Sunday, November 23, 2014

(Bukan) GGS: Gara-Gara Mimpi Alfa


Dee menyapa pembacanya dengan sebuah kejutan, dan enigma. Desas-desus bahwa tokoh utama Supernova buku kelima ini adalah Alfa menemui tanda tanyanya ketika kedirian Gio, lelaki yang kemunculannya hanya absen di seri Partikel, sedikit dikuak di beberapa lembar awal. Gio Alvarado nama lengkapnya, seorang yang sedang mencari seorang terkasihnya, Diva Anastasia, tokoh sentral di seri pertama Supernova. Nama belakang itu, Alvarado, membuat pembaca terperangah. Ini di luar perkiraan. Pembaca tak pernah menyangka Gio yang sudah mereka kenal sejak seri pertama adalah Alfa yang mereka tunggu-tunggu, dan lalu dibuat sadar kembali: seharusnya Alfa bukan Alva, apa penulis ini salah ketik?

Enigma ini menggelikan. Namun begitulah faktanya. Ikatan Dee dengan pembacanya terasa begitu kuat dan dengan demikian seakan begitu perlu bagi Dee untuk memberikan sapaan yang khusus bagi mereka. Mungkin semacam: Hey, I love you guys so I trick you! Tak heran bila keping pertama di Gelombang berjudul “Tipu Daya Ruang Waktu”.

Setelah sejak awal dibuat jungkir balik otaknya, pembaca dibawa kepada ingatan format buku kedua dan ketiga di mana keping pertamanya berisi semacam bocoran-bocoran kecil yang membangun pertanyaan besar untuk kisah keseluruhan Supernova. Barulah pembaca sadar Gio itu bukan Alfa yang diidam-idamkan seantero jagat fandom Dewi Lestari.

Akhirnya kisah Alfa yang “sebenarnya” pun dialirkan: seorang kelahiran Batak, bersekolah menengah di Jakarta, dan menyongsong masa kuliahnya di Amerika. Kisah kehidupan Batak yang diceritakan Dee di luar stereotip Batak yang biasa hadir di berbagai media. Ia mengangkat kehidupan umat suatu kepercayaan yang tak diakui sebagai agama di Indonesia, Parmalim. Hal ini sungguh menarik karena Nusantara memiliki banyak sekali kepercayaan di luar enam agama yang diakui yang ceritanya tak jauh berbeda dengan kepercayaan Parmalim: pendiskriminasian pemeluk ajarannya - hingga bahkan aku di sini hanya dapat menuliskan ‘kepercayaan’ untuk menyebutnya, alih-alih agama. Kehidupan Batak yang ada namun seakan tiada di mata kebanyakan orang ini, terlebih kisah kosmologinya, seakan membuka mata pengetahuan, lebih-lebih tentang diri sendiri: tentang Nusantara.

Tradisi lain, Bali misalnya, sangat mungkin memiliki kisah kosmologinya sendiri. Ia tentu menunggu untuk dikisahkan. Kemarin sempat ada seorang kawan menjadi pembicara sebuah diskusi dan ia menceritakan penelitiannya tentang aksara (bukan latin) di sekitaran Makassar. Sebut saja dalam kesempatan itu ia menyinggung kosmologi milik masyarakat Bugis dan Makassar, yang juga tersimbolkan dalam aksara masing-masing. Senang mendengarnya, semacam mendapat dongeng dari rantau, dengan aksen dan cara tutur yang nyaman di telinga (terlepas dari kisahnya yang memang outstanding). Ini adalah bahasan yang menyegarkan. Konon seri Bilangan Fu milik Ayu Utami menyinggung hal serupa dan bertumpu pada kebudayaan Jawa (tengah?). Besoklah kita cari bukunya.

Namun tentu kisah Alfa lebih dari itu. Membaca Gelombang berarti mengikuti petualangan seseorang untuk kembali pada mimpi tidurnya. Alfa adalah seorang pengidap insomnia yang parah – bukan karena ia tak dapat tidur karena penyakit tertentu, tapi hanya karena ia harus menghindari tidur. Bagi dia tidur dengan bermimpi adalah sebuah petaka karena mimpi yang datang dalam tidurnya selalu saja sama: mimpi yang berujung pada habisnya nafas dan nyawa yang terasa tinggal sepenggal. Untuk menghindari kesakitan itu Alfa memutuskan menjadi insomnia dengan siklus tidur tanpa mimpi.

Dengan demikian ia memiliki waktu lebih banyak dari kebanyakan orang yang tidur delapan jam per harinya. Ditambah dengan tekad orang perantauan dan kerja yang super keras, ia pun sukses dalam hal material – akademis dan pekerjaan hingga menjadi jutawan saat menjadi pialang saham di Wall Street.

Justru di sini ada kebosanan terasa. Kehidupan pialang saham telah banyak dibahas di berbagai media, utamanya lewat Hollywood. Akhir tahun 2013 film The Wolf of Wall Street yang dibintangi Leonardo DiCaprio memberi gambaran seperti apa kerja yang dilakukan Alfa. Kebosanan bukan saja tentang cerita menjadi pialang saham, namun agaknya kehidupan kontemporer Amerika juga terasa hambar, karena bukannya kisah semacam itu sudah sangat marak di kehidupan sehari-hari? Semacam Amerika lagi, Amerika lagi.

Kembali pada Mimpi

Untungnya segera saja kisah kantor Alfa bergeser pada perjalanan kembali pada mimpi yang telah lama ia hindari. Petualangan untuk kembali tidur ini membawanya hingga Tibet dan lebih dari itu, seperti halnya petualangan-petualangan tiga seri sebelumnya: membawa pada kedirian mereka. Ini mengajak pembaca memikirkan kembali hal-hal elementer dalam kehidupan: siapa aku dan mengapa aku ada.

Kisah Supernova memang selalu dalam satu visi untuk menampar manusia-manusia modern. Manusia yang lupa. Pada Gelombang pertanyaan tersebut dihadirkan secara lembut dan tersirat. Ini memang keahlian Ibu Suri, sebutan sayang penggemar Dee untuknya. Ia handal dalam menyajikan jungkir balik rasio sarat spiritualisme. Kehandalan berikutnya tentu kekuatan dan ketabahannya sebagai penulis dalam menjalankan riset pra penulisan, meski harus diakui Supernova Partikel lebih terasa genap dan kaya dalam hal ini – kiranya sebanding dengan lama waktu masing-masing penulisan.

Tapi tak elak lagi, Gelombang merupakan perayaan bagi mereka yang percaya bunga tidur punya makna tertentu. Sebaliknya, ia membawa kegelisahan bagi manusia kontemporer si super rasional.

Adakah ini Sebuah Mimpi yang Menjadi-jadi?

15 November 2014 masih seperti kemarin saja. Dee bertandang ke Jogja, aku berkesempatan meminta tanda tangannya, untuk kesemua koleksi buku karangannya yang kupunya. Banyak yang terperangah, termasuk Mba Dee sendiri. Seri Supernova awal yang kubawa terlampau klasik rupanya. Sedang bagiku, ini semacam momen yang sedikit membuat malu, karena fakta bahwa aku seorang penggemar layak dipertanyakan, sebab mengapa bisa baru kali ini punya kesempatan bertemu dan hunting tanda tangan Dee? Mereka yang punya koleksi buku lama alias penggemar lama pasti buku-bukunya sudah pada tertanda-tangani. Aku ini penggemar macam apa sih... Mungkin tipikal fansgirl yang itu ya: diam-diam hasrat ngefansnya terpupuk jua.

Aduh, apalah, aku ngga ngerti lagi. PENTING UDAH FOTO BARENG MBAK DEE!!! MAKASYYIIIIH, ALFA!! GARA-GARA MIMPIMU, MIMPIKU SEMAKIN MENJADI-JADI!! (??)
CIYEH TANDATANGANNNYA PAS HALAMAN KELL MONYONG MATI (TAPI NTAR DI GELOMBANG URIP MANING)!!!
Eh, bagi yang mau lelah-lelah baca hasil pembacaan empat seri sebelumnya, sila melompat ke (disclaimer: melelahkan!) http://pstparea.blogspot.com/2014/05/mabok-bersama-supernova.html
 
~uwis
 

No comments:

Post a Comment

enter what comes into your head.. -_-b