Thursday, May 16, 2013

Garnis yang Manis dalam (500) Days of Summer


Ini review film yang seharusnya kubuat beberapa bulan yang lalu. Setengah tahun yang lalu bahkan, mungkin.. Sudah pernah kutuliskan poin-poinnya, namun poin hanya poin semata ketika menulis hanyalah hal yang ada di angan. Kadang menjadi sosok (sok) perfeksionis memanglah merepotkan: kau jadi suka sekali menunda-nunda pekerjaan, untuk sekali lagi atas nama "kesempurnaan". Ya Tuhan, maafkanlah Jeki yang hobi sekali berapologi..

(500) Days of Summer (2009), film paling romantiskah? Romantis saja aku setuju, karna akan merepotkan sekali membuat parameter yang benar tentang romantis, lalu aku harus menonton semua film hingga bisa bilang film ini yang paling romantis. Cerita film ini sungguh merupakan kisah sehari-hari yang lalu diangkat dengan baik oleh (googling sebentar) Marc Webb. Weits, tunggu. Rupanya ia juga yang menyutradarai The Amazing Spiderman (2012), kisah terbaru Spiderman yang dirombak habis-habisan seperti perombakan a la Christopher Nolan atas Batman.

Kisah drama memang merupakan kisah yang paling dekat dengan kehidupan kita. Bila ditanya apa genre yang paling ngepop sedunia, pasti dramalah jawabnya. Ah, masak iya? No doubt. Pertama karena ia mengangkat kejadian sehari-hari, dan karenanya maka apa yang dihadirkan akan mudah sangat dicerna oleh pemirsa. Kedua, hmm, apa alasan kedua? Tak ada. Yang pasti sesuatu yang merepetisi sebuah common sense akan mudah menjadi populer. Paling tidak ia sudah memiliki modal utama untuk tidak ditolak publik. Tinggal membungkusnya dengan pernik-pernik yang menawan, maka itulah yang sebenarnya mereka jual. Bukan isi. Tapi garnis.

Dan itulah sebenarnya isi segala yang populer: sesuatu yang common sense, yang dibungkus rapih menyenangkan. Itu pula yang ada di (500) Days of Summer. Film ini berhasil banget dalam membumikan kembali kepercayaan-kepercayaan orang kebanyakan tentang cinta. And you should know up front (mengikuti gaya narasi naratornya:), I'm one of those people. Aku sepenuhnya afirmatif atas ide melenakan tentang cinta yang dibawa film ini. Maksudku, ya maaf bila aku masih mau dibohongi oleh mitos cinta; ya maaf kalo hal itu yang masih bikin hati ini berbunga-bunga; ya maaf kalo definisi manusia non-manusiaku masih juga berarti dapat 'mengasihi' atau tidak.. Ah, apaan sih, haha..

Sesuai dengan judulnya, film ini berkisah tentang kehidupan 500 hari Tom Hansen yang penuh oleh Summer, seorang perempuan yang ia cintai. Bisa langsung ditangkap ide besarnya, yang juga dianut oleh mostly orang-orang: that when you really are into someone, and you get the green light, that someone will populate your mind - your life -, over and over.. Tak ada hentinya. Bahwa Tom, yang begitu menyukai Summer, akan mati tergila-gila ketika untuk pertama kalinya mereka berciuman di ruang fotokopi. Seolah gayus disambut, begitu.. #gagalplesetan

Begitu saja? Ha, ya tentu tidak. Di awal cerita, Summer berkebalikan 180 derajat dengan Tom bila kita berkata tentang makna cinta. Summer memaknai cinta sebagai sebuah lelucon, that it's a fantasy. Tom sebaliknya, ia adalah pemuja cinta. He believes in "the one". Pas banget Tom merasa the one itu adalah Summer. Keputusan yang sungguh tergesa-gesa.. *menengok diri sendiri*

Then why Summer gives green light to Tom? Mudah. Walau tak percaya cinta, Summer percaya hidup itu tak akan indah bila sendiri. Ia tak percaya cinta itu ada, tapi ia percaya bahwa hidup itu menyenangkan bila dinikmati. Maka ia menolak komitmen, dan menikmati segalanya. Menikmati keriangan hubungan tanpa status antaranya dengan Tom (yang bagi Summer disebut "friend"), menikmati canda tawa yang dibagi tiap hari, menikmati segala adegan kebersamaan, di apartemen, di kantor, di jalanan, di cafe, di bioskop, di la la la. And you know what? What Summer actually enjoys is love itself! Walau Summer tak ingin percaya bahwa cinta itu ada, yang sebenarnya ia nikmati adalah cinta itu sendiri. Lihat saja bagaimana ia menikmati wajah Tom, menikmati sisi kearsitekan Tom, menikmati suara Tom. Summer memuja Tom, layaknya Tom memuja Summer. Ia hanya tak ingin sebuah label. Semua penonton pun pasti gemas melihatnya, karena betapa keras Summer tak ingin bilang ia jatuh cinta pada Tom, desir-desir itu terlihat sekali melanda hatinya. Resah dan rasa itu, di sebagian kecil adegan juga diperlihatkan menghantuinya. Ia jatuh cinta tanpa ingin mengakui cinta. Summer also does fall in love. Dan aku afirmatif sepenuhnya dengan kata Tom: "you know it when you feel it". Ah yeah, couldn't agree more.

Namun kembali karena tidak ada pengakuan Summer atas hadirnya cinta itulah yang membuat film ini berdurasi panjang. Tom tentu sudah begitu bertanya-tanya tentang hubungan yang mereka jalin. Sebuah hubungan yang sangat dekat, lekat, dan itu tentu bukan hanya teman. Sejak Tom menuntut sebuah label untuk hubungan tersebut, Summer tampak mulai enggan. Seakan ia tak dapat lagi dengan bebas menikmati dunia dengan caranya. Tuntutan Tom untuk sebuah status bukan sesuatu yang aneh, karena kurasa itulah kebutuhan manusia yang sangat dasar: untuk diakui kediriannya oleh pihak lain - identitas yang ia lekatkan untuk membangun kedirian.

Maka ketika Summer mulai memperlihatkan dengan frontal keengganannya tersebut, tak memberi apa yang Tom butuhkan, Tom pun limbung. Tapi bila mau fair, sebenarnya keduanya limbung. Keduanya sama-sama limbung karena intensi mereka tak lagi terpenuhi. Tom tak mendapatkan labelnya. Dan Summer, tak mendapat bebasnya. Yang menjadi berat bagi Tom adalah melepas limbung tersebut, karena ia harus sekuat tenaga berdiri tanpa Summer. Sedang Summer mudah saja menuju kebebasan yang lain. Maka tada!! Sinema ini pun juga sarat dengan kesekaratan Tom, yang sekali lagi, atas nama cintah..

Yang juga menyenangkan dari (500) Days of Summer ini adalah plotnya yang maju mundur (dan tak lupa maju lagi, dan mundur lagi, dan maju lagi, dan mundur lagi, dan seterusnya). Lima ratus hari itu diceritakan dengan bentuk yang unik, pada momen-momen tertentu yang saling berhubungan. Momennya direpresentasikan dalam hari. Hari ke-488 adalah hari pembuka. Beberapa detik saja adegan ditampilkan di sana. Setelahnya, segera berpindah ke hari pertama. Dan lalu menuju ke hari 290. Ke hari pertama lagi. Lalu tanpa diberi tahu di awal, adegan berganti ke hari ke-3, dan dilanjutkan ke hari 4, dan seterusnya dan seterusnya. Ide kayak gini sungguh cemerlang, walau plot maju mundur sudah biasa banget untuk jenis cerita yang diproduksi di jaman sekarang. Namun "bungkus" yang satu ini patut kuacungi jempol, karena di dalam maju mundur itu, ada mundur yang lain. Dalam adegan di sebuah hari misalnya, penonton diajak untuk mengenang berbagai hal. Artinya kita penonton juga mundur dalam alur yang maju mundur. Sebuah teknik yang mengingatkanku pada cerita Inception (2010) yang penuh mimpi: seakan bermimpi dalam mimpi, dan di sini jadi: mengenang sebuah kenangan yang ada dalam kenangan. Jempol empat lalu kuacungkan.

Aku pun membayangkan penggagas film ini, entah director, entah penulis naskahnya, entah siapa, telah melakukan riset pada kebanyakan cerita cinta yang beredar di masyarakat sono. Kok repot banget? Iya, soalnya aku melihat ada pola-pola yang kupikir tak bakal itu ada hanya murni atas dasar benak si penggagas ide. Pun menulis itu juga butuh inspirasi, jadi istilah riset tadi tak bakal begitu berlebihan. Pola yang kumaksudkan itu tergambar di ups and downs sebuah hubungan cinta.

Sebut saja Tom yang tertarik kepada Summer sejak di awal dan Summer yang segera saja berteman dengannya, mulai membangun hubungan setelah ciuman pertama di hari ke-31 (yang awalnya didahului oleh momen penting setelah have fun di bar di hari ke-28). Lalu hubungan berjalan terus hingga hari ke-95, momen paling manis ketika Tom menggambar landscape kota yang didominasi skyscraper di lengan Summer dengan terlebih dahulu soundtrack paling manis dari The Temper Trap: Sweet Disposition diputar sebagai pengantar. Adegan yang sungguh membuatku mupeng. Aku juga ingin menggambar di lengan seseorang. Aduuuh, manisnyaaa..! Pret. Hubungan mereka pun semakin menghangat dan sungguh dekat.

First down, di hari 259, ketika Tom benar-benar merasa membutuhkan label untuk hubungan yang mereka jalin. Namun pertengkaran yang diawali oleh pertengkaran juga (antara Tom dengan pria di sebuah bar), berhasil diselamatkan. Sex after fight must be so wonderful. Just saying. *pokerface*

Agaknya sejak itulah, keduanya mulai merasakan keinginan yang tak akan pernah terpenuhi. Summer yang ingin bebas, dan Tom yang ingin label. "This is not how you treat your friend"-nya Tom tak lagi berguna, atau malah menjadi ancaman bagi kebebasan Summer. Di hari 290, hampir sembilan bulan mereka berhubungan (mungkin dipaskan biar tak ada bayi yang lahir, wkwk), Summer seakan menyelesaikan dengan "You're still my bestfriend". Hih. Klise yang menyebalkan.

Setelahnya, karena narator memilih Tom sebagai pemeran utama, maka kelimbungan penuh ada di pihak Tom. Tom semakin kehilangan Summer ketika perempuan tersebut memilih keluar dari pekerjaan agar tak sekantor lagi dengan Tom. Tom tak lagi dapat mengakses seorang yang memenuhi hatinya. Dalam masa limbung itu, macam-macam ceritanya. Dari yang kerja gak niat, hingga memutuskan keluar kerja, rupa gak jelas, hingga diri yang bener-bener gak jelas. Namun yang pasti, bayang-bayang kebersamaan, bayang-bayang masih dapat mencintai seorang Summer, dan tentu balik dicintai, merupakan satu hal yang sangat riuh di benak Tom. Di hari 456, mulai terlihat sisi terang. Tom bergerak meraih mimpi arsiteknya, tepat di momen-momen pernikahan Summer.

Lho? Summer menikah? Yap!! Kondisi memaknai cinta kedua karakter ini serta-merta tak lagi sama di akhir cerita. Summer akhirnya menyetujui apa kata Tom di awal mengenai cinta. Sedang Tom, malah sedang berada dalam usahanya mempercayai cinta yang fantasi. Summer bertemu pria lain, dan dalam masa singkat pasca tak berhubungan dengan Tom, ia menikah.

Limbung itu berumur 210 hari, atau 7 bulan. Setelahnya, Tom seakan move on. Ya, pernikahan "lawan" kadang jadi sangat memudahkan (just saying, wkwk..). Lalu di hari ke-500, ketika Los Angeles sedang summer, Tom pun menemukan Autumn, a silverlining as the next "the one". Akhirnya reproduksi utopis tentang cinta kembali terjadi. Bahwa cinta tak akan ke mana, dan yakinlah selapis perak tipis di gulungan mendung itu akan selalu ada. Aku mengafirmasi sebatas karena ini sesuai dengan habitusku. Menurutku akan bodoh sekali bila terus terkungkung dalam kenestapaan. I can move on because I want to. Mudahnya begitu, walau untuk bilang "want to" itu susahnya minta ampun. Yang lalu kalimat itu tinggal ditambahi saja jadi "aku tak bisa move on, yet.." :)

30 hari lalu "yuk", kemudian menjadi sangat dekat dalam dua bulan, umur hubungan 9 bulan pun bosan dan berhenti lalu tercerai berai. Serta, sebuah bangkit Tom membutuhkan 7 bulan lamanya. Bisa jadi si penulis naskah harus banyak-banyak berkalkulasi atas pengalaman banyak orang tentang ups and downs hubungan mereka, sehingga karyanya masih masuk dalam tataran logis dan bisa diterima khalayak. Hauuu, pasti repotnya bukan main menyusun kelogisan sebuah alur cerita seperti itu.. *applause meriah*

Catatan yang sangat penting yang ingin kutambahkan adalah tentang bagaimana subyek perempuan dibangun di sini. Aku sangat gemas, karena film ini seakan mengkritik perempuan-perempuan modern yang (menurutnya) mulai brutal memaknai cinta, atau bahasanya "buta rasa". Penggambarannya sungguh bikin emosi. Seakan perempuan modern itu sok aja gak butuh cinta, tapi ehhhh, ujungnya nikah juga dan takluk sama cinta. Summer yang akhirnya tunduk pada rasio cinta, kembali membawa perempuan pada diri yang melankolis dan mudah terperdaya cinta. Seakan ingin berkata "perempuanlah yang berhak diperdaya cinta, bukan laki-laki". Ini adalah wacana yang sungguh jenak di banyak budaya (yang kebanyakan patriarki), karena lihat saja produk media yang penuh dengan perempuan yang ditermehek-mehekkan. Dan satu yang perlu diingat, masyarakat membentuk dan dibentuk oleh wacana, jadi apa yang ada di media, dan apa yang ada di masyarakat pun sifatnya dialektis. Aku hanya ingin bilang bahwa posisiku tidak pada titik yang mengatakan bahwa medialah sumber wacana tersebut. Begitu. Dan bila menengok Amerika yang membuat film ini, hmm, rupanya tetap saja perempuan ingin tetap mereka tundukkan.

Namun di atas catatan penting itu, aku tetap menikmati film ini. Kulepas sekat-sekat jender, dan kunikmati Tom sebagai manusia. Kunikmati juga Summer sebagai manusia. Kunikmati diri Tom yang penuh memuja, dan angkuh diri Summer yang tak mau mengakui cinta. Melihat tayangan seperti itu selalu membuat diri merefleksi. Tak akan jengah apalagi didukung penuh oleh soundtrack yang menawan. Walau sebenarnya seringai reproduksi wacana tentang perempuan di sana membuatku tak nyaman juga.

Dan iya, soundtrack-nya aduhai sungguh keren. Aku langsung jatuh cinta dengan Us-nya Regina Spektor sebagai musik pembuka. Belum lagi pilihan Hero of the Story milik penyanyi yang sama, diputar penuh melatari harapan Tom yang membumbung tinggi dan kembali pecah berkeping-keping: "I'm the hero of the story / don't need to be saved//" (aku kutip juga untuk post-ku beberapa bulan lalu, lhoo..). Quequ'un M'a Dit yang berbahasa Perancis, lembut menyenangkan. Lalu seperti yang telah kusebut sebelumnya, Sweet Disposition yang benar-benar manis, bener-bener mengambil hatiku. Pas juga ditempatkan di dua momen yang manis. Indah bukan main. Segera saja aku mengunduh kesemua lagunya setelah usai menonton. Rupanya ketika aku tersasar ke banyak forum, soundtrack film ini banyak diminati. Aku lalu pergi ke kamar temanku, dan memberi empat jempol lagi untuk film ini. Haha.

Jangan lupa, akting Joseph Gordon-Levit dan Mbak Deschanel juga sungguh memukau. Deschanel ini maniiiis banget dan pas banget meranin Summer yang "not just another girl". Si Gordon (tanpa Alva)... sudahlah, ia sudah top markotop sejak dulu. Ah, sumpah deh, garnis dari (500) Days of Summer emang patut dilemparin banyak jempol!!! :D

*haish, nutupnya maksa*

"So stay there/ 'Cause I'll be coming over..//"
(The Temper Trap, Sweet Disposition)

10 comments:

  1. i love this film

    ReplyDelete
  2. persis di kehidupan nyata,seseorang yg belum bisa move on dan kehidupannya pun jadi berantakan.so much thumbs for this film

    ReplyDelete
  3. Keren reviewnyareviewnya 👍

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aaakk, makasih sudah menyasarkan diri!!! :D

      Delete
  4. si summmer hidupnya sendiri aja ngapain nikah segala dia kan cuman pengen seneng nya sendiri doang ga ngerasain perasaan org laen

    ReplyDelete
  5. Ini kisah klise nan payah kalo dibanding dengan romcom semacam eternal sunshine. Lagian ini film ga pake riset, wong kisah pribadi directornya sendiri yang diangkat hahaha. Well, pesannya bagus, tp simbol-simbol yang dipakai serba sell-out, the smiths lah, kaos joy division lah. Fatalnya lagi, karakter Summer ini dijadikan pembenaran oleh cewek2 indies masa kini. Pantes aja media kayak guardian ngasih rating cuma 2. Peaaaace!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lol. Thanks a lot sudah nimbrung. You've got a point there. Meski kisah direkturnya sendiri, imo ya, tetep ada riset kecil-kecilan, mungkin. Ini terlalu berharap, sih, soalnya pastinya aku agak-agak bias negeri berkembang vs. ameriki gitu (me as reader). Hahahah. Rating 2 dari guardian sah-sah saja. It's always OK to agree to disagree... :D

      Delete
  6. Hai,
    so..yes,sy nyasar,and i like this movie,
    'Theres no miracle,theres no such thing as destiny,nothing is meant to be..'
    Cerita yg trkesan klise tp tetap trasa nikmat
    Btw,sy suka reviewny,enak dibaca..thumbs up for you

    ReplyDelete

enter what comes into your head.. -_-b