknaan dominan tersebut.

Kini aku berdo'a saja, agar sisa Desember ini aku masih penuh yakin bahwa over independent itu baik adanya. Toh tak ada ibu yang ingin dinilai lemah oleh anak-anaknya..

Sunday, November 24, 2013

Mengimajinasikanmu


Aku mengajak anak-anak TPA berimajinasi tentangmu. Tanpa tujuan apa-apa, hanya ingin mengajak mereka berimajinasi saja. Tentang bagaimana itu nanti memberi pengaruh pada gambaran mereka tentangmu, kuharap kau tak keberatan.

Sore hari kemarin waktunya. Kami memutar seputar Arab kontemporer. Hanya video Laptop Si Unyil tentang jam raksasa di Mekkah yang kami dapat. Ya, Mekkah lagi, tapi semoga di benak mereka tak hanya berkisar Islam saja ketika membayang Mekkah. Ada teknologi yang sangat canggih dan sangat modern di sana. Islam pun kontemporer.

Mereka mengaku mengantuk. Padahal aku sangat bersemangat dengan teknologi di tengah-tengah kekaukan konstruksi Islam tradisional yang dimiliki Mekkah. Mungkin tayangan itu memang cocok bagi mereka sepertiku, si hamba sahaya teknologi. Aku selalu kagum dengan penemuan-penemuan dan mereka yang mendedikasikan dirinya untuk hal itu.

Mengantuk pun tak apa, pikirku. Mereka sudah mendapat gambaran Arab kontemporer. Hal ini akan berguna di masa akan datang. Aku pun beranjak pada permainan berimajinasi. Anak laki-laki menolak berkelompok dengan anak perempuan. Aku terheran-heran. Bagaimana bisa mereka sudah meliyankan anak perempuan bahkan sejak umur dini?

Ah, itu urusan nanti. Akhirnya biar mereka tak bosan, sekalian saja kuhadap-hadapkan yang puteri dan putera. Kubagi jadi dua kelompok, putra dan putri untuk saling berebut skor tertinggi. Aku berpesan pada kelompok putri untuk mengalahkan bocah-bocah putra. Kelompok putri menang, walau di awal skor mereka jauh tertinggal. Kelompok putra langsung loyo seketika. Aku berjanji membawa hadiah pada hari Senin.

Mereka telah kuajak berimajinasi tentangmu. Sembilan kotak berisi nilai untuk pertanyaan dengan jawaban yang benar. Aku merasa sedikit kurang ajar, tapi mengapa tidak?

Ketika satu kelompok memilih satu kotak, aku akan bercerita. Dari cerita itu, aku akan memilih pertanyaan. Anak-anak harus menjawab. Jawaban yang benar adalah jawaban kemungkinan. Tak ada yang benar-benar benar. Dua kawanku kutunjuk jadi juri.

Kelompok putra memilih kotak G. Kisah tentang engkau yang berselimut. Aku menutur kisahmu yang menggigil kedinginan saat Jibril datang tak diundang (atau sebenarnya kau mengundangnya?). Aku bercerita bagaimana Jibril berada di depanmu, menyuruhmu untuk "membaca". "Bacalah!", katanya. Kau takut, dan sadar tak dapat membaca, menjawab pertanyaan itu, "Aku tak dapat membaca!". Diulang lagi oleh Jibril, "Bacalah!", kau jawab lagi, "Aku tak dapat membaca!". Jibril lalu memelukmu dengan sangat erat, hingga nafasmu tersengal-sengal. Lalu diulang lagi perintah itu, "bacalah!". "Aku tak dapat membaca!", katamu lagi masih ketakutan. Datang lagi Jibril memelukmu sangat erat dan kembali kau tak dapat bernafas. Tiga kali hal itu terjadi, hingga saat kali ketiga Jibril melepas pelukannya yang bertambah erat dan tambah membuatmu tak dapat bernafas, menghimpit segala paru-paru dan sekujur tubuhmu, kau pun, entah bagaimana caranya, melafalnya: "Iqra' - iqra' bismirabbilalladzii khalaq'. Halaqal insana min 'alaq. Iq'ra' wa rabbukal akram. Alladzii 'allama bil qalam. 'Allamal insaana maa lam ya'lam." 

Kau yang menggigil kedinginan, segera pulang. Sampai rumah, kau minta diselimuti Khatijah. Kau pun berselimut dalam kamarmu, menceritakan pengalamanmu padanya. Masih kau ingat kejadian di Gua Hira' yang ajaib. Kau masih ingat kata-kata yang entah darimana datangnya namun akhirnya kau ucapkan. Wahyu pertama telah sampai untukmu.

Anak-anak mendengar dengan seksama. Pertanyaan lalu kuberikan. Bukan yang aneh-aneh, karena aku tak tahu lanjutan dari kejadian itu. Pertanyaan mudah untuk kelompok putra adalah: "Benda apa saja yang kira-kira ada di kamar Rasul?"

Bocah laki-laki melengos. Protes karena ceritanya sudah begitu serius, tapi pertanyaannya mengada-ada. Bayangkan, aku diprotes!! Tapi tetap, jawaban pun bermunculan dari mereka. Dari selimut, kasur, jendela, lukisan unta, hingga lantai. Kurang ajar pertamaku disambut dengan sepuluh jawaban benda-benda yang mungkin ada di kamarmu.

Kekurang ajaranku berikutnya adalah ketika aku melontarkan pertanyaan kondisi tubuhmu ketika kau beristirahat di Bushra dalam perjalananmu berdagang ke Syiria. Kala itu awan menyertai di atasmu, agar kau tak kepanasan. Pertanyaan ini dalam kotak yang juga dipilih kelompok bocah laki-laki. Mereka tak segan berkata kau berkeringat, kau kepanasan, kau bahkan, masih kata mereka: menahan pipis. Itu logis, kan.. Maafkan bila membayangkanmu seperti itu membuatmu marah. Mereka hanya anak-anak..

Berikutnya aku memberi pertanyaan tentangmu empat tahun. Ketika itu kau sedang bermain dengan teman-temanmu. Dua orang tiba-tiba datang. Anak-anak lain ketakutan, menyingkir pergi. Ada yang menyaksikan dua orang itu membelah dadamu, mengambil jantungmu, dan menyucikannya dengan salju (aku juga terheran-heran bagaimana bisa mereka menghadirkan salju di daerah kering seperti Arab). Mereka lalu mengembalikan jantungmu, menghilang, dan ajaib, kau masih hidup. Dua sosok itu adalah malaikat. Pertanyaan atas kisah ini untuk grup putri adalah, kira-kira kau sedang bermain apa dengan teman-temanmu saat itu. Kelompok putra masih protes karena pertanyaanku mereka nilai tak bermutu. Aku terkekeh menyadari itu benar adanya.

Jawaban bermunculan, mulai dari petak umpet, main mobil-mobilan, hingga main gobak sodor. Aku sendiri membayangkan kau empat tahun saat itu sedang bermain boneka dengan teman-temanmu. Lho, tak apa kan aku membayang seperti ini?

Jam sudah sore ketika aku berkeputusan menyelesaikan. Aku hutang hadiah untuk yang menang. Dalam hati aku berharap semoga kau tak keberatan bila anak-anak jadi lebih dekat denganmu ketika mereka mulai berani membayangkan hal-hal tentangmu yang sangat manusiawi. Karna betapapun kau pilihan-Nya, kau tetap manusia. Manusia, Rasul.. Duh, betapa aku juga rindu jadi manusia..

Wednesday, November 06, 2013

Scars on My Boobs (Oops!)


Sudah hampir dua bulan sejak aku dioperasi di ruang spesial bernama ODC, One Day Care, di ruang yang kukira di post sebelumnya memiliki kepanjangan Operasi Dalam Sehari itu (sok tau yang sungguh total). Kini tugasku adalah mendongeng tentang seluk beluk mengapa aku sampai berakhir bahagia di ruangan yang penuh warna hijau nan menentramkan itu. Oh, ya, benar sekali. Aku harus mengulang sekali lagi, supaya yang membaca ini paham betul betapa aku menyukai berada di rumah sakit, dirawat, menghilangkan setres, dan walaupun membayar aku tetap suka, kecuali ketika mendapatkan jatah makan siang sup kembang kol yang penuh ulat, dan kecuali ketika didongkolin perawat atau pihak rumah sakit yang sebenarnya jarang sih kudapat..

Awalnya aku tak mau cerita ke banyak pihak, dan tak akan menulisnya di blog, karena ketika aku mendapat kabar berita penyakitku ini, aku adalah sosok yang berpikir seakan diberi musibah sama Tuhan. Mungkin saat itu aku masih berada dalam fase penyangkalan, atau entah apa namanya. Yang pasti saat itu aku berfikir ini adalah kegagalan sebagai sosok perempuan. Ha?

Iya yang seperti itu, soalnya penyakitku yang diangkat itu adalah tumor di "onderdil" perempuan. Adalah tumor payudara. Juli aku dapat kabar buruk bahagia itu, dan tentu secara tak sengaja. Aku bersyukur segera mengetahuinya, walaupun bikin terkejutnya hampir setengah mampus. Maaf sedikit melebai, tapi ini beneran tak mudah diterima sama perempuan, apalagi perempuan seperti aku yang yakin seratus tujuh puluh persen sudah pintar jaga kesehatan. Aku, walau tak begitu rutin, suka berolahraga. Aku suka makan sayur daripada teman-teman perempuan kebanyakan. Aku tak suka makan gorengan seperti kebanyakan muda-mudi yang suka tersesat di burjo. Aku orang yang suka mengaji, dan walaupun sholatnya masih sering bernego sama Tuhan, aku selalu yakin buat dijauhkan oleh Tuhan dari mara bahaya.

Keyakinan itu rupanya tak lebih dari kesombongan (yang terakhir sombong bangett!!!). Bisa jadi aku lebih banyak berolah raga, makan sayur, tidak makan gorengan, dan suka mengaji. Tapi di dunia ini banyak sekali hal yang tak dapat dinalar, yang biasanya aku bilang tentang diri sadar dan diri bawah sadar itu. Dan tentu, aku tak habis pikir mengapa bisa aku mendapat benjolan di payudaraku.

Walau kemudian aku memuaskan nalarku dengan beberapa alasan. Pertama, aku sudah minum kopi instan indokafe original sejak SMP, dan ketika SMA ganti kopimik, yang lalu diselingi sama yang original (bahkan sekarang, setelah operasi, aku masih "nakal" nyimpen lima sachet dalam rak ransumku -> ah, ini kalau kawan-kawanku baca, aku segera "dihabisin", hahaha). Kedua, aku penikmat ABC Selera Pedas sup tomat, juga sejak SMP, yang walau tak se-nerd itu ngefans sama mie instan ini, dan walau selalu memasaknya dengan sawi berjibun, tetap saja itu mie instan. Yang ketiga, aku tak begitu easy going, yang walau sekali easy bakal easy banget, namun aku seorang yang terlalu memikirkan segalanya, sedikit susah menerima kenyataan yang seharusnya masih dalam cakupan nalarku tapi tak kunjung dapat dijelaskan; bisa jadi aku adalah calon penderita panic attack! Oh, tidak!! Lalu yang paling parah, walau aku sangsi ini juga turut andil dalam penyakitku: di setiap bulannya aku memiliki periode "benci makan", di mana selama hampir seminggu aku hanya makan sekali per-harinya, dan minum susu sebagai apologinya.

Nah, tentu abc selera pedas sama kopi itu, pengawetnya sudah numpuk habis-habisan di tubuhku, lalu bikin dia bermutasi hingga gak bisa membunuh diri secara alami. Akhirnya tumbuh terus deh jadi tumor. Manajemen stres yang tak baik pun pasti memperburuk segalanya. Tak makan secara benar, walau di sisa minggu lainnya rajin makan sayur, tetap saja memperburuk keadaan. Konsumsi vitsinku selama ini, kusinyalir bukan penyebab utama, karena kurasa masih banyak yang lebih parah konsumsi vitsinnya daripada aku namun mereka baik-baik saja. Pengawet adalah kegagalan hidupku. Bahahah.

Kini aku tak lagi minum uht setiap hari. Aku beralasan dengan minum susu, perutku merasa kenyang, hingga aku tak mau makan. Aku memakai trik untuk tetap mau makan. Di antaranya dengan memasak sendiri (ya, aku suka sekali masakanku! Terutama pelecing kangkung asal Lombok, tanah kelahiran ayahku!), mengganti beras putih ke beras merah (karena nasi merah tidak manis!), dan makan buah tiap harinya. Untuk diriku yang manja karena biasanya ngopi, kuganti dengan crashed tea alias teh tubruk, dan bila aku terpaksa makan vitsin, aku akan menggelontorkan rosela seduh ke dalam tubuh.

Untuk manajemen stres, aku menghindari berbagai provider stres. Bila terpaksa berada dalam keadaan tertekan, dan ya, ini kadang tak dapat dihindari, aku akan pergi mencari pegangan-ku. Me-WA +Alvi Syahrina, nggeje dengan +nanang dw  di plurk, ngaji bila ingat, dan bila parah, menerapkan tiga serangkai penghilang kepanikan: joging atau olahraga lain (olah raga penghilang stres nomor satu masih naik gunung!), memasak, membaca! Untuk menulis dan menggambar, mereka masih berada di bawah tiga hal tadi.

Akhirnya aku pun sedia untuk cerita ini semua. Awalnya hanya dua temanku yang tahu. Kemudian aku bilang teman dekatku. Kemudian aku bilang kakakku. Kemudian aku bilang teman kosku yang lain. Kemudian aku bilang dua teman kuliahku. Kemudian aku bilang ibuku. Kemudian aku bilang kesemua kakakku. Kemudian aku bilang temannya teman kosku yang sedang menginap. Kemudian lambat laun aku jadi ngerti, berbagi hal begini rupanya berarti buat orang lain. Hingga aku bilang saja ke semua yang kira-kira mumpuni untuk dikasih tahu. Kebanyakan aku berbagi cerita dengan teman perempuanku. Rasa tak percaya diri yang awalnya hinggap padaku karena saat itu kupikir aku sosok yang ber-"aib", tidak sempurna dan berpenyakit, merasa tak memenuhi standar sebagai calon istri idaman (afu noted), kini menguap. Hahaha. Parah ya, bisa-bisanya sampai aku berpikir aku tak lagi memenuhi standar sebagai seorang istri. Tapi benar lho, itu merupakan kejatuhanku yang paling MasyaAllah! Kini? Persyaiton, saudara-saudara. Karena, it's just a flesh..(nunjuk badan), dan karena.. entahlah, aku rasa apa yang kupikirkan itu keterlaluan sekali. Sebabnya, yang begitu tak berbeda dari mempertanyakan nikmat Tuhan. Sebentar ya, aku istighfar bentar.. *ngek*

Perjalanan menuju operasi secepat kilat, karena dokterku orangnya nggak suka yang lambat-lambat, takut nanti semakin parah, karena tak ada yang tahu jenis apakah tumor yang kuidap itu. Tak mungkin juga untuk biopsi, karena benjolannya banyak! Terdeteksi oleh usg ketika bulan Ramadhan kemarin, masing-masing satu berukuran kecil di payudara kanan dan kiriku. Dokter langsung menyarankan operasi saat itu juga. Namun tentu aku menolak karena kupikir ini bisa diselesaikan dengan pengobatan alternatif dan diet gaya hidup.

Hampir dua bulan berikutnya, aku tes usg lagi. Benjolan di payudara kiri bertambah satu. Totalnya jadi tiga. Aku terkejut juga. Dokterku pun langsung ambil keputusan operasi, karena selain itu sudah tabiat seorang dokter bedah (haha, tabiat!), Pak Dokter merasa tiga benjolan itu hitungannya "banyak", dan artinya parah. Lalu karena saat itu aku tes usg untuk siap dioperasi bila ketahuan tumor itu masih ada, maka bret! bret! bret! Pak Dokter mencarikan aku bangsal, aku menjalani beberapa tes pre-operasi, kemudian selama hampir seminggu, aku menikmati masa rehatku, masa sebelum, pas, dan setelah operasi di rumah sakit, yang sudah kuceritakan sebelumnya (ya benar, yang naif banget itu, hahaha!!)

Kenapa benjolan ini harus diangkat? Karena menurut Pak Dokter, benjolan semacam ini belum tentu jenisnya jinak. Tumor mammae, masih menurutnya, memiliki lima kemungkinan jenisnya: dua tipe FAM (ini kelenjar air susu yang menggumpal) yang berjenis jinak, dan FCD (entah apa kepanjangannya, cari aja :p), yang terdiri dari tiga tipe, yang masing-masing berpotensi jadi ganas. Aku tak tahu dengan jelas nama masing-masing tipenya apa, karena tak tercatat. Kita sebut saja FCD I, FCD II, dan FCD III. FCD II adalah tumor yang nantinya jadi ganas dengan jangka waktu 15-20 tahun setelah pertumbuhan pertama si benjolan. FCD III dengan periode kurang dari 5 tahun. FCD I adalah tumor yang paling kurang ajar, karena tak diketahui masa periode jadi ganasnya, alias bisa jadi sebulan, bisa jadi lima bulan, bisa jadi dua puluh tahun kemudian, atau bisa jadi kapan pun setelah jaringannya tumbuh. Kuberi julukan dia si Misterius! *ngek*. Akhirnya, tumor lebih amannya segera diangkat sedini mungkin, agar menghindari kemungkinan si FCD, yang ngeri banget bok kalau sudah kanker stadium 4!!! Maaakkk!!!!*kebetulan ketika periksa aku bersebelahan dengan mereka yang payudaranya sudah diangkat, dan yang sedang dalam tahap stadium 3, aduh, ngerinya pake super!!!*

Menurut Pak Dokter, sebut saja namanya Dr. Herjuna Hardiyanto, Sp. B. Onk (K), yang praktiknya kalo pagi harus sudah ada janji di (Poli) Klinik Wijaya, gedung baru RS Sardjito, kalo siang di Poli Tulip, masih di RS yang sama, biopsi bisa jadi kurang akurat, karena tes itu hanya mengambil sebagian kecil jaringan tumor sebagai contoh (sampel). Kadang bagian lain jaringan tumor berbeda sama bagian yang diambil, akhirnya si potensial ganas tak terdeteksi. Kasusku yang benjolannya lebih dari dua, dan Pak Dokter terlihat ngeri (semoga bukan pura-pura), maka aku tunduk berikhtiar untuk operasi pengambilan jaringan tak diinginkan itu.

Operasi selesai, aku dikasih lihat penyakitku. Bukannya tiga benjolan yang sudah diambil dokter, eh, malah empat!! Hahaha!! Dua di payudara kanan, dua di payudara kiri. Yang ngeri, rupanya ukuran yang terdeteksi di usg sebelumnya melenceng jauh dari kenyataan. Di usg bilang hanya berskala mili meter, kenyataannya sudah senti meter! Bahkan salah satu penampang benjolan yang paling besar sudah mencapai tujuh senti!! Oh, my!!!! Kusinyalir karena usg hanya mendeteksi secara dua dimensi, jadi walaupun sudah terlihat dengan alat itu, ia gagal merekam ukuran sebenarnya. Belum lagi kemampuan dokter usg-nya juga sangat berpengaruh. Terdeteksi tiga, tapi rupanya ada empat ketika dibuka, kurasa itu suatu erorejring manusia. Atau, apa bisa dalam tiga hari saja (pasca usg ke operasi) sebuah jaringan tak diinginkan muncul? Ah, bisa jadi..

Daging kenyal berwarna putih kekuningan, dan beberapa yang lain putih bersih ini (tentu setelah dibersihkan dari darah), lalu dibawa ke laboratorium PA (Patologi Anatomi), lalu dengan PA-nya (maaf jayusnya menghina), mereka dicacah-cacah untuk kemudian diketahui jenisnya. Seminggu setelah operasi, hasil PA keluar. 

Tertera di sana, yang paling besar berukuran 7x4x2 cm, sudah disebut tumor, di payudara kiri. Sisanya hanya disebut kantong jaringan, satu menemani si tumor di payudara kiri berukuran 2x2x1,5 cm, dua lainnya di payudara kanan, masing-masing berukuran 2x1,5x1,5 cm dan 2x1x1 cm. Alhamdulillah, tidak didapatkan tanda ganas..

Banyak yang bilang nanti kalau menikah, punya anak dan menyusui, jaringan tersebut bisa hilang. Tapi aku tak kuasa percaya pada banyak yang bilang, sedang ada tujuh-senti-meter daging siluman tumbuh dalam payudaraku, yang nanti dua puluh tahun kemudian tak kutahu akan jadi apa. Tekad bulat mengantarkanku pada keputusan untuk operasi. 

And hey!! I got scars on my boobs!! Dan karenanya, I definitely look sexier!!

Sunday, October 27, 2013

Hari ini Hari Ulang Tahunku!


Hari ini adalah hari ulang tahunku. Aku adalah kaum yang masih menganggap spesial hari kelahiran seseorang, terlebih hariku karena aku adalah sosok narsis yang super cinta diri sendiri. Tak kupungkiri, budaya ini bukan budaya asal Nusantara. Media-media yang kukonsumsi, teman-teman sepergaulanku, dan yang paling jitu adalah keluargaku, merupakan lembaga yang kokoh berdiri untuk menunjang budaya membuat spesial hari ulang tahun: dengan merayakan, mengucapkan selamat ulang tahun, memberi kejutan, mendoakan, memberi kado, dan yang lainnya.

Kespesialan hari ulang tahun ini sudah kurasakan dan mulai menjadi sejarah dalam kedirianku sejak duduk di bangku SMP. Meski kado pertama kudapat dari sepupuku ketika aku kelas satu SD, ia sepupuku itu, tak cukup kuat untuk melawan wacana "kekakuan" yang dianut keluargaku. Ibuku, ayahku, serta kesemua kakak kandungku belum begitu mengenal budaya mengucap selamat ulang tahun. Kata selamat hanya dilafal ketika anaknya berhasil menjadi juara kelas (yang karena lumayan sering, jadi tak begitu niat ketika mengucap selamat, dan rasanya jadi tak begitu spesial). Baru ketika kakak pertamaku beranjak dewasa "tinggalkan Malang Jakarta demi masa depan cita.." (Perhatikan, Rani!, S07), kuliah, dan mengenal budaya selebrasi ulang tahun, memberi kado, dan semacamnya, juga mendapat pengalaman selebrasi ulang tahun dari teman-temannya, mulailah juga budaya itu hinggap di kedirian keluargaku.

Tentu ayahku tak suka sekali budaya yang kata dia budayanya orang kafir itu (maaf, Dad, kini bagiku budaya ini tak hanya milik orang kafir saja :p). Namun walau demikian, ayahku sudah mulai mengucap selamat ketika anaknya sedang berulang tahun (ah, ini kan, jadi bikin sentimentil karena lagi-lagi mengenang bapak: hari ini, tentu aku tak mendapat ucapan darinya). Juga anggota keluarga yang lain. Lambat laun yang seperti itu berubah tak hanya berbentuk ucapan, tapi juga kejutan, serta kue ulang tahun. Saat kecil, aku dan saudari-saudaraku tak pernah mengenal kue ulang tahun (kecuali kue ulang tahun tetangga), sudah besar, kue ulang tahun, jenang abang, nasi kuning, tumpeng, seakan sudah jadi ritual dalam rangka membuat spesial sebuah hari kelahiran.

Yang kuanut tentu mengasihi itu. Aku sungguh senang berbagi kasih (jangan dibaca berbagi kekasih, karena aku adalah pencemburu mutlak, sehingga itu tak mungkin). Maka aku senang bikin kejutan, dan terlebih menanamkan gagasan pada si ulang tahun bahwa eksistensi mereka di dunia ini sangat berarti. Hal ini biasanya kulakukan  buat keluarga, teman terdekat, dan bila ada ya lelaki terdekat (pret). Aku hanya tak ingin mematikan jiwa romantisku, yang sudah lama menggebu-gebu dalam diriku.

Kemudian hari ini.......

Hari ini.....

Hari ini, bahkan aku sendiri gagal merasakan kespesialannya. Aku memang sengaja pergi ke forum di mana tak satu pun orang mengetahui hari ulang tahunku. Sebelumnya aku berpikir itu akan menjadi ulang tahun yang paling menyenangkan karena aku berada di tempat yang aku inginkan, dan rindukan. Namun agaknya ekspektasi itu berlebihan, dan memiliki celah kelemahan yang cukup lebar untuk dapat dibawa pada ranah realita. Hal itu dikarenakan oleh sejarah, dan oleh kemampuanku memaknai.

Bila aku telah terbiasa sekian tahun menerima ucapan selamat tahun secara langsung, hari ini tak satu pun aku menerima. Itu yang pertama, dan tentu masalah sejarah ini sudah kuantisipasi. Yang kemampuan memaknai adalah yang gagal kuperhitungkan. Aku bisa saja memaknai spesial ucapan-ucapan yang termediasi oleh sms, BBM, WA, FB, dan telepon (yang hanya berjumlah satu dan itu pun tak kuangkat karena ponselku dalam setelan diam). Namun dalam histori hari lahirku, aku selalu butuh kesendirian untuk membuat ucapan-ucapan tersebut terasa spesial. Aku akan membacanya, dan mengamini semua do'a, memberikan terima kasih, dan menggambarkan betapa aku bahagia mendapat do'a-do'a itu (sangat bahagia!). Aku menjadi pribadi bersyukur! Dan itu terjadi dalam "kesenyapan".

Sedang yang luput dari perkiraanku adalah tentang bagaimana sulitnya menemukan momen senyap itu di hari ini (kini bahkan aku hanya memiliki satu setengah jam tersisa sebelum hari berganti - betapa kuat kuasa rezim dua empat jam tujuh hari dua belas bulan itu!). Hingga spesial itu, menguap entah ke mana. Yang pasti ia tak jadi menyapaku, walau sangat menggebu niatnya untuk membuatku tersenyum..

Akhirnya aku malah menulis puisi ini:

Aku membayang diriku, (mari menghilangkan kata membayang)
Berdiri di tengah kering bumi, (atau bumi yang kering?)
Angin menghembus berhembus, (atau benar menghembus?)
Menembus tubuhku,
Tubuh yang lunglai seakan kandas segala otoritas.

Di kering si ambigu pancaroba,
Angin itu,
Berilah aku sedikit waktu,
Karena dengannya,
Aku akan limbung.
Dan terjungkal jatuh.

Itu saja.
Ya, itu saja.

(Bilik Literasi, 27 Oktober 2013) 

Maka Tuhan, ampuni aku yang hari ini tak begitu merasa bersyukur atas menjadi ganjilnya umurku. Kurasa itu hanya konstruksi angka. Bisa jadi aku kemarin genap lebih banyak. Bisa jadi jam sebelas tadi malam aku ganjil kurang sejam. Namun itu hanya konstruksi angka, karena genap dan ganjil yang terletak sebagai garda itulah yang selalu disignifikasi. Sungguh, Tuhan, bila genap dan ganjil itu dilebur menjadi milyaran detik, aku sesungguhnya selalu bersyukur
di setiap detik tersebut, karena telah berada di sini untuk pemenuhan takdirku. Aku yakin kini Kau tak punya alasan untuk tak mengampuni aku.. :)

NB:
-Puisi di atas tak berhubungan langsung dengan hari ulang tahunku yang biasa-biasa saja; aku menulisnya karena "rasa" yang lain, BAHAHAH!!
-Tulisan ini sengaja memakai pilihan kata yang biasa kugunakan dalam esai "agak susah subyektif", karena beberapa saat lalu aku menghadiri Kongres Bahasa Indonesia di Bilik Literasi, Solo, yang membahas banyaaaakkk hal tentang (ber-)bahasa Indonesia. Tulisan ini akhirnya memang berdiksi tulisan, bukan ujaran-tulis yang biasanya kugunakan. Aku semata-mata ingin berbagi kebahagiaan menulis "agak susah subyektif" itu. Tentu, juga berbagi kebahagiaan yang telah kudapat selama kongres bahasa tersebut.

Thursday, October 03, 2013

Bloody Cable


The experience of my sudden operation is stuck on my head until now. Having my body in the hospital is indeed no different from having my body in the hotel. I really felt like a queen. At first I entered my room for the surgical preparation. I don't exactly understand why I must stay there four days before my surgery. My friends, families, haha, they were shocked too about my decision following doctor's suggestion. A very sudden decision. What on my mind was only one: that surgery sounds cool. And there it was the naive Jeki..

People worried. But I did not. At all. I was so enthusiastic about having the surgery. The days in the hospital were awesome. I got my own bed. My time for reading. My three-time-in-a-day meals. I got also sky! Sun rise every morning! Blue sky in the middle of the day! The cool darkness in the night! (my room was in 3rd floor, and my bed faced east, no wonder I was so happy in this room). Dahlia 1 room number 3. I will always remember the bed besides its windows. Damn, even I still remember the wind passing those square glasses!

And operation, for me, at first, was just like those challenges that I usually had faced (did I say I was so naive about this one?). And because of that, I was not that afraid of it. Nervous was only some hours before it took place. Just like common obstacles in my life, I guess. Now I remember Coelho ever said about fear, that just let what-you're-afraid-of be, and there will be no more fear. Experience is indeed, bringing us a huge courage. And buddy, it's only flesh that we're talking about. I've ever faced the death myself once. If I were about to die (again), then just let it be..

Yeah, sounds cool at first. But then.. the surgery..........

killed me.


Having those diseases inside your body means you look OK, but in fact you're so not. That one happened to me also. I went to the hospital as a "healthy"-look patient, and surrendered myself to them: I let the doctors incised me and make those incisions on my body. And tada! I then didn't have any "healthy" look anymore. And all of my first opinion about surgery was...... c r u m b l i n g  heavenly..... (parody detected)
Maybe I wasn't afraid of having the doctors slicing my body. But I never thought about the post-surgery thing. It hurts, buddy, it does hurt.. It's killing me..!!

And what hurts more is the fact that I can't do almost any of those cool sports such as mountaining, the one that I planned in this mid October, jogging is big no too, biking, swimming, ........... until three months later. God, save the queen Jeki.. Really, I never thought about the recovery thing. Those who will experience surgery, you guys should note that body recovery takes time. And the proverb is indeed always true: time heals. Oh..

Yet, this pain, as I said before, is just "the look". You know what? Although now my body feels the pain, I'm in fact, healthy. Healthier than before. At least..

Wait a sec, I really want to sing Coldplay's:
"I wanna live in a wooden house (not really, hospital is made of bricks anyway)
Where making more friends would be easy.. (better no friends there for some moments)
I wanna live where the sun goes out.. (yes! yes! I want it too!!)" (We Never Change)

Out from hospital, I got one big issue. That one was like my total-comfort zone. So comfort. So relaxed. I felt like I back to my mother's womb. And being out of there meant only one thing: got to be ready for the crazy world.. And one thing, instead of `Rumah Sakit`, RS should stand for `Rumah Sejahtera`. I'll be the first one who votes for it!!!


Monday, September 30, 2013

First Morphine Experience


One of my biggest dreams in my life is having high-moment with my husband, later when I get married and perhaps when there are children and other awesome-yet-complicated things in marriage. I suppose the "high-moment" should be performed by chemicals such as well, pop corn or hot dog (read: marijuana and friends). I was really planning on tasting those "substances" to make me high. Yet, destiny smiles different. I got the opportunity earlier, about two weeks ago. Morphine was in my blood because I had a surgery. It was indeed so-sudden (again) surgery. There was no high. Husband don't ask.

I definitely felt nervous. I would have some amount of morphine in my blood, letting my whole body unconscious for some time (approximately about 4 hours until I opened my eyes), and of course letting those doctors chop my body (eugh). The latest made me so stupidly brave and also "huwaoh"!! (sound of the nervous nerve).

This first surgery was so awesome. Damn, I really love their service. Turns out my doctor is the "special" doctor, one of them who handle the ODC (Operasi Dalam Sehari). He's special, indeed (lame detected). So, ODC has its own special room, special service, special doctor, and special price. Thank God my doctor is placed there, so I can have the first class experience with a "lower" budget. See, even the nurse took me to the toilet! How cute he was!! (lame detected #2).

As I said before, there was no "flying-high" (at all) as soon as the morphine struck my vein. I was just "lost" and the next thing I knew, I had myself awake in  different room, the other part of ODC besides the operating room. They called it the sterile room. I only had half consciousness at that time. And the moment when I woke up, I mumbled "uuggghhh... uuughhh... ugggghhh...". It was so typical mumble of me when get sick. 

I heard some woman said that I had woken up already to the one that I know later was one of my anesthetists. He waited me 'til I got my "OK" consciousness level.

In less than half of consciousness, I immediately called him and asked about the state of my disease and my surgery. I remember having this conversation without enough power to open my mouth perfectly. So yeah, it was a bit mumble also. I asked him three questions. First about my disease. He said he was the anesthetist, he didn't know about it. Some minutes later I called him again. He stood up, and came approaching me (again). "How long was my surgery going?", I said (with half mouth open). He then took my medical report and answered that it was one hour and a half. I couldn't focus on anything, just felt my head so heavy. I felt heavy too on my eyes.

Some minutes later, I could feel my brain thinking. By the time the doctor checked my IV and my drain to prepare my moving to my room (which meant I got the wanted consciousness level already), I mumbled out what my brain had been thinking: "Doc, why I didn't dream anything?" That time, he chose not to answer my question. And now I still wonder why he was so silent for the question.. (lame detected #3)

Ah, I really miss and will miss my experience in ODC.. for sure..!!!


"Go to hell, Lady.."



Thursday, August 08, 2013

Sepaket*

 
Pasti demikian, pasti kita di kehidupan sebelumnya merupakan makhluk tangguh dalam memperjuangkan kebaikan, berlaku atas nama kebaikan, sehingga kita lahir sempurna sebagai manusia, sehingga kita lahir di lingkungan yang kondisional, tertata apik dengan laku yang baik, kubangan rimbun tak berbau busuk tempat kita tumbuh. Pasti demikian. Pasti bukan yang lain. Pasti di kehidupan sebelumnya kita bukanlah tipikal makhluk yang menyakiti sesama, bukan yang kebiasaannya berpura-pura tak tahu atas berbagai keadaan. Ya, pastilah dahulu kita merupakan orang yang baik, yang mengerti baik dan buruk. Yang mengamati. Yang berusaha selalu merenung untuk satu jawaban puncak kebijakan. Pastilah demikian, karena kini kita dilahirkan sebagai manusia yang begitu beruntung. Berada dalam kubangan terhormat, sehingga setelah lahir saja kita tak dipandang sebelah mata. Sehingga setelah beradanya kita di dunia ini, mudah saja kita dapatkan beberapa keistimewaan, yang tentu di luar dugaan kita.
 
Tentang seperti apanya bentuk kita dahulu kala, juga sering berkelebat di benakku kini. Mungkinkah kita pernah terlahir dalam bentuk hewan, seperti Ti Pat Kai dalam kisah Sun Go Kong si Kera Sakti, menjadi seekor babi? Bisa jadi kita pernah terlahir sebagai seekor babi. Oh, babi yang tak pernah lucu kecuali yang pernah disulap oleh Walt Disney sebagai Piglet teman Winnie the Pooh itu. Pernakah kita meng-grok-grokkk protes di setiap menit kita karena perut kita yang tak pernah merasa kenyang karena demikianlah tabiat seekor babi?
 
Bisa jadi pernah kita menjadi babi itu. Namun kita pasti berbeda. Bila pun kita merupakan babi, pasti kita merupakan babi dengan distingsi**, yang membedakan dengan babi kebanyakan. Logis bila aku berkata seperti ini. Karna tak mungkin seekor babi biasa, yang tak pernah kenyang itu, bisa lahir kembali dalam keadaan seperti yang kita rasakan saat ini. Bila pun memang pernah dilahirkan sebagai  babi, kita pasti merupakan sosok babi yang pendiam, dan mengarti, dan berusaha berontak dari tataran umum kebabian. Kita pasti merupakan sosok babi yang berusaha sekuat tenaga tak mengesampingkan kesadaran kita, walau sebegitu melimpahnya makanan mengepung kita, dan sebegitu kruyuk-kruyuk-nya suara perut kita. Tapi entah mengapa yang kita usahakan sejak di awal itu lalu menjadi kebiasaan kita, sehingga kita dapati kehidupan seperti saat ini.
 
Namun mungkin skenario hidup a la babi itu terjadi beberapa kehidupan sebelum kehidupan yang ini. Lima kehidupan sebelumnya, empat atau mungkin enam. Bila pas sebelum kehidupan kita yang ini, pastilah kita merupakan babi yang sangat baik, dan sangat menjaga diri, sering menyimak dan akhirnya menubuhkan rahasia kehidupan itu, berhati tunduk dan penuh  syukur, serta sering menolong sesama, walau sebegitu berbedanya tabiat antar sesama itu. Kita pasti merupakan pemberontak sejati atas lingkungan kebabian. Ya, pasti demikian.
 
Bila pernah kita termuat menjadi babi, hidup kita sebelumnya lagi pasti mengerikan sekali. Menjadi seorang yang rakus nian mungkin, yang tak pernah berhenti memperkenyang diri, dan karenanya tak pernah dapat membedakan kenyang dan lapar itu sendiri, sebagaimana pun baiknya kita terlahir di awal kehidupan yang itu. 
 
Kini aku khawatir, hidup menjadi babi pasti tidak enak. Dan kini aku khawatir, bila kita mulai melenceng, dan meneruskan pemelencengan tersebut, kita akan kembali merasakan kehidupan menjadi babi yang pasti tak pernah mengenakkan karena hanya menunggu mati untuk disembelih yang lalu dijual dan berakhir di meja makan sebagai tongseng B2. Ah, hidup seperti itu sungguh menjemukan kurasa. Aku tak mau.
 
Dan seperti apa pun bentuk kita di semua kehidupan, kita pasti bertemu. Seakan di dunia ini setiap makhluk selalu dilahirkan dalam satu paket, seakan selalu seperti ikan dengan airnya, seakan aku tak akan dilahirkan tanpa keberadaanmu, dan demikian sebaliknya, walau entah siapa yang lebih tepat menjadi ikan, dan siapa yag lebih pantas menjadi air. Itu tak masalah, tapi kita selalu sepaket. Hati kita selalu tertambat. Inilah satu-satunya hal yang menjadi persamaan di setiap kehidupan-kehidupan itu. Kamu selalu sepaket denganku: aku selalu merupakan magnetmu, dan kamu selalu merupakan gravitasiku.
 
Sebenarnya aku tak begitu yakin jika aku menjadi babi, berarti pula kamu menjadi babi, lalu jika manusia, kamu pun manusia. Ketika aku mengandai kehidupan menjadi babi tadi, aku terlampau merasa kesulitan membayangkan satu paket yang tidak sama-sama berupa babi. Sebagaimana pun bentuknya, di kehidupan mana pun, kita selalu melengkapi satu sama lainnya. Karena kamu adalah separo yang lain yang menjadikanku ada. Karena aku adalah setengah sisanya yang membuatmu hadir.
 
Melihat bagaimana kehidupan yang sekarang ini berjalan, aku hampir mutlak yakin tantangan terbesar yang selalu kita hadapi untuk pertemuan dua kali setengah dari masing-masing kita adalah yang berbentuk rasa. Bila hal ini adalah tentang cinta, ah, pasti ujian terberat tentang dua cinta dari kita adalah tentang cinta juga. Cinta yang diuji oleh cinta***. Repot sekali memang menghadapi ujian seperti ini. Bagaimana bisa tidak melayani godaan cinta yang sama hebohnya, yang sama-sama membuat hati ini berdebar-debar hingga ingin meledak tak karuan karena badai hormonal di sekujur sudut-sudut tubuh kita? Cinta sejati memanglah merupakan yang tahan uji terhadap cinta seperti itu. Di segala kehidupan, aku tak pernah lupa magnetku, dan kamu selalu ingat gravitasimu.
 
Bagiku kisah kita bukanlah kisah picisan. Karena bagiku, kamulah alasan segala murni keresahan. Bisa jadi aku dan kamu sama-sama pernah terserang banjir bandang cinta yang sungguh dahsyat. Tapi sama-sama dari kita pun sadar, cinta yang seperti itu hanya dapat memorak-porandakan kedirian kita. Selayaknya banjir yang sudah-sudah, setelahnya ia surut, hanyalah puing yang dapat ia sisakan. Hatiku dan hatimu.. pastilah tak pernah menyomot filosofi banjir seperti itu saat mereka saling merasa. Karena sekali lagi, kita selalu dihadirkan sepaket: untuk menyatu dan saling melengkapi, bukan saling membinasakan.****

*Ini adalah kisah yang berkelebat di benak setelah membaca cerpen Seno Gumira Ajidarma "Cintaku Jauh di Komodo", dalam kumpulan cerpennya Linguae (2007)
**Tentu distingsi ini mengacu pada Bourdieu Distinction: A Social Critique of the Judgement of Taste (1979)
***Beberapa kalimat dalam paragraf ini disadur langsung dari cerpen yang sama, dengan beberapa di antaranya mengalami perubahan, dan beberapa di antaranya tetap dipertahankan (lihat hal.13)
****The post I'd promised in the previous post is pended due to the tiring days! It's Ied Mubarok! And home is totally like a game center that it's hard for me to continue the "stoopid" project. So, keep waiting!! :p Yet, I apologize for all mistakes I've made, including some rude words, and "offensive" phrases I've created. And of course, for the mouth that has promised so much! :p

Monday, July 29, 2013

As The Prolog


Early of this Ramadhan tasted so nano-nano. Many news struck my head just like big crash on some car's bumper. It was obviously well, stressing. But Ramadhan always has its warmest smile. The smile that always leads you to the (almost) perfect silence. The smile that always ends you up into you: into the deeper self of yours. At least that is the meaning of Ramadhan for me.

Although actually I was a bit disappointed - of course to myself. First of all I didn't prepare that well for Ramadhan. Just so different than a year before when I was in Pare. See, things were falling down brutally sharp before it had started. A year ago, I was in my best condition as me. Having Rinjani and Semeru as my biggest spiritual moment, and completed heart after six months teaching Grammar Speaking. The so-positive soul for my perfect Ramadhan. And yes, last-year Ramadhan was perfect, too (although I'm sure I haven't had that Lailatul Qadar yet). I prepared for social academic world so bad. Learning philosophy, reading (so slowly) of some (only) books, having sufi discussions, and still, taking a leap of faith (Inception 2010) by whispering some mantras to diminish the fears of facing the world that was completely out of my reach. Turned out what I had prepared was not that in line with the world I was facing. It was a bit away from that complicated-looked world. Yes, but that's okay since that was still so typically me..

So I felt a bit terrible at the beginning of this Ramadhan for not preparing it so well before. For being such a bad ass because I was just facing this Ramadhan with this pokerface . Yes, thanks for your congratulation.

And second, because of not that positive soul, even so negative actually, this Ramadhan is worse than last year. This reality is so frustrating. Although I understand so well that reality always sucks, still I feel so disappointed - to, once again, myself. Last year, I was so passionate about reciting Qur'an, having those salat sunnahs, reciting Qur'an again, salat sunnah again, and of course having many prayers. So much, I guess. Ramadhan today? I started so bad. So bad.

Being in the environment that keeps hegemony-ing you that no one can hegemony you, not even the person that you really love, makes these whole matters more and more complicated, that surely it's too complicated to elaborate here. Main point is, all of things inside my head keep crumbling (and crumbling (and crumbling)). The very first thing I believe, I questioned. It was just a small thing anyway, since I have questioned this very first thing long time ago. What matters is, yes those things: I don't believe in everything!!! It's like this environment keeps saying: Nobody can dominate you! Nobody can hegemony you!. And you guys know how it feels? It feels as if you are the strongest, the biggest, and before you realize what is happening, you, yourself, is so linglung - floating. On, and on.. And there you are standing: a self with no identity. A self with the identity that has already gone. A self who's out of the game because you reject the rule (Bourdieu 1993). Then now, at least I know what hegemony really means. I must be hegemon-ied to make sure I have myself. And here I am, in my some-more-days of Ramadhan, fixing what I could fix. I really hope so. It's only some days left, oh myyyyy....

So now I keep chasing my-last-year Ramadhan reach. Reciting Al-Qur'an more and more to at least khatam for twice (had one already), fixing my mind about those sunnahs (still a bit dumb), trying to have the spirit of prayer (some efforts to go), and selecting things I should follow for my best hegemon-iers. And now, maybe, I should think about this environment, the well, a bit stupid one, that keeps hegemony me that nobody can hegemony me. I should consider it as the bad hegemony agent that I should not follow. Maybe I should..

Maybe life should be faced with so many things falling apart. Maybe there's person out there saying that package is more important (and perhaps the most important one), just as like mentioned in this sentence:

NI ORANG KADANG GA PEDULI DENGAN "KEMASAN",
SAMBIL TERUS MEYAKINKAN DIRI
KALO "ISI" LEBIH PENTING DIBANDING KEMASAN...
(stupid one 2011)

But at least I understand enough that "convincing" myself that this is what I am is absolutely different from what you call: deluding yourself that this is what you are for any reason that the very you, the real you never will understand. At least I don't fake identity, and at least I still try to put honesty over everything.

About the so-offensive last paragraph above, it was the prolog for the next post. A post that (will) contains one-and-a-half year personal project. So keep waiting, since I must focus fixing my Ramadhan first..


Monday, July 15, 2013

Perempuan dalam Keranda Bening (2)


Sudah setahun. Sudah setahun perempuan itu meringkuk di sana. Meringkuk dalam sayatan kepenatan sebuah getir yang tak kunjung bersahabat. Sudah setahun. Sudah setahun ia meringkuk dalam basah rasa resah. Manifestasinya berupa aliran cairan, yang menggenangi keranda bening itu. Seorang pemuda asing yang lewat, pada suatu waktu, tak tahan melihat betapa genangan itu dapat berakibat fatal untuk nyawa mayat hidup perempuan ini (ya, walaupun mayat, kita tahu ia masih tetap bernafas). Pemuda asing ini hanya menyoal kemanusiaan. Hatinya juga turut menjerit ketika berada di sekitar keranda bening tempat perempuan tersebut meringkuk. Demi rasa kemanusiaan itulah, demi hati yang tak menjerit dua kali lipat karena membayang perempuan ini mati untuk kedua-kali-nya lah, ia akhirnya melakukan sesuatu pada keranda bening di mana di dalamnya terdapat perempuan yang mengalun sakit sebuah jerit pahit itu.

Didekatinya, dan diperiksanya dengan seksama. Rupanya keranda bening itu terbuat dari kaca. Kaca yang tebal. Sejam kemudian sudah terkumpul perkakas di sekitarnya, dan pemuda itu memulai pekerjaannya. Masyarakat pun berkumpul, melihat apa yang sedang dilakukan si pemuda. Pemuda ini berusaha menghancurkan kaca keranda itu. Tak dapat. Percuma. Hingga peluhnya habis pun percuma, karena masyarakat setempat pernah mencoba hal yang sama, bahkan selama sebulan penuh tanpa henti. Awalnya masyarakat ingin menyelamatkan perempuan ini, sama seperti niatan pemuda tadi. Namun beberapa saat setelahnya alasan tersebut berubah karena kampung tempat tinggal mereka menjadi begitu muram atas kehadiran mayat hidup perempuan tersebut. Sebulan usaha mereka sia-sia. Ada pula yang mencoba memakai alat berat untuk memindahkannya. Dan sekali lagi, tanpa hasil. Seakan merupakan keranda yang telah mengakar di tempatnya berada. Perempuan dalam keranda bening itu akhirnya tetap meringkuk di situ, di suatu sudut, di kampung itu.

Namun pemuda itu berkeras hati. Walau demikian tetap saja keranda itu bergeming. Beberapa hari setelahnya, di beberapa titik di permukaan keranda tersebut, usaha pemuda itu secara menakjubkan terlihat membuahkan hasil. Tiba-tiba lima titik terlihat merembeskan air. Lima titik itu saja. Tak lebih. Dipaksa dengan tenaga lebih pun tak lagi ada. Air pun mengalir keluar. Sejak saat itu, basah tak hanya ada di bagian dalam keranda bening. Tanah di sekelilingnya juga turut basah. Basah dan basah. Dan perempuan di dalamnya, tetap tenang menunduk tak bergerak, kepala tetap menyentuh lutut dan tubuhnya tetap tertarik gravitasi yang seakan terpusat di tengah keranda tersebut. Tak seorang pun berhasil membebaskannya. Tidak juga pemuda asing itu.

Beberapa saat kemudian masyarakat sepakat untuk meninggikan letak keranda itu. Sekitar tiga setengah meter tingginya. Dengan susah payah akhirnya keranda bening itu, yang isinya perempuan sendu yang tetap diam meringkuk itu, berhasil juga dijadikan tugu monumen. Tegak berdiri di atas semen setinggi tiga setengah meter dengan air yang tetap merembes dari dalamnya. Perempuan dan kerandanya itu menjadi simbol kampung ini.

Setahun sudah. Setahun sudah. Setahun sudah. Kini rembesan dari keranda bening itu mengalir dengan jalur-jalur yang telah dibuat oleh masyarakat: sengaja dialirkan agar tidak banjir. Lima total jalurnya membentuk parit kecil layaknya kali. Arusnya kadang besar, kadang kecil. Tak ada yang tahu mengapa. Ikan-ikan pun bermunculan. Ikan mas, lele, wader, ceblong, bahkan ular air sering sekali berenang di alirannya. Masyarakat yang awalnya muram oleh kehadiran keranda bening itu, oleh kehadiran mayat hidup perempuan itu, kini jadi senang. Ikan-ikan dapat ditangkap untuk sekedar pauk. Lumayan menghemat kala semua harga melambung hebat.

Walau kemuraman tak dirasa sebegitu menyayat seperti awal mula kehadiran perempuan mati namun hidup itu, apalagi didukung kehadiran ikan-ikan untuk lauk makan itu, bayang-bayang hitam masih menghantui kampung tersebut. Hanya segelintir orang saja yang dapat merasakan hadirnya. Mereka adalah pemerhati sejati, yang peka mengindera. Di antara wajah muram itu, terbias dalam meningkat drastisnya jumlah kematian orang kampung. Kesuraman perempuan itu rupanya juga menarik kematian...

Setahun sudah. Setahun sudah. Banyak ikan sudah. Banyak yang mati sudah. Perempuan itu masih juga diam meringkuk dengan gravitasi di tengah yang menahan posisinya dalam keranda bening itu.

Kemudian di suatu pagi, gempa dahsyat melanda kampung itu. Kampung itu saja. Entah hadir darimana, entah episentrumnya darimana. Dahsyat nian. Banyak yang mengira itu kiamat. Masyarakat berlarian ke tanah lapang. Saling meneriakkan nama Tuhan. Begitu dahsyat. Tapi anehnya tak ada yang mati. Juga tak ada yang porak-poranda. Seakan semu saja. Seakan goyangan itu hanya melanda tubuh mereka saja. Hanya dirasa tubuh mereka saja.

Dan tentu, goncangan dahsyat itu juga dirasa oleh tubuh perempuan sumber kemuraman itu, yang akhirnya menggoncang juga keranda bening tempat ia meringkuk selama setahun itu. Tergoncang dahsyat, dan tergoncang dahsyat. Tugu penyangganya pun mulai ikut tergoncang dahsyat. Satu menit, dua menit, tiga menit, ..... perempuan itu masih terlihat tergoncang yang haibat, namun tetap saja ia terlihat muram, dan diam. Di menit ke lima guncangan, keranda itu lepas, jatuh menggelinding, dan DHUARRR!!! Terdengar sebuah ledakan menggelegar. Gempa dahsyat berhenti. Masyarakat segera berlarian ke arah tugu simbol kampung itu, di mana sumber ledakan keras berasal. Bangunan tersebut porak poranda, keranda bening itu hancur...

Dan perempuan itu..

Dan perempuan itu..

Dan perempuan itu..

Dan perempuan itu terlihat sedang duduk bersimbah darah di antara sisa-sisa reruntuhan tugu tempatnya hampir setahun ini berada. Ia duduk, namun tak lagi meringkuk, walau masih terlihat menunduk. Nafas dan darahnya sama-sama sedang tertatih. Dari badannya terlihat ia sedang tergesa-gesa menghirup udara. Dari merah anyir itu terlihat luka hadir di sana-sini. Luka yang nyata, yang  menyelimuti sekujur tubuhnya. Tak ada kata aduh. Ketika warga mulai mendekatinya, ia berdiri. Terlihat sangat lemah ia berdiri. Ribuan pecahan kaca terlihat nyata sebagai sumber lukanya. Namun tetap, tiada kata aduh terucap, walau darah telah gencar memancar di sana-sini.

Perempuan itu berdiri. Wajahnya bermandikan darah, juga sekujur tubuhnya. Badannya basah. Matanya basah. Tak ada lagi cairan yang mengalir dari tubuhnya, selain hanya pancaran darah. Saat sudah sempurna berdirinya, mimiknya yang suram menggeram. Warga bersiaga. Dengan sekuat tenaga perempuan itu, yang tak lagi dapat merasa luka itu, menjerit melengking. Seantero kampung mendengarnya. Sebuah jeritan paling pilu yang pernah terdengar. Hewan-hewan turut menyahut. Sapi Bu A melenguh sedu, anjing Pak B melolong sedih, kucing-kucing mengeong menyayat. Sungguh merupakan susana paling lara yang pernah dirasa warga.

Perempuan itu pun melapuk. Roboh seketika setelah menuntaskan jeritan. Bukan mati lagi, hanya pingsan semata. Warga segera membawanya ke mantri kampung. Merawat perempuan ini.

***

Monumen hancur. Keranda bening juga telah lebur. Kehidupan kampung kembali normal meski tak lagi ada ikan gratis buat lauk makan. Rupa perempuan itu sudah mulai wewujud. Tak lagi suram. Tak lagi buram. Tak lagi menarik kematian. Namun tubuh bagian dalamnya menyisakan cerita; menyisakan derita. Tak dapat terelakkan. Hidupnya kini benar-benar tinggal sedepa.


Sunday, July 07, 2013

Mati

Mati itu memang selalu ada, dan akan selalu ada. Ia akan tampak menyembul di waktu yang telah ditentukan. Kapan, itu tentu rahasia Tuhan.

Aku tak pernah takut mati, sungguh tak pernah. Karena ia hadir di sana. Sudah duduk manis sembari tersenyum menunggu saat beraksinya. Tinggal sebuah titah dari Maha Mentitah, dan eksekusi pun ia lakukan. Tak perlu takut akan kematian. Ia hakiki. Absolut. Tak perlu lari dari kenyataan yang telah digariskan.

Namun ketika sudah tanda-tanda kematian itu muncul, rupanya takut itu segera saja menyeruak. Keberanian yang sebelumnya membulat, lumat habis tak bersisa. Diri yang membayang malaikat pencabut nyawa, betapa sakitnya rongga dada sebelah kiri karena diserbu berisik kekuatan tak kasat mata, betapa tubuh lumpuh tak berdaya tanpa roh yang menghidupinya.

Mati itu, segera saja kubayangkan rasa sakitnya. Segera saja kubayangkan betapa beratnya. Segera saja kubayangkan betapa sesaknya.

Keberanianku lenyap tanpa jejak. Aku kembali takut mati.

Sunday, June 30, 2013

Menutup Mata


“Apa yang terjadi ketika kau menutup mata?” Kau memulai kalimatmu. Aku diam menunggu, karena itu pertanyaan retoris yang tak butuh jawaban.

“Menutup mata yang harfiah, berhenti menggunakan indra penglihatmu. Coba biar kucontohkan terlebih dahulu.” Lalu kau pun menutup matamu, mata yang indah itu, yang setiap saat ingin kusentuh, ingin kudaratkan sebuah ciuman terhadapnya. Tak hanya sebuah, dua, tiga, ah, ratusan pun aku bersedia.

“Ya, begini”, katamu melanjutkan. “Kau hanya perlu menutup matamu. Tutup saja seperti ini. Tutup saja." Aku tersenyum geli memandangimu. Tega sekali kau memainkan permainan anak kecil ini. Semua orang bisa bila hanya menutup mata. Apa kau sungguh lupa bila aku adalah ratu tidur? Aku ini orang nomor wahid bila hanya masalah menutup mata.

“Ayo tutup matamu, Lia..”. Kau membuka mata indahmu itu, memergoki diriku yang sedang mengamati. Aku bilang aku tak mau, tapi kau menyela untuk melakukan saja, untuk tidak banyak protes. Kau ini, betapa senang menghalangiku melakukan apa yang kusuka. Dirimu yang kupuja sedang duduk utuh bersila di depanku. Dan kau suruh aku menutup mata. Aku ingin menikmatimu. Ingin menikmati indahmu.

“Tutup dulu, Sayang..”

Pada akhirnya aku selalu lumpuh bila sudah kau panggil aku dengan kata sayang itu. Protesku terhenti dan, baiklah, sayangku, aku tutup mataku, rapat-rapat. Kau lalu tertawa terbahak ketika sudah sedetik kututup mataku aku bertanya apa hukumnya bila aku ngintip sedikit-sedikit. Aku hanya bisa membayangkan gelak tawa itu. Pasti merupakan sebuah gelak tawa yang manis yang kau produksi. Serta-merta aku ingin membuka mata. Namun aku menahannya sekuat tenaga. Sungguh ini cobaan yang berat. Bagaimana bisa aku mengaksesmu bila tanpa mata?

“Apa yang kamu lihat sekarang, Lia?” Kali ini sebuah kombinasi kalimat dengan kata kamu. Khas sekali dirimu, Aku suka membahasakan dirimu sebagai kau, dan kau gemar membahasakan diriku dengan kamu. Aku benar-benar mengidolakan segala yang berbau dirimu, tak terkecuali penggunaan kata ‘kamu’ milikmu.

“Apa, Sayang? Kamu sekarang lihat apa?”, kau bertanya kembali setelah tak mendapat satu jawab. Pertanyaan yang tak kumengerti. Mengapa senang betul kau menanyakan hal beginian? Sedang aku dalam keadaan tak dapat melayangkan suatu protes apa pun, kujawab saja sekenanya bahwa aku sedang melihatmu. Kau tergelak lagi. Kau bilang aku bercanda. Memang, sayangku, aku memang sedang bercanda, seperti yang sedang kau lakukan kali ini. Sudah jelas-jelas aku sedang menutup mata, dan kau tanya aku sedang melihat apa. Lama-lama candaanmu jadi tak lucu.

“Apa, Lia sayang? Apa yang kamu lihat?”, untuk ketiga kalinya kau mengulang pertanyaanmu. Dengan kesal kujawab jua bahwa jelas aku tak melihat apa-apa. Kembali terdengar kau tergelak, namun kali ini tersirat sedikit nada protes di dalamnya, yang hampir dapat dipastikan berarti ketidaksetujuan. Aku tahu. Aku tahu. Kau sedang menjebakku. Karena ini hanya awal. Pertanyaan-pertanyaan tak lucu ini hanya sebagai pengantar kisahmu. Jadinya pun aku tersenyum dalam tutup mataku. Menunggu instruksi berikutnya, agar segera kudengar inti permainan ini.

“Sungguh kau tak melihat apa pun?”, kau menegaskan pertanyaanmu seakan ingin menegaskan bahwa seharusnya aku melihat sesuatu. Namun aku hanya dapat menjawab dengan sebuah anggukan karena memang tak melihat ada jawaban lain (lagian kan, mataku sedang tertutup).

“Hitam, Sayang, yang kamu lihat adalah warna hitam. Hitam yang sering dianalogikan dengan ketiadaan. Kamu memilih jawaban tidak melihat apa-apa untuk pertanyaanku tadi. Padahal, Sayang..”, kurasakan tanganmu membelai wajahku. “Hitam itu adalah sebuah warna. Ia ada..”, kau melanjutkan, masih dengan jemari yang bergerak perlahan-lahan menyusuri lekuk wajahku. Hatiku berdegup tak karuan, adrenalin mulai merayap merambati tubuhku. “Mata kita tetap berfungsi walau serapat apa pun kita menutupnya”, kini tanganmu menyentuh mataku yang sedang tertutup. “Hitam hanyalah sebuah intensitas cahaya yang panjang gelombangnya tak dapat direpresentasikan sebagai warna lain oleh indra penglihat kita”, kau melanjutkan sembari lembut memainkan jemari itu di sekitar nafasku. Aku merasa dingin. Nervous. Namun aku hanya dapat tersenyum bahagia mendengar semua darimu. Dan merasa semua. Bahagia karena ternyata kau sedang menikmati diriku yang tak memiliki kuasa penglihatan. Bahagia karena kau sedang mencoba menelanku, sembari berkisah tentang hitam. Aku membayangkan dirimu yang sedang menatapku lekat-lekat, melumatku habis-habisan dalam sebuah tatapan. Permainan ini mulai menarik, walau tanganku (dan sekujur tubuhku sebenarnya) mulai menjadi dingin.

Lalu kau lepas sentuhanmu pada kulit wajahku. Jantungku masih kencang berdegup. Senyumku tetap di tempat. Mataku masih tak memiliki otoritasnya. Aku merasa tubuhmu kau geser lebih dekat hingga lutut kita saling bersentuhan dalam posisi bersila. Kau gumamkan kata-kata betapa kau menyukai senyumku. Aku semakin tersenyum. Hatiku semakin berdebar. Aku tahu itu. Aku tahu itu, Pangeranku. Aku tahu betapa kau memuji senyumku, dan aku berterima kasih karena kau telah mengungkapkannya. Mengetahui menjadi sangat diinginkan oleh seorang dirimu seperti ini adalah hal paling indah yang pernah ada dalam hidupku. Aku berucap terima kasih telah membuatku merasa sebegini istimewa. Namun kau menolak ucapanku dan memilih meneruskan permainan.

“Mari kita lakukan hal yang lain, Lia”. Hal apakah itu gerangan, Tuan? Aku tak sabar menunggunya. Aku tertawa kecil ketika kau bilang aku tak boleh berpikir macam-macam. Pikiranku hanya beberapa macam saja, Tuan, karena aku sedang menutup mata. Pasti kaulah pihak yang sedang memiliki beribu imajinasi dalam otakmu, karena matamu terbuka gamblang sedang menikmati diriku.

Lalu kau melanjutkan, “Aku sekarang turut menutup mataku. Kita berada pada posisi yang sama. Sama-sama bersila, sama-sama berhadapan. Mari benar-benar menutup mata, Sayang.”

Ah, kau mulai lagi. Kupikir permainan kita yang tadi akan kita lanjutkan. Kau selalu begitu, selalu menghentikan segala yang sangat kuinginkan. Sekarang juga demikian.

“Hentikan, Lia sayang. Kamu harus berhenti melayangkan protes-protes diam-mu itu”, katamu menyentakkan ribuan grundelan yang barusan terucap dalam hatiku. Kau pasti sedang tersenyum ketika kutanya bagaimana kau bisa tahu bila aku sedang ngomel-ngomel dalam hati. Kau bilang karna kau mendapati laju nafasku yang memburu dan terkesan tak tenang, berbeda dari ritme nafas sebelumnya. Mengindikasikan emosi negatif. Ah, baiklah, Tuan yang super tahu segalanya, mari kita lanjutkan melakukan hal yang lain ini.

Kau menginstruksikanku untuk kembali mengatur ritme nafas. Aku melakukannya jua. Hingga akhir hayatku aku ingin selalu mendengar instruksimu. Apa pun itu, yang penting kau tak boleh menjauhiku dan meretakkan segenap hatiku.

“Bila tadi kita memusatkan energi pada penglihatan, sekarang mari kita alihkan energi itu pada pendengaran. Mari kita mendengar. Mendengar segalanya, Lia."

Tadi melihat, kali ini mendengar. Ah, mengapa benar-benar hal-hal yang remeh-temeh. Tapi sudahlah, aku harus berhenti nggrundel, atau nanti ketahuan olehmu lagi. Bisa malu dua kali aku.

Namun aku merasa tak nyaman. Mendadak hening begini, pikranku berkata macam-macam. Jantungku juga mulai berdegup tanpa aturan, nafasku bukannya teratur, malah hampir tersengal-sengal. Aku mewartakan apa yang kurasakan kepadamu. Lalu jawabmu lembut menenangkan, “Jangan bimbang karena hitam yang ada pada matamu. Lupakan masalah intensitas cahaya yang tadi kukatakan. Sekarang mari kita diam dan mendengar. Hanya mendengar.”

Aku tahu apa yang kau sedang coba lakukan. Dulu kau pernah bercerita tentang hal ini. Semacam meditasi mendengar semesta. Kau dapat itu dari buku Paulo Choelho. Entah buku yang mana, karena aku hanya membaca The Alchemist saja, itu pun karna kau paksa. Lalu aku tak lagi dapat kau paksa membaca bukunya yang lain, karena bagiku komik lebih menarik daripada segalanya. Namun aku jelas ingat, yang dulu kau ceritakan tidak seperti ini. Kau dulu berkisah bahwa meditasi yang digambarkan Coelho itu tidak harus dilakukan dengan posisi duduk bersila begini. Bahkan sambil tiduran pun tak apa. Yang penting menutup mata dan lalu fokus mendengar segalanya. Dan yang penting keajegan melakukannya, semisal harus sekali sehari. Dulu kau berkisah ingin juga mencoba latihan itu, namun kau hanya tahan dua minggu. Katamu dengan melakukannya secara rutin, kita akan dapat mendengar alam, bahkan lebih dari itu, kita akan lebih dekat dengan sesuatu yang berbau-bau immateri. Kita bisa jadi lebih sensitif, dan poin terpentingnya adalah kita mampu mendengar pesan Tuhan.

Ya. Tuhan. Tuhan yang selalu kau banggakan itu. Kau selalu tertarik untuk mengerti bahasa alam. Kau selalu menggebu-gebu jika itu tentang mengerti tanda-tanda yang diberikan Tuhan, hingga nantinya tak akan bingung-bingung lagi mana jalan yang benar, dan mana jalan yang salah. Kadang aku menebak-nebak, jangan-jangan kau ini ingin jadi paranormal. Tapi yang seperti itu kan masalah sepele. Jalani saja. Mana ada jalan didikotomikan menjadi benar dan salah seperti itu. Kita sudah sering berdebat mengenai ini. Aku yang selalu memandang semua jalan itu benar adanya, dan kau yang keukeh pada pendirian bahwa Tuhan selalu mengarahkan kita pada jalan yang benar, dan arahan itu tak dapat lagi didengar oleh manusia sehingga karut-marutlah kehidupan ini. Debat yang selalu berujung pada toleransi pendapat. Jadinya aku menghormati apa pun yang kau yakini, dan kau selalu berusaha mencintai apa pun yang kuimani. Nah, sekarang aku dan kamu duduk layaknya orang semedi begini jadinya. Berdua. Saling menutup mata.

Kau berkata lagi, “Kita sekarang mendengar saja. Jangan ada kata terucap, atau apa pun yang lainnya. Coba 15 menit saja, Lia. Setelah itu terserah, kamu mau memutuskan untuk melanjutkan atau kamu mau berhenti. Yang penting mendengar semuanya. Semuanya. Tak terkecuali hal yang kecil sekali pun."

Baiklah, Rajaku. Aku turuti titahmu. Aku mencoba. Mencoba mendengar semua. Kami berdua diam. Mulai tak kuhiraukan hitam yang meresahkan itu. Hanya kufokuskan saja pada suara. Kemudian mulai dapat kudengar teriakan suara tukang sayur di depan rumah beserta gerobaknya yang sedang didorong, suara keran air dari kamar mandi sebelah, suara kucing, suara.. macam-macam.

Namun isi dalam pikiranku masih tetap mendominasi porsi telingaku. Aku mendengar diriku bicara, terus-terusan berbicara tanpa henti. Heran juga mengapa bisa aku sedemikian cerewet. Dan nafasku kembali lagi memburu. Kembali lagi aku pada hitam yang meresahkan, yang kukira sudah kutindas habis-habisan.

Aku tak tahan lagi. Ini terlalu menyiksa. Kubuka mataku. Kuselesaikan semuanya, bahkan sebelum dua menit usai. Kulanggar aturan 15 menitmu. Dan itu dia dirimu, yang akhirnya dapat kulihat lagi. Berada hanya sekitar 25 senti saja di depanku. Kau sedang syahdu mendengar segala dengan mata tertutup, dan terlihat menahan semua kata agar tak meluncur dari mulutmu. Aku yakin kini kau tahu aku sudah curang karena telah membuka mata terlebih dahulu.

Aku tersenyum, nafasku yang tadi memburu sudah mulai kembali teratur. Dan aku tahu kau dapat merasa senyumku, walau tetap terlihat begitu bergeming. Kali ini kupandangi habis-habisan wajahmu. Wajah yang selalu kurindukan. Tetap kau bergeming. Tak tahan, akhirnya aku mendekatimu, mencium kelopak mata yang sedang tertutup itu, lalu kugeser bibirku menuju telingamu, dan kubisikkan sebuah kalimat di sana: “Aku tak tahan mendengarmu diam. Selesai melakukan ini turunlah, kita sarapan bersama.” Kukecup keningmu, lalu aku turun dari tempat tidur, menuju dapur untuk memasak sarapan. Kapan-kapan saja lah bila ingin mengajakku menutup mata namun yang tidak untuk tidur.

Yogyakarta, Sekitaran tengah Desember 2012
*atas nama biar Juni gak kosong posting*