Tuesday, May 13, 2014

Mabok bersama Supernova


Dalam keremangan data penelitian, novel adalah sebuah sejuk yang mengalirkan cahaya. Cahaya kepalsuan, sudah pasti. Ia membawa kabar baik sebatas imajinasi-imajinasi yang terlantun. Keluar dari fiksi, diri kembali panik dengan keabsurdan subjek riset. Memang kadang kuburan tak harus kita hadapi ketika diri sudah sekarat. Segar bugar pun dipaksa mati (kutu).

Tapi jeram fiksi terlalu indah untuk ditinggalkan. Aku mewarnai kelamnya masa depan tulisan ilmiahku dengan pembacaan kembali terhadap Supernova, keempat-empatnya. Sekali lagi, KEEMPAT-EMPATNYA. Selain membaca, tentu mendiskusikannya. Sekali lagi, MENDISKUSIKANNYA - dengan diriku sendiri. Ini hanyalah bukti betapa putus asanya aku menerima berbagai penolakan dari calon nara sumber (*nangis darah*). Ingin bukti lain? Aku membeli dan langsung menghabiskan dua buku lain, satu "kitab" motivasi terbaru dari Coelho, sekitar 180-an halaman berjudul Manuskrip yang Ditemukan di Accra, dan novel berlatar belakang sejarah '65: Amba yang ternyata so so aja. Khusus untuk yang pertama aku sempat sangat berniat membuat ulasannya, teringat sebuah janji pada seorang teman beberapa bulan yang lalu. Dan tentu, kalimat barusan sangat membuktikan begitu parahnya atensiku pada penelitianku sendiri. Selamat, tanggal sidang Anda semakin menjauh, Jeki.. *nangis darah lagi*

Dan tentu, hal yang paling bijak adalah terjun sepenuhnya ke dalam kubangan yang paling kelam itu. Diri separo yang separo-separo hanya akan membawa sesal dalam hati. Lebih baik menjadi separo setotal-totalnya. Terlumat habis dalam fiksi. Menyelam dan menjadi penuh lekat oleh gulali imaji. Selamat datang dalam manisnya kisah sebuah pelarian.



Perjalanan Si Miring

Seperti yang pernah kubilang dalam tulisan-tulisan sebelumnya, membaca kembali adalah hal yang menyenangkan. Ia seperti sebuah napak tilas. Yang dulu termaknai sebagai a, kini bisa menjauh menjadi o. Sebagai pribadi yang narsis, tentu itu disebabkan karena "kualitas" diriku yang sudah jauh lebih "baik" daripada diri sebelumnya. Dengan diriku yang sekarang, aku yakin banyak hal yang belum nyantol di otak lamaku. Dan membaca kembali, dengan segala referensi yang sudah kudapat, apalagi ini seri Supernova, sekali lagi, APALAGI INI SERI SUPERNOVA, akan sangattttt menyenangkan. Nah, sudah terlihat kan, betapa sok sudah bereferensinya diriku??

Bila belum kelihatan, maka segera saja kuulas seri pertama: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh (KPBJ). Banyak hal yang menjadi catatan sedikit miring tentang novel ini. Dee terlihat sekali memang sedang "tergila-gila" tentang posmodernisme atau postrukturalisme, atau semacam itu, yang mencoba menembak tepat di jantung si positivis, juga si simplistis (catatan: ga hanya teori sosial ini yang mengkritik positivisme). Tergila-gilanya semacam baru melethek gitu, istilah bunga ia baru mekar, semacam masih dalam euforia atas teori yang menurut Dee (saat itu) sangat jitu dan "pas" untuk kediriannya. Euforia ini kentara tergambar dalam bahasan yang diulang-ulang oleh Dee. Ya, postrukturalisme itu. Dan tentu tak hanya itu, karena fisika kuantum menjadi hal yang sangat menggebu-gebu baginya. KPBJ merupakan appetizer, sebuah gerbang pembuka buat bahasan di seri Supernova selanjutnya. Ia membuka cakrawala pembaca agar tidak tergesa menerima a sebagai a, tapi sebagaimana a terbentuk, ia telah melalui proses yang berkelanjutan, dan karenanya akan sangat memungkinkan untuk menjadi tidak a lagi. Dualitas gelombang cahaya menggiring pembaca agar selalu mencamkan dalam pikirannya tentang relativitas. Orang saklek menemui ajalnya di novel ini (dan seri selanjutnya). KPBJ memberi sebuah landasan pikiran dan itu menjadi pijakan logika pikir keseluruhan ceritanya.

Yang menjadi catatan miring dalam KPBJ adalah ketiadaan falsifikasi atas teori yang dijabarkan Dee, seakan dengan berbagai macam hal yang ia katakan lewat tokoh-tokohnya, lewat si Bintang Jatuh, Ruben dan Dimas utamanya, segala tentang dunia ini dapat dijelaskan, dapat dilogiskan a b c d e f g - nya. Dengan demikian, Dee sendiri menjadi positivis, menyangkal teori relativitas dengan meniadakan segala hal di luar relativitas itu sendiri. Aku mafhum, karena begitulah kiranya keadaan seorang yang sedang meledak-ledak akan sesuatu. Catatan miring yang satu ini terinspirasi oleh kicauan Dee yang mencolek Leila S. Chudori sebagai pengulas KPBJ-nya di Majalah Tempo tahunan lalu. Aku sendiri mengikuti kicauan itu di tahun 2012. Tentang detail isi ulasan/kritik Tempo terhadap KPBJ, aku belum tertarik untuk membacanya. Hahaha. Lewat kicauan sesingkat seratus karakter itu, aku mengamini pendapat Chudori (walau bisa jadi secara detail meleset). Bisa di-track di Twitterku, mungkin ada di daftar favoritku.. *abaikan*

Miring kedua adalah tentang betapa Dee menggambarkan dirinya yang subjek poskolonial dalam seluruh ceritanya. Aku gegegemeeezzz banget deh menemukan banyak sekali metafora asing yang ia gunakan untuk menjelaskan target ceritanya. Misalnya ada Mork dan Orson waktu menggambarkan kisah si Rana kecil yang mengaji di Ibu Haji (heran, biasanya anak kecil ngajinya di TPQ, kan, dan di mana yang kalau ngaji dikasih makanan kecil? Jajan di warung iya.. pffftt). Kembali ke Mork dan Orson, itu tahun berapa sih si Rana sudah bisa ngeliat siaran TV internasional? Bilapun bisa, itupun kembali menegaskan betapa poskolonialnya kedirian Dee. Tahu kenapa? Karena dari semua tokoh yang ada, KPBJ tak mengusung satu pun stereotip kedirian makhluk "Indonesia". Memang diusung sih, misal lewat ibu Rana, atau sopir Dee, dan itu untuk digadang-gadangkan dengan tokoh-tokoh supernya: West is the Best and We're just a Loser. Wadehek. Dan yah, aku hanya ga suka kelakuan Dee yang menotalisir seakan yang tidak mengenal peri cinta bernama Puck ga punya luck sama sekali. Aku hanya gegemeeezzz kenapa orang sekeren Dee bisa setotal itu memuja Barat. Tapi sekali lagi, itu KPBJ, written years ago.

Miring selanjutnya aku pengen komentar tentang Faraday Cage, atau ruang Faraday (karena kata Ruben Faraday Cage sama sekali bukan kandang!). Intinya bila dua orang (lebih) yang secara psikologis dekat ditempatkan di ruang Faraday di mana di dalamnya tak satu pun gelombang dapat merambat, mereka akan tetap terhubung, merasakan satu sama lain, karena adanya sinyal nonlokal . Sinyal yang kata Ruben seringnya tidak disadari oleh otak (diri sadar). Biar mudah aku analogikan dengan yang disebut banyak orang sebagai firasat. Nah, anehnya pas Ferre sekarat ga karuan, tak diindikasikan Rana yang juga sekarat merasakan sekaratnya si Ferre. Memang sudut pandang ceritanya sedang mengisahkan hidup Ferre yang kemudian ketemu Bintang Jatuhnya, tapi dengan melepas begitu saja cerita tentang kesedihan yang juga dirasa Rana (karena merasa sekaratnya Ferre, karena mereka pernah deketttt bangett), sama saja dengan menggiring pembaca untuk menotalisir sebuah keadaan. Misal pada pembacaanku sebelumnya aku ngafu-ngafuin Rana setotal-totalnya. I mean, if she's not the bitch, then whoelse? Ya, ini memang novel, tapi kalo Dee setia dengan jalan postrukturalisnya, dengan relativitasnya, harusnya digambarkan meski sedikit (misal seperti di Partikel, di mana Koso dan Storm berusaha menghubungi Zarah sehabis tragedi "ketahuan" mereka. Selain miring satu ini, aku juga risih pada bagaimana Dee mencoba meyakinkan seakan gay life itu bersih dari birahi. Like there's reality that's not included. 

Setelah dipikir-pikir lagi, rupanya miring-miring ini mengerucut ke teks yang mendekonstruksi, just what Derrida ever told. Teks menyingkap apa yang tak ingin diniat-tuliskan oleh pengarangnya. Pokoknya the author is dead lah. Dee pengen bilang ia definitely relative, tapi dalam menggambarkan niatnya malah kepleset jadi totalisator (baca: pihak yang mentotalisir). Mungkin teks tersebut, KPBJ, pada akhirnya memperlihatkan bahwa ada hal di luar relativitas dan sekaligus di luar totalisir. Apaan dong? Kalo kata Coelho sih ya waktu ini, at present, kalo kata Laclau kejap-kejap waktu. Hanya fakta saat ini yang ada. Sebuah mengalami. Nah, kan, padahal bab I KPBJ sudah benar itu: "Yang Ada Hanyalah ADA", juga ada dibahas di beberapa diskusi Dhimas-Ruben tentang tak adanya masa lalu dan masa depan, sudah bener-bener postrukturalis, tapi dalam kisahnya berjalan sendiri menggoyahkan keutuhan si ADA, mengingatkan bahwa ada pun akan tiada dan ada ada yang baru yang akan hadir. Kiranya relativitas dan totalisir hanyalah hasil dari pikiran yang melogika.

Ah, sudah panjang banget. Tak apa deh, kapan lagi nulis sampai berbusa-busa. Dan, tentu, aku akan siap menerima dekonstruksi oleh teks yang sedang kutulis sendiri. Biarlah aku menjadi mediator, pribadi sok berisi yang pada akhirnya kerasukan kata-kata.

Meluruskan Si Non Lokal

Yang lurus dan meluruskan dari KPBJ tentu sangat berjibun. Kemampuan berlogika Dee patut kuacungi jempol. Setiap aku mendiskusikan suatu pemikiran di suatu halaman, dan lalu menghasilkan pemikiran selanjutnya, Dee lalu membahas apa yang barusan kupikirkan di beberapa halaman berikutnya. Membaca KPBJ adalah sebuah perjalanan berpikir. Aku diajak berkelana dengan alam diskusi fisika kuantum yang jujur aku menyukainya, apalagi ketambahan tubrukan dengan postrukturalis yang diusungnya. That's fantastic. Jadinya yang asyik adalah menyimak Ruben dan Dhimas berceloteh tentang obrolan fisika psikoanalisisnya. Misalnya ketika Dhimas dan Ruben sadar bila apa yang mereka tulis juga ada di kehidupan nyata, aku langsung saja berpikir berarti ada yang sedang berkisah bahwa ada dua orang gay yang sedang menulis kisah tentang KPBJ, cerita dalam cerita (langsung aku keinget Inception). Eh, terus Ruben dan Dimas sadar aja tuh di beberapa halaman berikutnya. Mereka membahasakannya sebagai "kehidupan dalam kehidupan". Dee sudah kepikiran lebih dahulu. She's so smart. Ga heran kalo GM bilang this mother of alien is witty.

Tak hanya obrolan tentang fisika psikoanalisis yang seru, juga obrolan Ruben dan Dhimas atas backstage dari kisah roman yang mereka tulis. Salah satu kesenangan bagi pembaca adalah mengetahui bagaimana suatu karakter tercipta, terinspirasi oleh apa, dan semacamnya. Dee sukses memberi kepuasan yang satu itu. Juga tentu, dengan dibahasnya kisah yang telah ditulis, berarti juga membantu pembaca yang lemah logikanya kayak saya untuk mengerti betul apa yang sebenarnya telah diceritakan. Soalnya terkadang bahasa novel itu terlalu tersirat. Dan, apa lagi yang lebih menyenangkan ketimbang menjadi tahu secara keseluruhan? Totally Fun!

Namun kesenangan yang sangat itu tak hanya berdasar pada pemaknaan pada alur kata-kata yang tertuang. Pembacaan ulang juga berarti memaknai ulang sebuah kenangan membaca sebelumnya. Berjibun memori atas momen pembacaan yang lama akan membanjiri. Seakan menjebakkan diri dalam ruang nostalgia. Kegiatan mengenang yang seperti ini menyenangkan, karena periode jeda pembacaan yang telah diambil mau tak mau telah membawa diri setingkat lebih dewasa. Istilahnya adalah mengenang yang dewasa. Yang ada hanyalah ada, dude.

Di awal pembacaan KPBJ, sempat aku jadi galau luar biasa. Sekujur tubuhku teringat kenangan membaca sebelumnya, di mana diri sedang "mencinta" habis-habisan, di mana saat itu setiap pembacaan didiskusikan dengan pihak yang sedang habis-habisan kucintai. HAPALAH KACAULAH! Kenangan tentang diskusi malam-malam habislah melumatku. Hatiku miris mengingat ia pernah membumbung begitu tinggi hingga tak ingat ada atap yang menahannya. Rasanya saja membumbung tinggi, nyatanya aku tak lebih tinggi dari tiang basket. Segitu doang. Slomprett. Tetap saja kenangan saat meluruhkan diri sepenuhnya dalam mencinta merengek-rengek. Akhirnya teringat lagi betapa matinya diriku saat yang kutaruhkan di meja judi kandas semua (analogi judi Zarah). Slompret bangetttttt.

Yang lalu mengejutkan, pagi keesokan hari setelah malam aku mulai membaca KPBJ itu, aku tahu-tahu dapat sms dari subjek itu. Sms pertama sejak hampir setahunan. HAHAHAHA. Ini serunya. Kubilang juga apa. Non lokal itu emang ada. Yang jadi masalah aku terlalu sensitif! Giliran orang lain ga ngerasa apa-apa meski sebenarnya merasa, aku mudah saja ngerti ada yang ga beres sama orang yang pernah/sedang terikat dekat secara psikologis denganku. Jujur "pelacuran" rasaku yang paling parah adalah pada subjek satu ini. Jadinya dulu sering banget kejadian macam Faraday Cage tercipta. Tapi aku doang yang sadar. Ceritanya bertepuk sebelas tangan kalik ya. HAHAHAHA. Yanasib deh. Saking begitu lacurnya rasaku dulu, aku hampir seratus persen yakin beberapa bulan lalu waktu subjek ini kecelakaan atau pasca kecelakaan, tubuhku merasakannya. Rasanya enegg. Sekitaran Isya' tiba-tiba aku jadi insecure pake bangettt dan ga bisa berhenti nangis sampai kelelahan. Kalau udah ga lelah, nangis lagi, seterusnya sampai ketiduran. Besoknya trus ga kenapa-kenapa. Mata bengkak tanpa alasan. Energi terkuras tanpa ampun. Bego banget.

Tak hanya subjek itu yang terjerat. Waktu pembacaan sebelumnya aku pernah ngobrol dengan dua temanku di Twitter tentang bifurkasi, chaos, order dan turbulensi. Obrolan penuh candaan itu lalu disinggung kembali di komentar sebuah foto di Facebook beberapa hari setelahnya. Di hari yang sama ketika aku dapat sms pertama yang kuceritakan sebelumnya, tak disangka-sangka salah satu oknum nyasar di komentar foto di Facebook itu lagi. Aku terheran-heran ga karuan, sekaligus ketawa lebar, soalnya pas banget aku lagi baca tentang yang non lokal. Damn, life seems so perfect (in imagination)! Hahaha!! Seru banget aliran non lokal yang ditimbulkan oleh KPBJ buatku!!

Tapi cerita kegalauan belum usai. Akhirnya aku "berhubungan" lagi dengan si subjek. Chit-chat semacam itu lah, menggenapi curiosity masing-masing. Wadehek lah. Tapi akhirnya kembali aku ingat aku adalah diri yang kalah, dan tentu beban berat ditanggung oleh saya, soalnya kenangan-kenangan menyukai itu bikin diri panas adem lagi. Kamfret. Belum lagi aku yang sok paham kalo diriku cukup sensitif merasa. Juga belum lagi kisah Ferre yang habis-habisan juga. Kombinasi yang mematikan (meski mematikan tetap asik, kan pengalaman - proses). Tapi kemudian KPBJ membawa seutas senyum kembali. Catatan akhir terpenting yang tak pernah nyantol di otakku sebelumnya. Apa itu? KOEVOLUSI - kemampuan mengubah konteks: bila ingin memandang diri sebagai korban, ya silakan - tapi kan ada sisi pandang yang lainnya? Galauku pun dibungkam habis-habisan, dan kuputus kembali tali harapan dengan si subjek. Time does heal, in certain terms.. :)

Aku Mengenal Berjalan

Membaca kembali Bodhi, tak banyak gambaran berubah, namun ada imajinasi yang menjadi semakin mantab. Kukunyah saja galur-galur fiksi yang Dee sediakan. Meski begitu aku mengingat sudah lampau sekali ketika aku terakhir membaca Akar. Bukuku cetakan kedua, dengan sampul bolong di tengah yang kata tim percetakannnya fancy habis itu raib entah kesasar ke mana. Aku bersumpah tak mau baca lagi sebelum dapat versi yang sama. Akhirnya ketika mencarikan buku untuk temanku di google, aku malah terjerumus pada halaman yang menjual Supernova versi lama. Syujud syukur rasanya ketika kembali tanganku menyentuh si buku bolong. Aku peluk dia erat-erat, mengandai sedang memeluk Bodhi. Ya, Bodhiku.. *akut*

Yang barusan juga merupakan latar belakang mengapa akhirnya aku membaca keempat seri Supernova. Selain Akar (dengan tulisan episode 2.1, seperti halnya versi Petir yang 2.2), aku juga dapat KPBJ versi keluaran lama (sampul biru berirama milenium, seperti yang selama ini ada di kamarku tapi bukan punyaku). Dua-duanya asli, separo harga cetakan terbaru, dan sumpah aku terharu banget dapat ketemu Bodhi lagi.. :')

Memang tak banyak gambaran adegan yang berubah, tapi sekalinya ada yang berubah, sifatnya total-totalan. Aku telah dengan bodoh menangkap bila Bodhi berperawakan sangar, garang, besar, dan tipikal anak Punk yang powerful. Mungkin dulu aku terlalu menganalogikan kata kuat (Bodhi kan kuat banget, ga mati-mati pula) dengan besar. Di benakku dulu Bodhi sebesar dan bergaya seperti vokalis band Netral, siapa pun namanya. Maka otomatis deh kebodohan berpikir itu kini jungkir balik. Pelan-pelan kubayangkan ulang. Tapi bayang-bayang vokalis Netral pakai bandana dengan kepala pelontos masih sering menghantui. Ya, pelan-pelan deh. Belum benar-benar sempurna gambaranku atas Bodhi, aku sudah harus kembali meralatnya ketika baca Zarah kembali (dulu pas baca Partikel pertama kali luput banget masalah ini). Di seri Partikel Bodhi adalah sosok androgini. Mati lah aku. Kutepok jidat sembari membayangkan Anne Hathway dengan potongan rambut super cepaknya (tapi kali ini gundul), juga kontestan American Voice season 6 yang namanya Kristen, atau kuingat-ingat lagi wajahku ketika berpotongan rambut cepak, tapi segera juga aku ingat wajahku tak sebersih Bodhi si vegetarian. Penggambaran di Partikel mulai membantu, walau ketika membayangkan ulang adegan di Akar aku masih memakai gambaran Bodhi kurus yang "kumuh" yang kadang berbaur dengan muka dan body vokalisnya Netral. Memberantas kebodohan emang ga gampang.

Pembacaan kali ini aku tak merasa seseru dua pembacaan sebelumnya. Serasa standar, mungkin karena aku ingat sebagian besar plot dan dialognya. Tapi akhirnya aku sadar banyak hal dalam novel ini yang membentukku. Aku senang petualangan alam, salah satunya terinspirasi lumayan dini oleh perantauan Bodhi. Lalu ada tiga halaman di mana Bong berbicara tentang kapitalisme, dalam ranah ngafu-ngafuin tentunya. Dari sini pula idealisme dasar sok anti kapitalismeku terbentuk. Kan pembacaan pertamaku ketika aku di SMA, jadi alur novel ini memang benar-benar mengalir dan lumayan bisa diserap bocah lambat berpikir sepertiku.

Aku kini juga menemui adanya prinsip Rhizoma milik Punk (-nya Bong). Bila KPBJ banyak mengumbar jaring laba-laba, Akar pakai Rhizoma. Dee juga mengenal Deluze. Senangnya.. :D

Ada beberapa flaws tentu. Tapi itu masalah teknis penulisan saja, tapi demi menjaga reputasi diriku, mending aku diam (daripada dibilang sok). Hahahaha. Walau aku tak sebahagia seperti ketika dua pembacaan Akar sebelumnya, aku tetap tunduk pada Akar. Aku sadar aku tetap ingin menjadi seperti Bodhi, dengan model kearifan yang ia miliki, dengan beban tak terlihat yang selalu berat. Sensitifitas seorang pengamat..

Elektra Si Pemenang

Tapi tentu dalam pembacaan kali ini, Elektra jawaranya. Walau demikian Bodhi tetap di hati, karena ia cinta pertamaku (bayangkan, dia tak pernah tak gundul lo!!). Petir menghibur setengah mati. Diri poskolonial Dee, mulai luntur di sini (atau sengaja dilunturkan karena dua seri sebelumnya sangat penuh oleh barat dan barat?). Aku suka karena Elektra digambarkan seperti cewek next door aja. Kerasa dekett banget dengan kehidupan sehari-hari. Bahasanya enteng, dengan cerita yang oke. Oke banget bahkan. Tapi herannya mengapa dulu (pembacaan sebelumnya) aku tidak menobatkan Petir sebagai yang the best dan malah tetap tunduk pada Bodhi? Dalam pembacaan kali ini aku bahkan merasa ini pembacaan pertamaku. Makanya aku merasa terhibur banget. Bahkan membaca kisah Elektra ini aku seakan membaca komik yang bikin terpingkal-pingkal. Sedikit-sedikit aku pasti terbahak. Lucu banget. Apa karena dialog dalam Akar terlalu klise sehingga mudah ditebak, sedang jalur pikiran Elektra adalah maze seorang yang lugu. Aduh, Etraaaa... kenapa dalam bayanganku kamu enggak Chinese?? *gagal membayang*

Aku teringat adegan yang lucu banget waktu Betsye menjelaskan ke Etra nama yang cool buat nick name di chat. Betsye kan bilang dia suka pakai nama samaran Nadya, Nathalie, Natasya karena kata cowonya yang nama depannya dari 'Na' biasanya cakep-cakep. Etra langsung nyamber: "Nanang? Nasrul? Nano? Na-sgor?" *rofl*. Bisa jadi Dee nulis enteng banget begini karena sama-sama perempuannya, yang menjadikan si Etra kerasa hidup banget, nyata banget. Apalah itu, aku terhibur banget baca Petir.

Tentunya pemikiran postrukturalis masih mengalir sampe buku ketiga ini. Kritikannya ada, tapi 'ada deeh..' (meniru Ibu Sati - padahal males menjelaskan). Sampai membaca kisah Elektra ini, aku lalu dapat menangkap betapa fiksi apa yang Dee coba ceritakan. Maksudku tak semua orang bisa jadi Bodhi, jadi Elektra, atau bahkan jadi Supernova. Ada dialog-dialog yang menegaskan betapa itu semua given. Akhirnya adalah mimpi bagi orang-orang biasa bila berandai memiliki kemampuan seperti tokoh-tokoh Dee. Aku sedikit ga suka dengan kenyataan ini, karena merasa rendah diri menjadi sosok yang tidak "spesial" seperti Petir dan Akar (dan Partikel dan lainnya). Aku selalu bahagia ketika membaca Coelho, karena ia tak mengumbar the chosen atau semacamnya. While Dee always thinks the special one has the super power, Coelho invites everyone, EVERYONE, to be special. Semua makhluk punya hak buat jadi spesial, kiranya begitu. Dan Coelho dengan berbagai caranya menunjukkan jalan menuju mimpi tersebut, mimpi yang aku belum mau menyebutnya sebagai utopia.

Pada bagian yang menceritakan Toni mengasah orang-orang dalam komunitasnya yang terasa punya kemampuan untuk menjadi programmer, graphic designer, dan mengerjakan banyak proyek bareng-bareng dengannya, aku teringat sesuatu. Dulu waktu bukaan IM, aku mudah saja menulis jawaban ingin mengajar gratis desain web ke anak-anak untuk pertanyaan rencana setelah selesai penempatan. Jangan-jangan kisah Mpret ini juga mengilhami ide sok pahlawan itu? Rupanya Petir pun menyusun kedirian hidupku (note: semua hal yang pernah kualami pada faktanya membangun "keutuhan"-ku). Kini masihkah aku ingin jadi sok heroik seperti itu? Alahmak, bahkan membuat web pun aku sudah lupa caranya!! (baca: dulu ga bisa sekarang lupa).

Akhirnya Alien juga...

Karena sudah begitu panjang, aku akan berusaha sekuat tenaga untuk ringkas membahas petualangan membaca kembali Zarah. Jika pembacaan seri lainnya kali ini adalah untuk ketiga kalinya, maka untuk Partikel adalah kali kedua. Seperti biasa, pembacaan pertama banyak melesetnya, dan untung banget sekarang aku sudah mulai terbiasa dengan bacaan (sombong lagi), jadi mulai paham apa yang Dee coba utarakan.

Partikel, well, brutal banget. Aku kira pendekatan tiga sebelumnya mengarah pada kedalaman diri secara spiritual yang berbau-bau divine di otak kebanyakan orang. Teori-teori ketuhanan yang masih itu-itu saja. Aku kira akan senada dengan yang diutarakan Coelho, Satu yang tunggal sebagai Tuhan. Meleset banget. Di Partikel, Dee benar-benar menembus dimensi bumi. Spiritual yang selama ini digambarkan Dee seakan mengarah pada spiritual yang satu itu: alien. Damn, brutal banget.

Runtuhlah pemahamanku tentang kedalaman pribadi untuk menuju Keutuhan. Runtuhlah pengertianku tentang Keutuhan itu sendiri. Selama ini aku pikir yang semacam Kebathinan dan sebagainya itu mengantar diri kita ke step yang semakin tinggi. Ga tahunya kalau mengerti jin, benda-benda "halus" yang macam itu (bukan Tuhan dan malaikat), rupanya stepnya malah mundur. Mundur coba! Aku bilang begini karena pernah aku diberitahu temanku yang bisa melihat "begituan", ternyata "mereka-mereka" itu kayak dua dimensi. Aduh, aku ga bisa membayangkan visual pastinya. Tapi kalau cuma dua dimensi, apa bedanya sama buku gambar? Hahaha. Tapi di Al-Qur'an pernah juga dibilang kita (manusia) itu levelnya lebih tinggi ketimbang jin, jadi make sense kalo mereka (jin) itu dua dimensi. Sedang dalam Supernova, kemampuan-kemampuan mendengar yang tak terdengar, merasa yang tak diri sadar merasa, BUKAN saja buat merasa hal ghaib yang aku jelaskan sebelumnya. Partikel kemudian meruncingkan bahasan. DIMENSI LIMA!!! Aduh, gilak!!! Kupikir dengan mendekati dimensi jin, sudah punya kemampuan buat dekat dengan Keutuhan. Lihatlah, ternyata ada dimensi lima. Bukannya berarti juga ada dimensi enam, tujuh, lapan.. Si Utuh itu ada di dimensi berapa??? Gimana caranya buat bisa lebur di segala dimensi, sedang mengerti dimensi yang lebih rendah aja kita sudah keteteran, sedang mencoba transisi ke dimensi lima aja malah jadi "babak belur" kaya Firas. Aduh, susahnya!!!!

Dimensi manusia adalah dimensi tiga. Pak Simon diberi tahu sama pemimpin kawanan alien yang pernah menculiknya: dalam dimensi tiga polaritas terjadi sempurna - aspek materi dan gelombang, aspek fisik dan batin, logika dan emosi. Semua yang serba setengah-setengah ini bikin manusia jadi makhluk yang selalu punya dua ekstrem (maka ga heran kalau manusia cenderung hitam-putih). Masih dari sumber yang sama, butuh keberanian untuk terlahir dan hidup di Bumi dan dimensi tiga. Soalnya manusia selalu digadang-gadang oleh emosi, perasaan, dan keterbatasan fisik. Si Pemimpin bilang rasnya membantu manusia untuk melakukan transisi dimensi. Buat apa, itu tak dijelaskan. Transisi itu dimungkinkan bila ada intervensi dari mereka. Ras dari alien itu tak dijelaskan dari dimensi mana, tapi Si Pemimpin bilang semakin tinggi dimensi semakin pudar aspek materi. Apaaaaaa iniiiiii....

Seperti melayang membayangkan segala hal. Apalagi waktu Zarah cerita versi Adam Hawa yang diceritakan Firas, yang so alien. Bahwa manusia adalah hibrida dari homo erectus, makhluk gigantis ras Nefilim dari planet Nibiru, dan makhluk ekstraterestrial dari Sirius. Buah kuldinya adalah pengetahuan tentang reproduksi. Edin adalah tempat di Sirius di mana hibrida berlangsung. Habis "makan" buah kuldi, manusia dipulangkan ke Bumi, berkembang biak sendiri. Nah, aku jadi kepikiran kalau betul demikian, berarti surga itu di Sirius, dan Tuhan itu adalah penduduk Sirius yang kemungkinan hidup di dimensi seratus (kalik). Meeen, konsep surga neraka mati padang mahsyar buyarrr semuaaaaa!!!!

Itu kalau aku milih percaya. Tapi kan aku mudah kebawa informasi baru. Beginilah ga enaknya jadi pribadi yang membuka segala kemungkinan. Gyaaahhhhh!!!! Masalah alien ini mengganggu pikiranku hingga dalam seminggu setelah pembacaan aku sering bermimpi (dalam tidurku) didatangin alien, berkomunikasi gaya telepati. Sumpah pret banget.

Aku harus menghapus kemungkinan Tuhan adalah mereka yang di Planet Sirius. Kini biar aku membahas Supernovanya. Dari Partikel aku jadi tahu betapa semua yang Dee gambarkan mengerucut dalam usaha intervensi makhluk ekstraterestrial ke Bumi, dalam kehidupan manusia. Lalu ketika adegan Petir dan Akar bersalaman, dan dua-duanya jadi ingat "siapa" diri mereka sebenarnya, aku langsung terhenyak. Ini semacam usaha Dee menggambarkan pertanyaan besar yang selama ini mengganggu hidupnya: "apakah misiku dilahirkan di bumi?", seakan semua kelahiran membawa misi (emang enggak?). Terjemahan (atas pertanyaan tersebut) yang tampak dalam Supernova adalah bahwa Etra, Bodhi, Zarah, Diva, dan jika dipikir-pikir akhirnya KITA SEMUA, memiliki misi tertentu dilahirkan di dunia. Dan bila dianalisis dari tokoh di Supernova, misi tersebut diberikan oleh makhluk ekstraterestrial. Akhirnya kembali dongeng dari Planet Sirius itu menjadi masuk akal untuk keseluruhan konteks Supernova. Pak Simon ditanami sesuatu dalam otaknya oleh alien. Bisa jadi ibu Diva, ibu Zarah, ibu Bodhi, ibu Elektra, dan ibu Alfa, sudah ditanami "sesuatu" ketika mereka hamil. Dan ketika sudah lahir, mereka bukan manusia biasa. Mereka mengingatkan manusia lain (yang biasa) untuk ingat jati diri mereka. Buat apa? Mudah saja menurutku. Soalnya kita sudah kejauhan. Seperti yang Firas katakan, kita sudah sangat sombong jadi makhluk. Kita lupa akan kedirian kita. Sepertinya Dee menulis kisah berbau Avatar ini untuk menyadarkan kemanusiaan.

Dan avatar itu sendiri merupakan agen si ekstraterestrial. Akan logis bila disatu-jalurkan dengan apa yang Pak Simon bilang: intervensi untuk transisi dimensi. Kehidupan sesungguhnya kah itu? Bila iya akhirnya pertanyaan terbesarku pun menyeruak: berarti nonsense banget dong kehidupan manusia dari sejak jaman nomad hingga jaman teknologi macam sekarang? Bila selama ini kita berevolusi untuk menjadi lupa, lalu untuk apa kesegala proses tersebut? Lalu mengapa Si Pemimpin alien yang menculik Pak Simon seakan mengisyaratkan bahwa transisi ke dimensi yang lebih tinggi penting? Untuk apa jika itu berarti mengenyahkan proses yang selama ini telah manusia raih? Apa "hanya" untuk memberitahukan bahwa jalan yang telah kita (manusia - ciyeh kita) tempuh salah adanya, untuk mengingatkan "jati diri" kita, untuk misi kita? Apa jangan-jangan... karena... usia Bumi yang sebentar lagi usai? Dan tunggu, artinya makhluk ekstraterestrial pun berjibun jenisnya kan? Dan, oh! Bisa jadi tokoh-tokoh Dee nantinya akan tergabung dalam perang bintang, kayak di film-film alien itu!!

Apa sih?

Tapi memang benar yang Firas katakan. Lupanya kita sudah keterlaluan. Sudah sangat sombong banget kita sebagai manusia. Kita ga pernah ingat siapa yang memberi kita kehidupan. Kita meremehkan makhluk-makhluk primer pembuat kehidupan di bumi (atau jangan-jangan karena pemuka agama tak pernah membicarakan kehidupan makhluk-makhluk ini ketika bercerita tentang proses adanya kehidupan?). Kita makhluk sok kuat yang bersel milyaran tapi sebuah mati jadi momok setiap hari. Makhluk primer yang bersel sedikit malah bisa bertahan dalam berbagai kondisi, dan terima kasih pada mereka yang selalu memulai kehidupan. Kita tak pernah ingat bahwa tanpa mereka kita ini tiada. Ya, ini aku sok-sokkan aja sih kebanyakan nonton teori pembentukan Bumi dan kehidupan di dalamnya. Tapi semuanya kan harus dijelaskan, masa tahu-tahu sudah ada aja Bumi dengan penuh pohonnya dan la la la. Lagian kan Semesta dibentuk selama beberapa hari (6 kalik ya?). Ada proses yang banyak manusia lupa (aku aja baru akhir-akhir ini mau belajar). Dan ya, memang.. pada akhirnya terlihat kini manusia sedang merusak habitatnya sendiri. Dia lupa bahwa tanpa Semesta ia tak 'kan pernah ada.

Terlihat banget ya aku terlalu jatuh pada fiksi? Tapi semua itu jadi logis ketika kamu nonton series The Ancient Alien atau The Big History, atau membaca hal-hal sejenis (jurnal Firas contohnya). Tapi kembali lagi pada notion pertama: aku emang mudah jatuh pada sebuah cerita. Audiens aktif memang nyata ada, tapi jangan pernah lupa bahwa yang pasif pun bukan berarti musnah. Aku salah satu yang pasif, tapi aku sadar aku pasif. Yang terakhir ini hanya upaya distingsi. Yang pasti aku bangga akan kesadaran tersebut, dan barusan adalah upaya apologiku saja.. Hahaha.

Aku inginnya menyelesaikan bahasan ini. Tapi karena masih gatal ingin menulis yang berkaitan dengan pembentukan Bumi, aku perpanjang lagi. Mati. Frekuensi dan gelombang. Sejarahnya adalah ledakan sebuah bintang (yang pasti lebih besar dari si matahari), kita sebut bintang A. Ledakan ini biasa disebut Supernova. Mungkin memang dari sini Dee memulai segalanya. Dari ledakan A tersebutlah segala gelombang yang kita kenal muncul. Akhirnya aku yakin yang selingkup Bimasakti pasti bahasa gelombangnya sama, karena dari jenis ledakan yang sama. Mari menyebutnya sebagai dimensi kita. Namun ledakan tersebut juga mengandung komponen milik bintang sebelumnya, yang lebih primer (aku tak yakin primer adalah istilah yang tepat, tapi aku tak bisa ingat istilah yang lebih benar). Kita sebut bintang yang membentuk galaksi bintang A sebagai bintang B. Komponen primer tersebut bisa jadi merupakan hasil dari ledakan bintang B yang membentuk galaksi bintang A (yang akhirnya bintang A meledak membentuk Bimasakti). Nah, komponen ini logisnya memiliki frekuensi yang tak bisa ditangkap oleh mereka yang terbentuk oleh ledakan A. Maka ini kusebut sebagai dimensi lain. Kita tak secara natural bisa menangkapnya. Itu baru turunan dua bintang, lha bintang B hasil ledakan bintang apa? Bintang apa hasil ledakan bintang apa? apa dan apa? Maka logis kalau makhluk ekstraterestrial pun kita buta. Akhirnya ini seperti "bahasa", kanal berkomunikasi. Dan mari kita mengandai jumlahnya milyaran Supernova. Eh, wow..

Lalu tentang dimensi yang lebih tinggi dan mengapa ia terjadi, aku tak bisa sok berteori di sini. Bisa jadi karena jenis ledakan yang berbeda, bisa jadi karena banyak hal yang tak masuk kapasitasku karena aku manusia, atau apa lah ya
(apologi lagi). Tapi kembali ke seri Supernova, Dee menjelaskan selalu ada komponen dasar yang menyatukan kita semua. Dan dari situlah mungkin kanal utama untuk komunikasi per-dimensi. Intinya kita semua satu. Bumi hanyalah sebagian dari kesatuan tersebut. Ternyata intinya sama Keutuhan, namun dengan penjabaran yang lebih detail tentang yang lain daripada yang diutarakan Coelho.

Partikel buatku sangat cerdas secara teknis. Susah juga ingin menemukan celah kritik di bagian ini. Hehehe. Ampuh banget si Dee. Cuma mungkin satu sih, yaitu bayangan konteks waktu Zarah 23 tahun susah banget lepas dari zaman semburat teknologi masa kini, di mana Partikel ditulis. Kerasa banget si Zarah sebagai manusia super canggih dan gak "sekuper" Elektra waktu dia "ditemukan". Mungkin karena Zarah hidup di Inggris ya, jadi seperti Inggris milenium itu ya Indonesianya sekarang. Ya, mungkin. Yang pasti kualitas menulis Dee terlihat sudah jauh melesatttt dari penulisan KPBJ. Keren banget. Penggambaran tokohnya jelas, dan detail dalam mengadegankan emosi. Tak heran dia menembus hampir lima ratus. Aku rasa Gelombang esok minimal setebal Partikel. Yang barusan lebih bernada harapan ketimbang ramalan.
***

Akhirnya paragraf terakhir. Fiuuuhhh.. Dari pembacaan keempat Supernova, aku menangkap kesan anti sisterhood-nya Dee. Lihat, ada Elektra yang anti Watti, atau sebaliknya. Lalu ada Diva yang tak punya teman dekat perempuan, bahkan sangat ogah sama teman-teman modelnya. Ada Zarah yang musuhan terus sama Ibunya, dan akhirnya juga sama Koso. Ketiganya eventually berjaya dalam circle maskulinitas. See, Diva dikerumuni laki-laki. Etra sukses habis dengan Elektra Pop-nya, "ditolong" Mpret. Zarah berada di wild photography. Bukan masuk ke ranah maskulinitasnya yang kumasalahkan, tapi apakah tokoh perempuan tersebut akan bertahan bila mereka dalam circle perempuan? Dan apa yang salah dengan bekerja sama dengan sesama perempuan? Bila pertanyaannya sampai sini, kok jadinya Dee memandang sebelah mata ribuan perempuan lain? Sayang sekali. Lalu yang aku tak suka adalah penggambaran sosok perempuan yang "perfek" itu (kecuali Elektra). Mulai dari Diva, Star, lalu Zarah. Sangat disayangkan yang lagi-lagi bawa aspek fisik. Eneg saya. Makanya pas baca Elektra sungguh bukan main leganya. Ini mengingatkanku pada Amba. Di situ digambarkan juga bagaimana tokoh utama perempuannya selalu membuat tunduk laki-laki. Halahmak, aku harus mulai membaca novel-novel yang ditulis pria deh.. Jangan-jangan mereka menulisnya lebih fair
? Ya kalau ga malah lebih parah sih.. Hahaha. Sudah, saya pamit!!! *mabok*
 

2 comments:

  1. saya tidak membaca sepenuhnya tulisan ini, namun saya menaruh perhatian lebih pada gambar-gambar sampul halaman supernova..klasik.

    ReplyDelete

enter what comes into your head.. -_-b